Sambil Menangis, Obama Umumkan Kebijakan Kontrol Senjata Api

Oleh Arie Mega Prastiwi pada 06 Jan 2016, 08:42 WIB
Diperbarui 06 Jan 2016, 08:42 WIB
20160105-Tangis Barack Obama di Gedung Putih-Washington
Perbesar
Sambil menyeka air mata, Presiden AS Barack Obama mengingat korban tewas penembakan brutal di SD di Newtown dan memaparkan langkah yang akan diambil pemerintahannya untuk mengurangi kekerasan senjata di Gedung Putih, Selasa (5/1). (REUTERS/Kevin Lamarque)

Liputan6.com, Washington DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama terlihat emosional saat umumkan aksi lembaga eksekutif dalam pentingnya membatasi dan mengurangi kekekerasan senjata api. Berbicara di Gedung Putih, beberapa kali Presiden AS ke-44 itu mengusap air mata yang jatuh di pipinya.

Dalam membuat kebijakan tanpa persetujuan kongres, Obama mengumumkan bahwa setiap pembelian senjata diwajibkan memiliki catatan latar belakang si pembeli. Ia menjelaskan bahwa kejadian penembakan massal yang semakin sering terjadi di AS menguji kepemimpinannya serta mengkritik para anggota kongres yang tak melakukan sedikitpun aksi untuk mengurangi insiden itu.

Pidato Obama mencapai puncak keharuan saat ayah dari Malia dan Natasha Obama menyebut insiden penembakan massal Sekolah Dasar Sandy Hook, Newtown, Connecticut pada 2012. Saat itu, 20 anak-anak merenggang nyawa.

"Setiap kali saya mengingat anak-anak itu, tiap kali juga saya marah," ujar Obama penuh emosi dan air mata tak terbendung mengalir, seperti dilansir dari BBC, Selasa 5 Januari 2016.

"Dan omong-omong, penembakan terjadi di jalanan Chicago tiap hari," tambahnya lagi.

Berikut rekaman Obama saat umumkan kebijakan eksekutif tentang kontrol senjata di AS.

Tidak Menjamin Angka Kriminal Turun

Selain mengecek latar belakang pembeli, penjualan juga semakin diperketat. Hanya mereka yang mempunyai izin-- yang lebih ketat-- yang boleh menjual belikan senjata api.

Pengumuman penuh emosional ini dihadiri oleh salah satu ayah korban Sandy Hook Mark Barden. Selain itu, dihadiri juga oleh mantan anggota kongres serta pengacara pembatasan senjata api, Gabby Giffords yang pernah terluka serius akibat penembakan massal pada 2011.

Obama juga mengkritik pedas anggota kongres dari Partai Republik yang tidak sependapat tentang cek latar belakang dan meminta rakyat AS untuk menghukum mereka dengan tidak memilih orang-orang itu lagi. Obama juga membela diri kebijakannya yang dikritik tidak akan menjamin angka kriminal menurun.

"Isu itu kerap kali muncul. Kita menyerah dengan pemikiran logika bahwa cek latar belakang tidak akan menghentikan kekerasan. Dan saya menolak anggapan itu," tambah Obama yang karier politiknya diawali dari Chicago.

"Jelas kita tidak bisa menghentikan setiap aksi kekerasan, setiap aksi kejahatan di dunia, namun setidaknya kita bisa menghentikan satu aksi kejahatan, dan satu aksi kekerasan," tambahnya.

Tindakan Orang Nomor Satu AS yang memotong jalur lobi senjata mengejutkan setiap orang, apalagi The National Rifle Associaton (NRA) -- Asosiasi Senjata Nasional. Namun, Obama bersikukuh bahwa tindakannya bukan untuk mengambil kepemilikan senjata.

Obama juga membandingkan bahwa kebijakan senjatanya ini sama dengan limit laju kendaraan di jalan, permintaan sidik jari untuk membuka iPads serta menjauhkan anak-anak dari obat-obatan.

"Saya percaya dengan Amendemen Kedua yang mengatakan rakyat AS berhak menyimpan dan memiliki senjata, tapi saya juga percaya kita bisa mencari jalan keluar untuk mengurangi kekerasan akibat senjata api berdasarkan Amendemen Kedua ini," imbuh Obama.

Sejalan dengan kebijakan Obama memperketat pembelian senjata, pemerintah AS akan menambah dana untuk institusi kesehatan mental, dana untuk FBI serta Bureau of Alcohol, Tobacco Firearms and Explosive Agents.

2 dari 2 halaman

Air Mata Tulus VS Air Mata Buaya

Bukan kali ini saja Obama emosional hingga menangis atas kekerasan senjata api. Namun, netizen dan aktivis pro kontrol senjata api memuji reaksi suami Michelle Obama kali ini.

Beberapa netizen di Twitter mengatakan aksi Obama sangat 'kuat', 'asli dan tulus'. Presiden Obama dinilai menunjukkan niat baik untuk mengontrol senjata dengan sepenuh hati.

Kolumnis New York Times, Nichilas Kristof setuju dengan para netizen lainnya. Ia berkicau dalam akunnya, "Kita seharusnya menangis atas 32.000 nyawa orang Amerika yang tewas akibat senjata api tahun ini."

Namun, tak sedikit yang mencela tangisan Obama ini. The National Rifle Associaton (NRA) mengeluarkan pernyataan yang mengutuk kebijakan Obama. Dukungan pro senjata api terhadap NRA juga tak sedikit. Mereka lalu memposting meme Obama dengan 'air mata buaya' melalui Twitter.

"Dasar badut! Memperlihatkan penampilan melankonis untuk warga Amerika," tulis salah satu komentar di Facebook.

Kritikan lain mengatakan bahwa Obama menyedihkan, lemah, dan tidak jujur.

Survei Mendukung Obama

Sementara itu, dikutip dari CNN, calon kandidat presiden dari Partai Demokrat sekaligus mantan Menlu AS, Hillary Clinton mengatakan ia akan berjuang dan melanjutkan kebijakan Obama itu juga ia terpilih jadi presiden.

Di Twitter, yang diakhiri huruf 'H' setelah kicauannya mengindikasikan bahwa ia sendiri yang menulis -- bukan staff, disebutkan bahwa ia berterima kasih kepada Obama.

"Terima kasih Obama, karena telah mengambil langkah penting dalam mengendalikan kekerasan senjata api. Presiden berikutnya harus melanjutkan kebijakan itu, bukan menghapuskannya.-H", tulis Hillary.

Namun begitu, Hillary dan Demokrat mewanti-wanti Obama jika presiden AS selanjutnya datang dari Partai Republik. Sebab kemungkinan besar mereka akan menghapus kebijakan itu.

Bagaimanapun, survei terbaru mengatakan bahwa kebanyakan orang AS setuju dengan peraturan kepemilikan senjata api. Dikerjakan oleh Universitas Quinnipiac pada Desember, 89 persen mendukung kebijakan Obama ini.

Adapun survei yang pernah dilakukan CNN awal Desember menyebutkan 48% setuju untuk memperketat senjata api, sementara 51 persen lainnya tak sependapat.

Lanjutkan Membaca ↓