Amuk Massa Protes Charlie Hebdo di Niger, 4 Tewas 45 Cedera

Oleh Anri Syaiful pada 17 Jan 2015, 07:01 WIB
Diperbarui 17 Jan 2015, 07:01 WIB
Penembakan di kantor majalah Prancis Charlie Hebdo.
Perbesar
Polisi memburu pelaku penyerangan di kantor majalah Prancis Charlie Hebdo. (Reuters)

Liputan6.com, Zinder, Niger - Puluhan pengunjuk rasa mengamuk dan membakar Pusat Kebudayaan Prancis dan 3 gereja di kota terbesar kedua Niger, Zinder. Massa memprotes kartun satir terbaru Nabi Muhammad yang diterbitkan majalah Prancis Charlie Hebdo.

"4 Orang tewas, termasuk seorang polisi dan 3 warga sipil. Sementara 45 orang terluka dalam kerusuhan pada Jumat kemarin (15 Januari 2015)," jelas Menteri Dalam Negeri Niger Massaoudou Hassoumi seperti Liputan6.com kutip dari Aljazeera, Sabtu (17/1/2015) pagi.

Kepada AFP, seorang saksi mata mengatakan kerumunan sekitar 50 orang menghancurkan pintu masuk Pusat Kebudayaan Prancis. Para perusuh kemudian membakar kantin, perpustakaan dan kantor. Ketika itu 2 polisi yang bertugas melesakkan tembakan peringatan.

Pihak berwenang di Zinder mengatakan, 1 Gereja Katolik dan 2 gereja Protestan turut digeledah dan dijarah. Gereja-gereja itu terletak di selatan Niger dekat perbatasan Nigeria.

"Kami belum pernah melihat kerusuhan seperti ini sebelumnya di Zinder," ujar seorang pejabat pemerintah setempat seraya menambahkan: "Ini hari Jumat hitam."

Seorang jurnalis di Zinder, Amadou Mamane melaporkan, kelompok pengunjuk rasa itu melampiaskan kemarahan di jalanan. Mereka memprotes pemuatan karikatur Nabi Muhammad oleh majalah satir asal Prancis, Charlie Hebdo.

Pada Rabu 7 Januari silam, 3 orang bersenjata menyerbu kantor majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis. Serangan teroris ini menewaskan 12 orang, yakni beberapa jurnalis, pemimpin redaksi Charlie Hebdo, dan 2 polisi.

Namun pada Rabu 14 Januari lalu majalah satir Prancis tersebut kembali menerbitkan edisi terbaru yang ber-cover kartun Nabi Muhammad. Pihak Charlie Hebdo bahkan mengklaim menyiapkan 3 juta eksemplar edisi terbaru pasca-penembakan yang menewaskan 10 jurnalisnya. (Ans)