20 Tahun Srebrenika: Cerita Belum Usai

Oleh Arie Mega Prastiwi pada 11 Jul 2015, 08:29 WIB
Diperbarui 11 Jul 2015, 08:29 WIB
Tugu Peringatan Potocari Srebrenica
Perbesar
Tugu Peringatan Potocari Srebrenica. (Reuters)

Liputan6.com, Srebrenika - Hazmir Hrustanovic selalu membayangkan ia akan memeluk ayahnya kembali,  tapi hal itu tidak pernah terjadi. Hazmir berusia 9 tahun saat ia harus berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya. "Kami harus pindah dari satu kota, ke kota lainnya hanya untuk bisa hidup. Kalau di kota ini dibom, kami pindah lagi ke tempat lain. " Dari tahun 1992 hingga 1995 ia dan keluarganya harus berpindah-pindah hingga 10 kali. Cerita Hazmir kepada wcfcourier.

"Akhirnya, kami tiba di Srebrenika. Semua orang datang ke kota itu. Ada sekitar 30.000 orang Bosnia yang mencari perlindungan di kota itu. Aku pikir, kami akan aman, tetapi ternyata tidak. Ayah menciumku dan mengucapkan kata berpisah, lalu ia menghilang bersama para pria Bosnia lainnya. Itulah terakhir aku melihatnya."

Berdekatan dengan perbatasan Serbia, Srebrenika atau "kota perak" dianggap oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai kota aman dan dilindungi oleh tentara PBB. Namun, tentara Serbia semakin menambah pasukannya mengepung kota itu. Para Muslim Bosnia meminta kepada 600 personel pasukan PBB dari Belanda untuk mengembalikan senjata mereka, tapi ditolak.

Tidak lama kemudian, Jenderal Ratko Mladic memerintahkan untuk menyerang dengan menyandera 30 orang pasukan perdamaian PBB. Komandan pasukan PBB meminta NATO untuk melakukan serangan udara untuk menyelamatkan mereka namun permintaan tidak pernah terpenuhi.

Tanggal 11 Juli, tepat 20 tahun lalu, Pasukan Serbia berhasil masuk Srebrenika. Mereka menurunkan bendera Belanda. F-16 milik Belanda menjatuhkan dua bom di lokasi Serbia, namun serangan berikutnya berhenti karena Serbia mengancam akan mengeksekusi tahanan Belanda.

Saat itu, lebih dari 20.000 Bosnia kebanyakan perempuan, anak-anak dan orang tua menuju markas tentara Belanda  sementara  ribuan laki-laki lari ke hutan. Juli tanggal 12 pasukan Serbia berhasil masuk markas PBB dan memisahkan perempuan dan laki-laki.  Di lokasi itu, mereka membunuh 2.000 pria dan dengan memakai seragam pasukan keamanan PBB mereka memburu para pria muda dan remaja di hutan. 6.000 Pria tewas.

Pengungsi Srebrenica Menuju Tulza. (Reuters)

Selanjutnya: 20 Tahun, Keluarga Korban Menanti Keadilan...

2 dari 3 halaman

20 Tahun, Keluarga Korban Menanti Keadilan

 20 Tahun, Keluarga Korban Menanti Keadilan

Salah seorang korban yang selamat dari pembantaian, kepada Guardian, Mevludin Oric, bersaksi "Aku menjatuhkan badanku ke tanah. Keponakanku tertembak dan jatuh tepat di atasku. Ketika mereka selesai menembak, mereka membawa rombongan yang lain lagi untuk dieksekusi. Seharian pasukan itu menembaki kami."

Selama diwawancara, Mevludin tertunduk terus menerus, sesekali mengusap wajahnya yang memerah. "Setelah seharian, saat itu menjelang malam, hujan rintik-rintik. Jenasah keponakanku masih di atasku. Saat kusingkirkan, aku melihat mereka sedang menggali lubang. Aku melihat mereka berkeliling sambil bertanya kepada orang-orang yang terkapar 'kalian masih hidup?' dan kalau ada yang menjawab 'ya', mereka melepaskan tembakan."

