Generasi Milenial Lebih Jarang Berhubungan Seksual, Kenapa?

Oleh Alexander Lumbantobing pada 03 Agu 2016, 23:30 WIB
Sexless couple

Liputan6.com, San Diego - Mereka yang berusia 20-an di masa sekarang ini lebih sedikit melakukan hubungan seksual dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Sekitar 15 persen orang dewasa berusia antara 20 dan 24 tahun dilaporkan tidak memiliki pasangan seksual sejak menginjak usia 18 tahun.

Selanjutnya, menurut hasil penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Archives of Sexual Behavior, angka tersebut hanya berkisar 6 persen pada generasi sebelumnya.

Dikutip dari CNN pada Rabu (3/8/2016), Jean Twenge, peneliti utama dalam laporan itu, mengatakan, "Hal ini merupakan bagian dari tema umum tentang kematangan yang terlambat sebagaimana yang telah terdokumentasi."

Wanita yang juga penulis buku “Generation Me” tersebut melanjutkan bahwa kaum dewasa muda sekarang ini lebih kecil kemungkinannya memiliki pekerjaan dan menikah, tapi berkemungkinan tetap tinggal bersama orangtuanya.

Menurutnya, sebagian dari tren seksual dalam laporan penelitian diduga berkaitan dengan kenyataan ekonomis. Tapi, mungkin saja ada faktor-faktor lain yang dapat menjelaskan hal ini.

2 of 4

Terlalu Sibuk

Twenge mengatakan, "Ada kemungkinan bahwa teknologi memainkan peran di sini." Maksudnya, jika seseorang meluangkan terlalu banyak waktu untuk menulis pesan-pesan teks kepada teman, maka berkuranglah waktunya untuk bertemu secara pribadi.

Secara sederhana, karena “ada lebih banyak cara untuk menghibur diri”, maka seks menjadi kurang penting, karena sekedar menjadi salah satu dari sekian banyaknya kemungkinan dalam daftar.

Untuk keperluan penelitian, Twenge dan rekan-rekannya menggunakan data dari General Social Survey yang dilakukan antara tahun 1989 dan 2014.

Pada hakikatnya, survei tersebut mengandung semua pertanyaan yang tepat untuk keperluan penelitian ini, demikian dijelaskan oleh Ryne Sherman, salah seorang penulis laporan dan juga seorang ahli psikologi di Florida Atlantic University.

Survei tingkat nasional itu mencakup informasi demografis setiap penjawabnya, sehingga Twenge dan Sherman dapat membandingkan perbedaan-perbedaan kegiatan seksual berdasarkan gender, ras, tingkat pendidikan, kawasan, maupun agama yang dianut.

Menurut penelitian, sebagian dari tren seksual dalam laporan penelitian diduga berkaitan dengan kenyataan ekonomis masa kini. (Sumber: theodysseyonline.com)

Dalam ratusan pertanyaan tentang berbagai topik, survei itu juga menanyakan secara langsung tentang pasangan-pasangan seksual penjawab survei.

Temuan mereka mengungkapkan bahwa kaum dewasa muda sekarang ini -- yaitu generasi milenial yang lahir sejak 1980-a dan iGen yang lahir di 1990-an -- lebih kecil kemungkinannya untuk aktif secara seksual dibandingkan dengan kaum dewasa muda Generasi X, yaitu mereka yang lahir pada 1960-an dan 1970-an.

Mereka juga mengungkapkan bahwa tingkat kehampaan seksual ini bertambah lebih cepat pada kaum wanita daripada pria. Demikian juga lebih kerap pada ras kulit putih daripada ras kulit hitam.

Kehampaan seksual ini bertambah lebih pesat pada mereka yang berpendidikan sampai tingkat SMA dibandingkan dengan yang setidaknya pernah kuliah. Kurangnya kegiatan seks juga lebih merebak di bagian timur AS dibandingkan dengan bagian baratnya.

Dalam hal keterlambatan melakukan seks, kaum milenial mirip sekali nasibnya dengan mereka yang lahir tahun 1920-an.

3 of 4

Perubahan Sikap

"Hal ini juga konsisten dengan data dari Centers for Disease Control and Prevention," demikian menurut Martin Monto, seorang profesor sosiologi di University of Portland. Profesor Monto tidak terlibat dalam penelitian.

Data terkini dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tentang perilaku seksual remaja mengungkapkan bahwa persentasi pelajar SMA yang telah melakukan seks anjlok dari 54 persen (1991) ke angka 41 persen (2015).

Twenge memberikan komentarnya, "Sebagian besar anjlok sebesar itu terjadi baru belakangan ini."

Mengacu kepada statistik terkini, Twenge mengamati bahwa generasi yang sekarang sepertinya menunggu lebih lama untuk melakukan seks dan ada sebagian kecil yang menunggunya lebih lama lagi, yaitu hingga usia 20-an atau lebih tua lagi.

"Penelitian ini bagus sekali, datanya bagus. Konsisten dengan data lain, sehingga penelitiannya cukup kokoh," kata Monto.

Penelitian oleh Monto pada 2014 melibatkan data dari General Social Survey dan mengukapkan bahwa kaum dewasa muda berusia antara 18 dan 25 tahun tidak melaporkan adanya "lebih banyak pasangan seksual sejak usia 18, seks yang lebih sering, ataupun lebih banyak pasangan dalam setahun terakhir" ketika dibandingkan dengan Generasi X.

4 of 4

Berkurangnya Tekanan

Secara keseluruhan, hasil-hasil oleh Monto dan Twenge menengarai hal ini sebagai kemenangan bagi kaum dewasa muda yang secara emosional tidak siap untuk membangun hubungan romantis.

Artinya, raiblah tekanan kepada mereka. Namun demikian, "manusia meraih puncak seksualnya pada awal usia 20-an," imbuh Twenge. Dengan demikian, ada dugaan banyak kaum dewasa muda yang siap dan ingin memiliki hubungan romantis, tapi kesempatannya justru semakin sedikit.

Pada akhirnya, ada masalah kesehatan di sini. Menurut Twenge, "Generasi saya adalah generasi pertama yang menjadi dewasa ketika seks bisa berarti maut." Krisis AIDS muncul pada masa pembentukan Generasi X.

Ia melanjutkan, "Untunglah, hal itu sudah sebisa mungkin ditangani, walapun sekarang malah muncul konsep tentang keamanan emosional."

Sebagai contoh, ia menyebutkan peringatan-peringatan yang menjadi pemicu, ketika konten (terutama konten secara daring) ditandai sebagai hal yang mengganggu.

"Generasi milenial jauh lebih waspada tentang keselamatan, baik pada tingkat jasmani maupun emosional."

Lanjutkan Membaca ↓