'Gaji' Pengemis Ini Rp 2,4 Miliar, Nyaris Menyamai PM Inggris

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 01 Mar 2016, 21:41 WIB
Diperbarui 01 Mar 2016, 21:41 WIB
Ilustrasi pengemis
Perbesar
Ilustrasi pengemis.

Liputan6.com, Wolverhampton - Dalam sehari, seorang pengemis pria di Inggris bisa mengumpulkan recehan hingga mencapai 500 poundsterling atau Rp 9,3 juta. Atau paling tidak, dalam seminggu ia bisa mendapatkan 2.500 poundsterling atau Rp 46,7 juta.

Setiap hari, peminta-minta itu mangkal di pusat Kota Wolverhampton, West Midlands, Inggris. Penampilannya sengaja dibuat kumuh, untuk mengundang trenyuh orang-orang yang sedang belanja dan para komuter.

Pria yang tak disebut namanya itu berpura-pura sebagai gelandangan, padahal, ia tinggal di rumah yang layak.
 


Pendapatannya selama setahun diperkirakan sebesar 130 ribu poundsterling atau Rp 2,4 miliar, hanya selisih 12,5 ribu poundsterling  lebih sedikit dari gaji tahunan Perdana Menteri Inggris, David Cameron -- yang senilai 142.500 poundsterling.

Steve Evans, ketua lingkungan Wolverhampton sekaligus anggota dewan perburuhan mengatakan, pengemis tersebut diketahui tinggal di rumah layak.

"Informasi bahwa ia mendapatkan 500 poundsterling per hari dari hasil meminta-minta didapat dari anggota dewan yang lain," kata dia, seperti dikutip dari Daily Mail, Selasa (1/3/2016).

"Dan kami tahu, ia bukan gelandangan. Pria itu tercatat tinggal di sebuah alamat yang adalah tempat tinggal yang layak."

Modus Operandi

Pengemis tajir itu kerap terlihat di tengah kota, pada jam-jam sibuk. Ia betah duduk seharian di sana untuk mengumpulkan recehan. "Ia mungkin juga bepergian ke kota-kota lain. Uang yang berhasil ia kumpulkan lebih banyak dari saya dan Anda dapatkan."

Evans berpendapat, sangatlah tak pantas pria tersebut menargetkan belas kasihan dari orang-orang, yang rata-rata adalah pekerja yang rata-rata mendapatkan penghasilan 20 ribu poundsterling atau Rp 373 juta per tahun.

Apalagi, banyak dari pengemis yang nyatanya tak memerlukan uang untuk menyambung hidup. Mereka justru membelanjakannya untuk membeli alkohol.

"Memang ada yang benar-benar membutuhkan bantuan, namun lainnya hanya ingin uang untuk membeli alkohol," kata dia.

Evans akan bekerja sama dengan pihak berwenang untuk membuat pengemis tajir itu jera.

"Kami akan menghadapkannya ke pengadilan dan menuntut agar orang semacam itu dilarang ke pusat kota," kata dia.

Di sisi lain, seorang pengemis berusia 28 tahun mengaku khawatir, komentar Evans akan membuat orang enggan memberi uang.

"Beberapa dari kami nyata adalah gelandangan dan membutuhkan uang, bukan untuk membeli alkohol, namun untuk sekadar berteduh kala malam, juga untuk makan."

Pria yang tak mau disebutkan namanya itu mengakui, memang ada pengemis 'jadi-jadian' yang berpura-pura membutuhkan bantuan. "Orang-orang seperti itu membuat semua mengemis mendapatkan citra buruk."

Simon Van Der Hoek, pengemis berusia 48 tahun mengatakan, tak benar jika seseorang yang bukan gelandangan mengekspoitasi belas kasihan orang-orang.

"Alasanku meminta uang adalah agar aku bisa makan, tak ada alasan lain," kata dia. "Aku hanya meminta uang dalam jumlah yang kubutuhkan, tak benar jika ada orang yang memanfaatkannya untuk hal buruk."

Sementara, Paul Bird -- pria 29 tahun yang terpaksa mengemis 6 bulan belakangan juga menyesalkan tindakan orang yang meminta-minta di jalan demi mengumpulkan kekayaan.

"Aku mengalami kecelakaan parah dan mengalami disabilitas, ibuku meninggal, dan aku terpaksa hidup di jalanan. Sungguh menyakitkan mengetahui ada orang yang berpura-pura sebagai gelandangan.

2 dari 2 halaman

Pengemis Kaya Raya dan Ganteng

Pengemis Kaya Raya dan Ganteng

Bukan kali ini saja kisah pengemis palsu mencuat ke publik. Sebelumnya, ada Simon Wright. Pengemis yang mangkal di Bank NatWest di Putney High Street, London yang ternyata kaya raya.

Simon menghasilkan uang lebih dari 50.000 poundsterling atau lebih dari Rp 754 juta tiap tahun.

Ia  juga bukan gelandangan. Pria itu tinggal di sebuah flat mahal dan nyaman berharga 300 ribu poundsterling atau lebih dari Rp 4,5 miliar di London Barat.

Mengemis bagi dia bukan keterpaksaan, tapi pekerjaan. Saat hari berakhir, jelang malam, ia akan mencopot kertas yang ditulis tangan "tunawisma" yang ia pajang. Kembali ke rumahnya yang nyaman.

Ada juga Ah Qing, pengemis ganteng yang beroperasi di Singapura.

Ia berasal dari keluarga relatif kaya yang punya bisnis grosir roti. Dengan mengemis, dia bisa mengumpulkan uang 50 dolar Singapura atau hampir Rp 500 ribu hanya dalam setengah hari.

Sementara, seorang pria asal Texas, Amerika Serikat juga pura-pura mengalami gangguan jiwa dan cacat fisik hingga bergantung dengan kursi roda. Ternyata, itu modalnya menjadi pengemis. Gary Thompson, namanya, berhasil membuat orang kasihan.

Berkat aktingnya yang meyakinkan, ia bisa mengumpulkan uang US$ 100 ribu atau lebih dari Rp 1 miliar setahun.

Padahal, ia pernah memenangkan gugatan senilai US$ 2,4 juta terkait kecelakaan motor pada 1993. Namun, pada para pemakai jalan, ia mengobral kisah sedih, saat terbaring lumpuh uang itu dihabiskan keluarganya. 'Karir' Thompson sebagai pengemis baru berhenti setelah kedoknya terkuak.

Lanjutkan Membaca ↓