Seperti 'Bom', 44 Tewas Saat Topan Pam Porakporandakan Vanuatu

Oleh Tanti Yulianingsih pada 14 Mar 2015, 13:48 WIB
Diperbarui 14 Mar 2015, 13:48 WIB
Seperti 'Bom', Topan Pam Porakporandakan Vanuatu
Perbesar
Topan Pan ketika menuju Vanuatu, yang gambarnya diambil pada 11 Meret 2015. (Reuters)

Liputan6.com, Port Villa - Topan siklon tropis bernama Pam melanda ibukota Vanuatu hari Sabtu waktu setempat. Angin kencang pun memporakporandakan kawasan tersebut dalam waktu singkat.

"#CyclonePam masih melanda #Vanuatu. Kekuatannya jauh lebih besar dari yang diperkirakan. Kata rekan kami di Port Vila, kawasan itu luluh lantak," tulis UNICEF cabang Australia  melalui akun Twitter seperti dikutip dari CNN, Sabtu (14/3/2015).

Ahli meteorologi setempat mengatakan, kekuatan badai memang telah melemah. Tapi ancaman cuaca buruk itu diperkirakan masih melanda Vanuatu. Angin kencang serta hujan deras selama berjam-jam bisa kembali terjadi.

"Dibutuhkan banyak bantuan kemanusiaan. Orang-orang telah kehilangan rumah mereka. Mereka prioritas membutuhkan tempat hunian, makanan dan air di Port Vila," ungkap Palang Merah Australia di akun Twitternya.
 
Pam, disebut-sebut sebagai salah satu badai terkuat di kawasan Pasifik Selatan tahun ini.

Menurut keterangan saksi mata, topan kategori 5 itu menciptakan gelombang air laut hingga setinggi 8 meter. Menyebabkan banjir di ibukota Port Villa.

Tak hanya itu, sebagian besar komunikasi di wilayah itu juga terputus. Saat angin kencang masih menghantam Port Villa pada Sabtu waktu setempat.

Juru bicara untuk lembaga bantuan anak PBB, UNICEF, Alice Clements, mengatakan topan itu seperti bahan peledak yang meledak.

"Rasanya dunia seperti akan kiamat. Seperti bom yang meledak di tengah kota. Tidak ada listrik dan air," kata Clements kepada Reuters melalui ponsel dari Port Vila.

"Kami mendengar laporan bahwa banyak korban tewas dan terluka. Kami juga mendengar banyak warga yang minta bantuan. Bahkan di Port Vila masih dilanda angin kencang," ujar Clements.

Clements menuturkan, atap-atap rumah beterbangan saat warga mencoba mencari perlindungan. Sebagian terjebak di dalam rumah tak beratap karena angin kencang masih berkecamuk di luar. Sekitar 260 ribu warga di Vanuatu tinggal di rumah beratap rumbia.

Badan Manajemen Bencana Vanuatu telah mengeluarkan peringatan 'merah' untuk beberapa tempat di berbagai provinsi. Meski pada Sabtu malam waktu setempat badai mulai bergerak perlahan-lahan ke arah selatan.

Pekerja bantuan PBB dilaporkan telah bersiap-siap untuk mengirim tim pada hari Minggu 15 Maret, tetapi diperkirakan perjalanan mereka akan terhambat karena bandara masih ditutup dan angin kencang yang tak memungkinkan mereka mendarat di sana.

Berdasarkan laporan yang beredar, 44 orang tewas di pulau-pulau terpencil di timur laut Vanuatu. U.N. Office for the Coordination of Humanitarian Affairs atau kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UNOCHA) mengatakan, pemerintah dan pekerja bantuan belum mengeluarkan jumlah resmi korban jiwa dalam musibah tersebut.

Negara tetangga Vanuatu juga terkena imbas Topan Pam, termasuk Papua Nugini, Selandia Baru dan Kepulauan Solomon. Satu orang dilaporkan tewas di Papua Nugini. Sementara akses di berbagai tempat di kawasan yang dilewati topan juga terputus.

PBB pun memperingatkan korban tewas akan meningkat.

"Kami takut yang terburuk terjadi. Vanuatu adalah tempat yang rentan karena terletak di tengah samudera," jelas kepala regional UNOCHA Sune Gudnitz.

Topan PAM adalah yang paling parah mendera di tengah Pasifik itu sejak tahun 1987. Beberapa lembaga bantuan bahkan menyandingkannya dengan kekuatan Topan Haiyan yang menghantam Filipina tahun 2013, di mana lebih dari 6.000 orang tewas. 'Topan di Filipina Peristiwa Alam, Bukan Murka Tuhan...' (Tnt/Riz)

Tag Terkait