"Aku bergerak perlahan-lahan. Saat aku bangkit, aku melihat mayat di mana-mana. Aku menangis; tak bisa berhenti. Saat itu aku melihat seorang pria yang terduduk. Namanya Hurem Suljic. Aku memeluk dan menciumnya. Kami menyingkir dan berjalan menuju Tuzla." Hampir 11 hari mereka berjalan mencari keselamatan.

Nedzad Avdic ingat darah yang mengucur dari kakinya. Ia bersama ratusan pria lainnya dimasukkan ke sebuah ruangan. Suara teriakan prajurit Serbia seperti mimpi buruk berulang-ulang, "Srebrenica adalah dan selalu menjadi wilayah Serbia," lalu tembakan bergemuruh. Kakinya tertembak.

Nedzad--saat itu 17 tahun-- kepada CBS NEWS mengatakan ia adalah salah satu yang selamat. Ia harus merangkak di tengah-tengah jenazah yang bergelimpangan. Dia harus berhati-hati agar gerakannya tidak terlihat. Susah baginya untuk bergerak pelan-pelan.

"Kakiku sakitnya bukan main. Rasanya saat itu aku ingin mati saja."

Tapi dia berhasil menghilang di antara pohon dan bertemu dengan sesama yang selamat. Mereka harus berjalan mencari desa terdekat. Berkali-kali ia meminta orang itu meninggalkannya, tetapi lelaki itu memaksanya untuk terus berjalan."Akhirnya kami sampai di desa yang dikuasai Bosnia. Yang ku ingat adalah kami selamat."

Nedzad seperti para korban Srebrenika yang selamat lainnya menginginkan keadilan.

"Saya selamat, tapi yang lainnya tidak. Saya ingin segera pengadilan memutuskan keputusannya, demi keadilan."

Berdoa di Kuburan Massal Srebrenica. (Guardian)

Komite Internasional untuk Orang Hilang mengatakan ada sekitar 8.000 Bosnia --kebanyakan pria-- hilang.  Pengadilan Perang PBB memutuskan bahwa kejahatan yang dilakukan oleh tentara Serbia adalah genosida. Keputusan itu diperkuat oleh Pengadilan Internasional.

Sekertaris Jenderal PBB saat itu, Boutros Boutros-Ghali, mengatakan kepada wartawan saat Srebrenika jatuh ke tangan Serbia, "UN telah dipermalukan dan kami harus hidup terus dengan itu."

Belanda sebagai negara yang seharusnya melindungi Bosnia akhirnya meminta maaf kepada korban. Ludy de Vos, wakil komandan tentara  Belanda yang menjadi salah satu pasukan perdamaian PBB di Srebrenica dalam wawancaranya kepada wartawan mengatakan, "Mereka (Pasukan Belanda) telah melakukan usaha paling maksimal." Ia menambahkan hampir semua prajurit Belanda mengalami trauma dan bbanyak yang  bunuh diri, seperti dikutip digitaljournal.

"Bayangkan, kami ditinggal.  Banyak orang yang tidak mengerti kenapa mereka meninggalkan kami? Kami juga tidak mengerti. Saat itu, bantuan udara yang dijanjikan tidak pernah datang."

Yusushi Akashi, Perwakilan PBB di Bosnia 20 tahun lalu, mengakui bahwa Dewan Keamanan tidak sepenuhnya yakin resolusi PBB saat itu realistik atau tidak. "Dewan Keamanan terus-menerus mengeluarkan resolusi, tapi saat itu, sangat susah untuk diterapkan. Kami mengirim pasukan perdamaian di mana tidak ada perdamaian yang harus dijaga,"

Sejauh ini tim forensik telah mengidentifikasikan 6.930 jenasah di 93 kuburan masal. 6.000 Jenasah telah dikebumikan di Potocari Memorial Center dan 136 lagi akan dimakamkan Sabtu ini.

