FBI: Penembakan California Mungkin Aksi Terorisme

Oleh Arie Mega Prastiwi pada 06 Des 2015, 09:00 WIB
Diperbarui 06 Des 2015, 09:00 WIB
20151204-Warga Nyalakan Ribuan Lilin untuk Korban Penembakan di California-AS
Perbesar
Sejumlah warga saat mengikuti aksi menyalakan lilin dan berdoa bersama di San Bernardino, California, Jumat (4/12). Aksi tersebut untuk korban penembakan brutal di pusat lembaga pelayanan sosial yang menewaskan 14 orang (REUTERS/Mario Anzuoni)

Liputan6.com, California - Penembakan massal oleh sepasang suami istri yang menewaskan 14 orang di California tengah diselidiki sebagai aksi terorisme. Hal itu disampaikan FBI.

Direktur FBI James Comey mengatakan ada indikasi bahwa pasangan tersebut telah diradikalisasi.

Tashfeen Malik, 27 tahun dan suaminya, Syed Rizwan Farook, 28 tahun, tewas dalam baku tembak dengan polisi setelah pembunuhan di San Bernardino, Los Angeles Timur.

"Mereka kemungkinan telah terinspiras idengan kelompok teror asing," kata Comey seperti dilansir BBC, Sabtu 5 Desember 2015.

Kendati begitu, Comey mengatakan belum ada bukti mereka merupakan bagian dari sebuah jaringan.  Ia mengatakan penyelidikan masih pada tahap awal dan masih tetap terdapat banyak bukti yang tidak masuk akal.

Sebelumnya, seorang juru bicara FBI mengatakan mereka juga menyelidiki sebuah laporan yang menyebutkan Malik telah bersumpah beraliansi dengan ISIS.

Malik dilaporkan telah mengunggah sebuah pesan di Facebook yang berisi dukungan terhadap pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi dengan menggunakan nama lain. Pesan itu kini telah dihapus.

Penembakan massal terbesar sejak 2012

Pengacara keluarga Farook mengatakan, Jumat lalu, Farook merupakan sosol penyendiri hanya memiliki sedikit teman. Sementara Malik merupakan seorang ibu rumah tangga yang perhatian dan bertutur kata halus.

Mereka mengatakan tidak ada bukti tersangka memiliki pandangan ekstrm. Tetapi keluarga memang mewaspadai Farook memiliki dua senjata. Setelah penembakan pada Rabu 2 Desember lalu, aparat penemukan alat pembuat bom, senjata dan ribuan amunisi di rumah pasangan tersebut.

Dalam keterangan pers juru bicara FBI, David Bowdich, mengatakan tengah berupaya untuk melacak data dari dua telepon selular yang ditemukan dalam kondisi rusak di dekat tempat sampah dekat lokasi penembakan. Dia mengatakan hubungan telepon telah dilakukan antara pasangan itu dan orang lain.

Malik lahir di Pakistan dan baru-baru ini pernah tinggal di Arab Saudi. Menurut salah seorang anggota keluarganya kepada Reuters, intelijen Pakistan telah mengontak kerabatnya di negara itu.

Farook, bekerja sebagai pengawas di departemen kesehatan lingkungan kota, merupakan anak dari imigran Pakistan dan lahir di negara bagian Illinois.

Pembunuhan di San Bernardino merupakan penembakan massal dengan jumlah korban terbesar di AS sejak 26 orang tewas di sebuah sekolah di Newtown, Connecticut, pada 2012.

Korban tertua berusia 60 tahun, sementara termuda berusia 26 tahun.

Dalam sebuah perkembangan terakhir, pemilik rumah yang mengontrakkan propertinya kepada pasangan itu mempersilahkan wartawan untuk masuk.

Tindakan itu dikritik keras di sejumlah media sosial. Naamun, FBI mengatakan bahwa si pemilik rumah telah diberikan izin oleh mereka sebelum para jurnalis masuk.