Kotoran Serangga 'Sulap' Taj Mahal Jadi Hijau

Oleh Khairisa Ferida pada 24 Mei 2016, 16:25 WIB
Diperbarui 24 Mei 2016, 16:25 WIB
Kotoran Serangga 'Sulap' Taj Mahal Jadi Berwarna Hijau
Perbesar
Bagian dinding Taj Mahal yang berubah warna menjadi hijau (abc.net)

Liputan6.com, New Delhi - Daya tarik salah satu objek wisata utama di India, Taj Mahal terancam. Bukan ancaman bom oleh kelompok teroris, melainkan kotoran serangga yang telah merubah bangunan bersejarah itu menjadi hijau.

Mengutip The Guardian, Selasa (24/5/2016) sejumlah ahli arkeologi mengatakan, serangga telah berkembang biak di Sungai Yamuna yang tercemar di dekat bangunan bersejarah tersebut.

Hal itu membuat kotoran serangga yang menempel di marmer Inlay -- marmer yang didesain dengan metode menyusun beberapa potongan sesuai dengan karakter warna atau bahan sehingga membentuk pola yang indah -- meninggalkan bercak hijau dan hitam pada dinding-dinding bangunan itu.

 



Para pekerja menggosok dinding marmer setiap hari, namun gosokan tanpa metode tertentu yang biasa mereka lakukan, menurut ahli arkeologi Bhuvan Vikram, dapat merusak mozaik bunga dan permukaan marmer yang mengilat.

"Serangkaian panel dekoratif marmer bergambar bunga di dinding atau ubin reflektif yang digunakan monumen ini menjadi rusak," ujar Vikram.

Pihak berwenang tengah mencari solusi permanen atas masalah yang disebabkan oleh serangga yang digambarkan sejenis lalat, namun menyerupai nyamuk.

"Sungai telah mengalami stagnasi pada titik yang tidak lagi mendukung kehidupan ikan," ujar seorang pemerhati lingkungan Yogesh Sharma.

Sementara itu Kepala Departemen Entomologi St John College Girish Maheshwari mengungkapkan penyebab tercemarnya Sungai Yamuna.

"Tingginya pertumbuhan alga dan deposit fosfor dari abu hasil kremasi adalah sumber makanan utama bagi serangga," ujar Maheshwari.

Sementara itu, seorang pejabat tertinggi di Uttar Pradesh -- negara bagian dimana Taj Mahal berada mengatakan, kotoran serangga yang menempel di Taj Mahal merupakan persoalan serius. Namun ia tidak mengumumkan langkah apa yang akan diambil sebagai solusinya.

"Para pejabat berwenang telah diminta untuk menyelidiki mengapa terjadi peningkatan jumlah serangga dan bagaimana mengontrol populasi mereka," ujar Juru Bicara Negara Bagian Uttar Pradesh Navneet Sehgal.

Taj Mahal yang dibangun oleh Kaisar Mogul Shah Jahan untuk sang istri Mumtaz Mahal pada Abad ke-17 ini adalah salah satu daya tarik wisata India. Setiap tahunnya, bangunan yang banyak disebut sebagai lambang cinta ini didatangi jutaan wisatawan dari seluruh dunia.

Persoalan yang dihadapi Taj Mahal tak hanya kotoran serangga, namun para arkeolog juga tengah berjuang untuk melindungi bangunan bersejarah itu dari polusi udara yang menyebabkan warna marmer berubah menjadi kuning dan cokelat.

Salah satu sumber polusi adalah pembakaran kotoran sapi di Agra. "Para peneliti dari Amerika mengatakan, partikel karbon cokelat dan hitam yang dihasilkan oleh pembakaran kotoran sapi membuat permukaan marmer putih dari Taj Mahal berubah menjadi kuning," ucap pejabat senior Agra Pradeep Bhatnagar, yang dikutip dari Telegraph.

Kotoran sapi biasa dipakai di daerah pedesaan sebagai sumber bahan bakar murah untuk penghangat dan memasak. Kotoran tersebut dikumpulkan dan dibentuk dengan tangan pada sebuah tempat ukuran bola, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari.

Tag Terkait