Studi: Leluhur Manusia Modern Berasal dari Afrika

Oleh Alexander Lumbantobing pada 24 Sep 2016, 13:21 WIB
Diperbarui 24 Sep 2016, 13:21 WIB
Human's single migration (0)
Perbesar
Sebuah penelitian terkini tentang DNA manusia mengungkapkan bahwa manusia modern berasal dari suatu kelompok manusia Afrika purba. (Sumber Harvard Medical School)

Liputan6.com, Cambridge - Penelitian terhadap ratusan genom manusia dari seluruh dunia telah memperkaya pemahaman keberagaman genetik modern dan dinamika populasi purba.

Misalnya, terkuaknya bukti kuat bahwa, secara hakiki, semua manusia non-Afrika pada masa kini berasal dari suatu migrasi tunggal keluar dari Afrika.

[bacajuga:Baca Juga](2609528 2607928 2602698)

Penelitian multinasional ini dipimpin oleh para ahli genetik di Harvard Medical School (HMS) dan telah terbit dalam jurnal Nature pada 21 September 2016.

Dikutip dari phys.org pada Sabtu (24/9/2016), penelitian juga menengarai bahwa tidak ada suatu gen tunggal yang dapat menjelaskan kemajuan penting dalam bidang budaya dan kognitif perkembangan manusia yang bermula sekitar 50 ribu tahun lalu.

Penelitian juga mencakup kumpulan terbesar data bermutu tinggi tentang urutan genom yang berasal dari populasi sasaran penelitian. Kumpulan data ini menjadi tambahan hampir 6 juta pasangan basis DNA terkait tata urutan genom manusia yang sudah diterbitkan pada 2001.

Kebanyakan penelitian urutan genom suatu populasi hingga saat ini fokus hanya kepada beberapa populasi besar. Tapi, penelitian HMS ini mengurutkan sampel dari 142 populasi-populasi yang lebih kecil dan kebanyakan belum pernah diteliti.

"Sebagai manusia, kita bukan hanya orang-orang yang tinggal di negara-negara industri dan kita bukan hanya orang yang tinggal dalam kelompok-kelompok besar," kata David Reich, profesor genetik di HMS, sekaligus penulis senior dalam penelitian.

Sebuah penelitian terkini tentang DNA manusia mengungkapkan bahwa manusia modern berasal dari suatu kelompok manusia Afrika purba. (Sumber Swapan Mallick, Mark Lipson dan David Reich)

"Jika kita ingin mengerti siapa diri kita sebenarnya, kita harus menyadari bahwa beberapa aspek paling menarik dalam variasi manusia hanya ada pada populasi-populasi kecil dan jarang."

Swapan Mallick, direktur sistem bioinformatika sekaligus penuilis pertama penelitian, mengatakan, "Kami ingin menjangkau dunia dan mengumpulkan sebanyak mungkin sampel beragam secara etnis, kebahasaan, dan antropologis."

Analisis yang dilakukan oleh tim itu sudah bisa menjawab beberapa pertanyaan tentang asal usul genetik beberapa populasi,tapi, seperti catatan para peneliti, pengertian tersebut hanya sekedar suatu penanda dalam perjalanan panjang.

Kata Mallick, "Tentu saja ada ribuan populasi yang berbeda secara etnis di seluruh dunia, masih banyak yang harus dilakukan."

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Memperjelas Sejarah

Reich, Mallick dan rekan-rekan internasional dalam tim mulai dengan memilih dua genom utuh dari 51 populasi yang ada dalam Human Genome Diversity Project.

Mereka kemudian menyusun sampel dari 91 kelompok lain, termasuk beragam populasi pribumi Amerika, Asia Selatan, dan Afrika, yang sebelumnya belum termasuk dalam penelitian genom. Lalu DNAnya diurutkan. Secara keseluruhan, proyek ini melakukan analisis pada 300 orang.

Suatu kesimpulan kunci, yaitu bahwa kebanyakan leluhur manusia modern non-Afrika berasal dari satu populasi tunggal yang bermigrasi keluar dari Afrika.

Kesimpulan tersebut juga didukung oleh dua penelitian urutan genom utuh yang juga terbit dalam jurnal Nature. Suatu penelitian tim Estonia fokus terhadap 379 urutan genom utuh. Penelitian oleh tim Denmark melakukan analisis oada 108 warga Australia dan Papua Nugini.

Alur penelitian tim Estonia. Sebuah penelitian terkini tentang DNA manusia mengungkapkan bahwa manusia modern berasal dari suatu kelompok manusia Afrika purba.(Sumber  Dr Mait Metspalu/Estonian Biocentre, Tartu, Estonia)

Secara bersama-sama, tiga penelitian ini mentuntaskan pertanyaan apakah warga pribumi Australia, Papua Nugini, dan Kepulauan Andaman sebagian besar berasal dari kelompok ke dua yang meninggalkan Afrika dan menyusuri pantai Lautan Hindia.

Para peneliti HMS mengatakan bukan demikian. Kata Reich, "Perkiraan terbaik untuk proporsi leluhur yang berasal dari populasi yang keluar lebih awal adalah nol."

Peneliti yang juga penyidik di Howard Hughes Medical Institute itu melanjutkan, "Secara bersama-sama, tiga penelitian itu hanya menyisakan ruang dugaan sebesar 2 persen."

Selanjutnya, penelitian HMS juga mengungkapkan bahwa para leluhur bersama bagi manusia modern mulai menjadi beragam setidaknya 200 ribu tahun lalu, jauh sebelum terjadi penyebaran ke luar Afrika.

Mallick berujar, "Belum jelas apakah kelompok yang keluar dari Afrika merupakan subkelompok besar dari populasi Afrika. Ini menunjukkan ada banyak substruktur sebelum terjadinya ekspansi."

Berbeda dengan hipotesis populer selama ini, temuan kali ini mengungkapkan bahwa genetik bukan satu-satunya yang menjadi alasan percepatan kemajuan budaya, ekonomi, dan kecerdasan selama 50 ribu tahun belakangan.

Reich menjelaskan, "Sepertinya tidak ada satu atau segelintir mutasi yang mendadak muncul di antara para leluhur kita sehingga memungkinkan mereka berpikir dalam cara-cara yang berbeda."

"Para ahli seringkali mencari sampel yang ingin dijelaskan secara genetik. Dalam hal ini, data menunjukkan tidak ada jawaban jelas."

Lanjutkan Membaca ↓