Pengadilan Kriminal Internasional khusus Yugoslavia (ICTY) menemukan  300 daftar nama para pelaku kejahatan semenjak mereka berhasil menangkap Goran Hadzic (presiden Serbia).

Jenderal Ratko Mladic  terkenal dengan julukan "Tukang Jagal Bosnia" ditangkap ada tanggal 26 Mei 2011 dan sekarang masih berhadapan dengan pengadilan internasional.

 Ratko Mladik Komandan Serbia

Namun, Rabu 8 Juli lalu, dua hari sebelum peringatan 20 Tahun Srebrenica, Rusia mempergunakan hak vetonya untuk menolak bahwa Srebrenica bukan genosida. Alasan Rusia menolak untuk memberi label genosida karena draf yang mereka terima tentang kejahatan di Srebrenica tidak konstruktif dan penuh dengan konfrontasi serta bermotif politik. "Draft yang kami punya tidak akan membawa Balkan ke arah yang lebih baik," kata Vitaly Churkin Duta Besar Rusia untuk PBB, seperti dikutip dari Aljazeera.

Munira Subasic, ketua Mothers of Srebrenica, berkomentar atas veto Rusia "hanya akan membuat kepercayaan dan rekonsiliasi mustahil terwujud.

""Kami tidak kaget dengan keputusan mereka. Rusia pada dasarnya memang mendukung kriminal, mereka yang membunuh anak-anak kami. "

Dewan Keamanan PBB mengumpulkan suara 10:1 untuk Srebrenica sebagai kejahatan genosida. 

Selanjutnya: Srebrenika Sekarang...

3 dari 3 halaman

Srebrenika Sekarang

Srebrenika Sekarang

Seperti apa sekarang Srebrenika? Sebelum perang, tiga perempat penduduk adalah Muslim. Sekarang, mayoritas adalah Serbia yang tampaknya tidak peduli akan kejahatan di masa lalu.

Seorang wanita yang sedang berjalan di trotoar menjawab "Aku tidak ada di sini (saat itu), dan tidak dengar apa pun dan tidak tahu apa pun," katanya kepada Independent.

Di sebuah kedai kopi di Srebrenika senada seirama. "Yang kami tahu Mladi dan Kradzic itu pahlawan kami," kata seorang pria Serbia berusia 43 tahun. "Mladic itu menyelamatkan ribuan orang. Cerita tentang Mladic (yang melakukan kejahatan perang) bohong belaka."

Tampaknya ada sedikit tekanan politik untuk menghapus ingatan orang-orang tentang sejarah yang telah terjadi. Terlihat saat tim investigasi menemukan satu kuburan masal beberapa bulan lalu di bagian utara Srebrenika. Tidak ada satu pun yang mengakui apa yang terjadi di situ. Hingga salah satu orang berbicara.

Ia tidak tahan dengan apa yang telah ia lakukan dua puluh tahun lalu. Tatapan mata korban yang ia bunuh terus menerus menghantuinya setiap malam. "Tatapan mata orang-orang yang kubunuh menghantuiku setiap malam. Iya, benar, aku membunuh mereka," katanya seperti ditemukan dalam dokumen kesaksian milik penggiat hak asasi manusia.

Seorang jurnalis dari Balkan Investigasi Network mengatakan akan sangat sulit untuk mewujudkan rekonsiliasi untuk Srebrenika. Tidak semua orang siap untuk berbicara atas apa yang terjadi di masa lalu. Ia mengambil peribahasa Bosnia: "Tetaplah diam, seseorang bisa mendengarkanmu"

Ketidakinginan untuk berbicara atas apa yang terjadi di Srebrenika karena terlalu banyak kesedihan. Mereka kehilangan orang-orang tercinta tanpa tahu di mana mereka berada. Tidak ada kuburan untuk dikunjungi. Mereka tidak bisa membuktikan kalau orang-orang itu benar-benar mati. (Rie/Ans) 

Ratko Mladik Komandan Serbia

 

 

 

 

 

Lanjutkan Membaca ↓