Jika Matahari Mati, Itu Berarti Kiamat bagi Bumi?

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 07 Mar 2016, 20:36 WIB
Diperbarui 13 Mar 2016, 18:39 WIB
Ilustrasi kematian Matahari 5 miliar tahun lagi

Liputan6.com, Jakarta - Matahari adalah sumber energi bagi kehidupan di Bumi. Tanpa sang surya, planet kita niscaya beku, tak akan ada makanan dan bahan bakar bagi manusia.

Namun, tak ada apapun yang abadi. Suatu hari nanti, Matahari akan menemui 'ajalnya'. Masih lama memang, diperkirakan sekitar 5-7 miliar tahun lagi.

Hal tersebut juga diakui oleh ilmuwan Heliophysics Division, Goddard Space Flight Center NASA, Dr. Nat Gopalswamy.

"Kita tahu bahwa suatu hari nanti Matahari akan mati," kata dia kepada Liputan6.com di @America, Jakarta.

Ibarat sebuah mobil, bahan bakar Matahari -- atau hidrogen -- bisa habis. Lantas apa yang akan terjadi pada manusia?

Saat sang surya menjelang 'sekarat', gravitasi akan memaksa Matahari luruh ke intinya, membakar hidrogen yang tersisa, dan membuatnya menjadi raksasa merah.

Lapisan luar Matahari akan menyebar sejauh orbit Bumi, menyambar dan menelan planet manusia.

Seperti dikutip dari situs sains LiveScience, Lee Anne Willson, ilmuwan dari Iowa State University mengibaratkan, saat itu Bumi sedang dikremasi dan abunya menyebar di antara bintang-bintang.

Kemudian, panas matahari yang menggelegak membakar habis helium yang terkandung di dalamnya. Sang surya pun akhirnya mengecil.

Karena matahari tak cukup besar untuk meledak dalam supernova yang luar biasa, ia akan berubah menjadi bintang katai putih (white dwarf) yang tak semembara saat ini.

"Jadi sebelum itu terjadi, manusia harus mencari tempat tinggal baru," kata Dr. Nat Gopalswamy.

"Itu menjadi alasan mengapa NASA melakukan eksplorasi."

Saksikan video wawancara Liputan6.com dengan ilmuwan NASA, Dr. Nat Gopalswamy:

Tag Terkait