2-2-1556: Gempa 'Paling Mematikan', 830 Ribu Manusia Tewas

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 02 Feb 2016, 06:00 WIB
Diperbarui 02 Feb 2016, 06:00 WIB
Wilayah terdampak gempa hebat di Shaanxi dan Shanxi, Tiongkok
Perbesar
Wilayah terdampak gempa hebat di Shaanxi dan Shanxi, Tiongkok (Wikipedia)

Liputan6.com, Jakarta - Suara gemuruh keras terdengar. Datangnya bukan dari langit, tapi menyentak dari dalam Bumi. Pagi itu, di tengah musim dingin, tanah berguncang hebat di Shaanxi dan Shanxi, Tiongkok. Gempa hanya dalam hitungan menit dan detik, namun akibatnya drastis lagi dramatis.  

"Di wilayah Hua, hal buruk silih berganti terjadi. Pegunungan dan sungai-sungai berganti posisi, jalanan pun rusak. Di  beberapa tempat tanah tiba-tiba naik membentuk bukit baru, atau ambles menjadi cekungan lembah," demikian dikisahkan dalam catatan sejarah Tiongkok, seperti Liputan6.com kutip dari buku 30 Years' Review of China's Science & Technology, 1949-1979.

Aliran sungai meledak hebat, tanah rekah membentuk rongga panjang selebar selokan. Air muncrat di sana-sini.


"Pondok-pondok, gedung-gedung pemerintahan, kuil, dan tembok kota tiba-tiba hancur lebur."

Orang-orang terpaksa tinggal beratap langit, menggigil tanpa kehangatan. Wilayah 1.000 kilometer persegi luluh lantak pada hari bencana terjadi, 2 Februari 1556. Catatan lain menyebut lindu mengguncang pada 23 Januari 1556.

Nyawa manusia pun melayang. Secara massif. Setidaknya 830 ribu orang atau 60 persen populasi wilayah terdampak tewas -- akibat gempa dahsyat, kebakaran yang terjadi selama berhari-hari, beku di tengah udara dingin, banjir, atau bahkan penjarahan yang merajalela setelahnya.

Banyaknya korban jiwa membuat peristiwa tersebut masuk daftar gempa paling mematikan dalam sejarah.

Penjelajah Portugis, Gaspar da Cruz yang mengunjungi wilayah Guangzhou pada 1556 mendengar kabar soal malapetaka itu. Dalam bab terakhir bukunya, Treatise of China (1569), ia menduga, gempa mungkin adalah hukuman untuk para pendosa.

Apapun, selalu ada pelajaran di balik musibah.

Petunjuk menghadapi gempa pada masa Kaisar Tiongkok (http://www.kepu.net.cn)



Qin Keda, seorang sarjana teladan yang jadi juara dalam ujian pemerintah, berhasil lolos dari maut. Ia tak hanya mencatat proses terjadinya gempa, tapi juga memberi petunjuk bagaimana untuk selamat dari amuk alam.

"Saat gempa mulai terjadi, orang-orang yang ada di dalam rumah atau bangunan harus cepat-cepat keluar. Berjongkok lah di luar rumah hingga getaran reda," kata dia, seperti dikutip dari situs Science Museums of China.

Qin Keda juga membuat perumpamaan. "Bahkan ketika sarang jatuh, sejumlah telur yang rapuh punya peluang tetap utuh."

Pengalaman tersebut hingga kini terus dipraktikkan, dan terbukti menyelamatkan jutaan nyawa manusia saat gempa terjadi.

Apalagi, fakta dan sejarah memberikan petunjuk: gempa mungkin tak akan merenggut nyawa manusia, namun kualitas bangunan yang buruk bisa jadi 'pembunuh' sesungguhnya.

Selain gempa di Tiongkok, sejumlah peristiwa penting dalam sejarah terjadi pada tanggal 2 Februari.

Pada 1989, kendaraan tempur lapis baja Uni Soviet yang terakhir meninggalkan Kabul di penghujung Perang Soviet-Afghanistan.

Sementara, pada 1848,  kapal pertama dari Tiongkok tiba di San Francisco. Di tengah demam emas yang melanda California.

Kala itu, banjir dan kekeringan yang silih berganti bikin rakyat China sengsara. Belum lagi pajak tinggi yang diberlakukan pasca-Perang Opium membuat para petani dan penduduk desa harus rela melepaskan tanah mereka.

Di tengah keputus-asaan, kapal-kapal dagang yang datang mengabarkan harapan. Orang-orang rela menempuh perjalanan panjang, melintasi samudera, menyeberang benua, demi bisa merengkuh Gam Saan -- gunung emas di negeri nan jauh.

Bertopi lebar, rambut panjang yang dikuncir taucang, dan makan menggunakan sumpit, para pendatang itu menerbitkan rasa penasaran bagi penduduk Amerika Serikat. Baca kisah selengkapnya di tautan ini.