10 Kebiasaan 'Aneh' pada Masa Lalu yang Kini Tak Berlaku

Oleh Nurul Basmalah pada 29 Sep 2016, 07:10 WIB
Diperbarui 29 Sep 2016, 07:10 WIB
mumi
Perbesar
Seorang satpam ditangkap karena berhubungan seksual dengan mumi berusia 2.500 tahun properti museum

Liputan6.com, Jakarta - Kebudayaan merupakan sebuah nilai atau kebiasaan yang menjadi jati diri sebuah komunitas atau kelompok orang. Seiring dengan berjalannya waktu dan pergantian abad, kebiasaan itu berkembang serta berubah.

Perubahan itu merupakan sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Adanya pergantian zaman dan kemajuan teknologi membuat beberapa komunitas 'memodernisasikan' budaya mereka.

Namun hal itu tidak mengartikan bahwa kebudayaan itu hilang sepenuhnya. Kebiasaan itu hanya diganti atau disederhanakan, menjadi sesuatu yang lebih dapat diterima masyarakat sesuai zamannya.

Itu mengapa praktik yang dilakukan oleh nenek moyang pada zaman dahulu kala, sulit dimengerti bagi kebanyakan orang masa ini.

Seperti rasa sakit yang harus dirasakan saat menjalani ritual, risiko tinggi dan berbahaya, serta tidak masuk akal.

Seperti yang dikutip dari Ancient-origins.net, Rabu (28/9/2016), berikut 10 contoh kebiasaan kuno yang tidak berkembang di masa sekarang.

1. Pengikatan Kaki (foot binding)

Pengikatan Kaki (pinterest/Ancient-origiens.net)

Tidak ada yang tahu pasti kapan dan di mana asal mula kebudayaan kuno satu ini. Namun ada beberapa sumber yang mengatakan bahwa, tradisi mengikat kaki diduga berasal dari zaman Dinasti Shang (1700-1027 SM).

Konon kebiasaan itu dikabarkan bermula dari Permaisuri Shang yang memiliki kelainan bentuk pada kakinya. Kelainan tersebut membuat dia tidak bisa meletakkan kakinya pada suatu bidang datar.

Oleh karena itu sang permaisuri memerintahkan agar semua perempuan di wilayahnya wajib mengikat kaki mereka.

Namun, menurut catatan sejarah dari Dinasti Song (960-1279 M), kebiasaan mengikat kaki tersebut bermula pada masa kejayaan Li Yu -- penguasa China pada 961-975M. Kebudayaan itu menyebar luas.

Hingga pada abad ke-16, setiap wanita Dinasti Qing yang ingin menikah wajib mengikat kaki mereka terlebih dahulu.

2. Gajah 'Algojo'

Gajah 'Algojo' (pinterest/ancient-origins.net)

Dulu, beberapa komunitas di dunia menggunakan gajah sebagai 'algojo' dan melakukan eksekusi mati serta hukuman. Metode hukuman ini dulunya dilakukan di Barat.

Namun lebih sering digunakan di wilayah Asia Tenggara dan Asia Selatan, terutama India. Jenis hukuman yang juga dikenal dengan sebutan Gunga rao, telah digunakan di negara itu sejak abad pertengahan.

Gunga Rao populer pada Abad ke-19. Hukuman kejam itu dihentikan ketika Inggris mulai menjajah India.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bunuh Diri Para Samurai

3. Seppuku

Seppuku (pinterest/ancient-origins.net)

Seppuku merupakan tradisi 'mensucikan' nama baik yang populer di kalangan Samurai Jepang.

Seppuku adalah praktik membunuh diri sendiri dengan menusuk perut hingga mengeluarkan isinya, yang dilakukan untuk mengembalikan nama baik.

Salah satu praktik Seppuku terkenal yang pernah dilakukan adalah kematian samurai Minamoto Tametomo dan penyair Minamoto Yorimasa pada akhir Abad ke-12.

Praktik Seppuku dilakukan dengan mengembangkan kasur putih yang dikelilingi oleh saksi mata. Samurai yang akan melaksanakan Seppuku akan duduk di tengah-tengah dengan mengenakan kimono putih.

Di sebelahnya duduk samurai 'kedua' yang akan memenggal nyawa pelaku Seppuku, setelah dia selesai menyayat perutnya.

Hal itu dilakukan agar sang samurai tidak merasakan sakit terlalu lama.

4. Hak Tinggi untuk Pria

Hak Tinggi untuk Pria (pinterest/ancient-origins.net)

Hak tinggi merupakan salah satu tren sepatu yang sangat populer di kalangan wanita. Namun ternyata pada zaman dulu mode sepatu itu juga digunakan oleh pria.

Tidak ada yang tahu pasti kapan hak tinggi pertama kali diciptakan. Tapi jenis sepatu itu digunakan oleh aktor Yunani kuno. Sepatu yang disebut 'kothorni' itu digunakan dari tahun 200 Sebelum Masehi.

Awalnya sepatu itu menggunakan sumbat kayu sebagai haknya. Perbedaan tinggi hak sepatu seseorang kala itu menentukan status sosial mereka di kalangan masyarakat.

