Reaksi Pemuka Muslim Barat Terkait Cover Terbaru Charlie Hebdo

Oleh Andreas Gerry Tuwo pada 14 Jan 2015, 14:35 WIB
Diperbarui 14 Jan 2015, 14:35 WIB
Penembakan di kantor majalah Prancis Charlie Hebdo.
Perbesar
Polisi memburu pelaku penyerangan di kantor majalah Prancis Charlie Hebdo. (Reuters)

Liputan6.com, Washington DC - Tepat di hari ini majalah satire Charlie Hebdo kembali membuat kontroversi. Untuk edisi khususnya, majalah tersebut memuat gambar karikatur 'Nabi Muhammad', dalam sosok seorang pria yang mengenakan turban dengan tetesan air mata di pipinya sembari memegang tulisan 'Je suis Charlie' (Saya adalah Charlie). Di atas gambar itu terpampang tulisan dalam bahasa Prancis 'Tout est Pardonne' yang berarti, semua sudah dimaafkan.

Bukan pertama kali Charlie Hebdo menjadikan sosok 'Nabi Muhammad' sebagai covernya. Tindakan itu juga yang dijadikan alasan bagi pelaku teror untuk melakukan penyerangan ke kantor media tersebut, yang menewaskan 12 orang.

Namun, Charlie Hebdo tak kapok dengan tetap menjadikan karikatur yang menjurus ke sosok Nabi junjungan umat Muslim itu sebagai gambar sampul. Sejumlah orang menilai, pemuatan karikatur tersebut adalah simbol perlawanan. Sementara yang lain menilai, itu bentuk rekonsiliasi. Menunjukkan bahwa Rasulullah adalah seorang pemaaf yang berhati lembut.

Sejumlah pemuka agama di negara Barat seperti Amerika Serikat (AS) dan Australia mulai bereaksi. Tanggapan mereka berbeda-beda, tetapi hampir semua menyatakan tentangannya.

Seorang tokoh Muslim asal Australia, Yahya Adel Ibrahim menyatakan kekecewaannya. Ia percaya tindakan dari Chalie Hebdo adalah bentuk penghinaan.

"Sudah jelas mereka akan menerbitkan ini lagi. Umat Muslim pasti akan marah dan terluka, tetapi reaksi kami terhadap apa yang terjadi harus menjadi refleksi dari ajaran Beliau (Nabi Muhammad) yang kami cintai," sebut Ibrahim seperti dikutip dari CNN, Rabu (14/1/2015). Menentang, tapi dengan tidak melakukan kekerasan.

"Kesabaran besar, toleransi, kelembutan dan kasih sayang adalah ajaran dari Nabi yang kami cintai," sambung dia.

Pernyataan serupa juga disampaikan ulama Amerika Serikat (AS), Yasir Qadhi. Ulama ini menegaskan sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Charlie Hebdo. Tapi dia yakin hal ini bukan ditujukkan untuk mengolok-olok umat Islam.

Selain dari Yasir, ulama lain dari AS, Zaid Shakir turut buka mulut terkait Charlie Hebdo. Dia mendorong umat Muslim untuk tidak terprovokasi.

"Biarkan kita mengacuhkan provokasi ini dan pencelaan ini. Lebih baik kita menjadi sumber rahmat bagi siapa saja yang berhubungan dengan kita," sebut dia.

Majalah satire dari Prancis Charlie Hebdo kembali menempatkan gambar karikatur 'Nabi Muhammad' di edisi khusus pascateror. Menurut surat kabar Prancis Liberation, cover kontroversial itu dipilih Charlie Hebdo untuk sebuah edisi spesial yang akan dicetak sebanyak 3 juta kopian. (Ein)