Sepatu hak tinggi juga populer digunakan oleh pria dan wanita Eropa pada abad pertengahan. Alas kaki yang mereka gunakan pada zaman itu dikenal dengan sebutan pattens.

Alas hak sepatu atau pattens digunakan untuk melindungi sepatu dari jalanan yang becek dan berlumpur.

Selain untuk melindungi sepatu dari lumpur, pattens juga digunakan untuk menjaga keawetan sepatu yang kala itu banyak terbuat dari bahan mahal dan rapuh.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Tumbal Manusia

5. Menghitamkan Gigi

Menghitamkan Gigi (pinterest/ancient-origins.net)

Kebudayaan menghitamkan gigi atau Ohaguro sangat populer di Jepang kuno. Praktik budaya itu diaplikasikan kepada (umumnya) para wanita muda Negeri Sakura.

Menghitamkan gigi diartikan sebagai lambang kecantikan dan kematangan seksual seorang wanita kala itu.

6. Tumbal Manusia

Tumbal Manusia

Menjadikan manusia sebagai persembahan atau tumbal merupakan praktik yang banyak dilakukan oleh komunitas manusia pada zaman kuno. Terutama di China dan Mesir.

Kuburan penguasa dua negara itu dilubangi. Tempat itu berisikan banyak kerangka manusia, yang dipercaya arwahnya akan menjadi pelayan di kehidupan sesudah kematian.

Tidak hanya di China dan Mesir, potongan-potongan kerangka manusia yang dijadikan tumbal dalam ritual juga dapat ditemukan di Eropa dan Inggris.

Sementara itu pengorbanan bagi suku Maya dan Aztek dilakukan dengan meletakkan jantung yang masih berdetak tumbal, di atas altar kuil.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kosmetik Kotoran Buaya

7. Kosmetik Kotoran Buaya

Riasan Kotoran Buaya (pinterest/ancient-origins.net)

Bangsa Romawi menggunakan riasan wajah untuk mempertahankan kecantikan alami yang dimiliki seorang wanita. Bagi masyarakat Romawi, kecantikan berarti memiliki wajah dan kulit yang putih tanpa ada corak warna-warni pada 'kanvasnya'.

Semakin putih seorang wanita maka akan semakin dianggap cantik perempuan itu. Hal tersebut membuktikan kepada penduduk bahwa dia jarang keluar rumah dan cukup kaya untuk memiliki pelayan.

Namun, karena kulit orang Romawi pada dasarnya berwarna kuning langsat, bukannya putih gading, mereka tetap menggunakan beberapa bahan pemutih kulit.

Seperti menggunakan bubuk kapur, kotoran buaya, dan timah putih untuk memutihkan seluruh wajah mereka.

8. Kebiri Kasim

Pengebirian biksu (pinterest/ancient-origins.net)

Pada zaman China kuno -- hingga Dinasti Sui -- kebiri merupakan salah satu dari Lima Hukuman -- serangkaian hukuman fisik yang diberlakukan dalam hukum pidana.

Pengebirian juga salah satu syarat untuk mendapatkan pekerjaan di layanan kekaisaran. Pada masa kejayaan Dinasti Han, para kasim akan berdatangan ke istana, untuk mendapatkan kesempatan mengabdi di dalam kekaisaran.

Di sana mereka juga dapat mengumpulkan kekuatan politik dalam jumlah yang besar. Kasim tidak pernah dianggap menjadi sebuah ancaman bagi penguasa.

Hal tersebut karena orang yang telah dikebiri tidak akan bisa memiliki anak atau mewariskan kekuasaan pada keturunannya. Oleh karena itu, kaisar yang memiliki banyak selir di Kota Terlarang, tidak khawatir selirnya akan dihamili oleh pria lain selain dirinya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Harem

9. Harem

Harem (pinterest/ancient-origins.net)

Kata Harem berasal dari Bahasa Arab haram yang berarti tempat terlarang. Harem berarti ruang lingkup rumah tangga yang terdiri dari sultan, ibu, adik perempuan, istri, anak, dan selir, serta terlarang bagi laki-laki selain suami atau ayah.

Kehidupan harem sangat tertutup. Tidak ada yang tahu pasti seperti apa kehidupan di dalamnya. Pengamat biasanya hanya menerka-nerka.

Namun menurut catatan sejarah, pada zaman Kekaisaran Ottoman, harem berperan sebagai tempat pelatihan dan pendidikan calon istri raja.

10. Membuat Diri Sendiri Jadi Mumi

Membuat Diri Sendiri Jadi Mumi (Pinterest/ancient-origins.net)

Membuat diri sendiri menjadi mumi populer dilakukan di kalangan biksu di China dan Jepang. Kala itu mereka percaya bahwa dengan kondisi tubuh yang utuh, arwah mereka dapat mencapai dunia lain dengan selamat.

Oleh karena itu banyak biksu yang berlatih keras untuk membuat tubuh mereka berubah menjadi mumi dengan melalui proses yang rumit dan sulit.

Lanjutkan Membaca ↓