Prancis Sebar 10 Ribu Prajurit Pasca-penyerangan Charlie Hebdo

Oleh Rizki Gunawan pada 12 Jan 2015, 17:49 WIB
Diperbarui 12 Jan 2015, 17:49 WIB
Penembakan di kantor majalah Prancis Charlie Hebdo.
Perbesar
Polisi memburu pelaku penyerangan di kantor majalah Prancis Charlie Hebdo. (Reuters)

Liputan6.com, Paris - Prancis meningkatkan level keamanan negara ke tingkat tertinggi usai penyerangan kantor majalah satire Charlie Hebdo dan penyanderaan di supermarket Yahudi di Paris. Sebanyak 10 ribu tentara dikerahkan untuk mengamankan seluruh penjara negara tersebut.

"10 ribu tentara akan ditempatkan di area yang diyakini rawan menjadi target teroris," ujar Menteri Pertahanan Jean Yves Le Drian, seperti dimuat New York Times, Senin (12/1/2015).

Menteri Dalam Negeri Bernard Cazeneuve menjelaskan, para tentara dan polisi diterjunkan ke lebih dari 100 sekolah Yahudi. Aparat juga diminta untuk menjaga ketat orangtua dan anak-anak.

Langkah tersebut diputuskan setelah pertemuan darurat antara Menteri Le Drian, Menteri Cazeneuve, dan Presiden Prancis Francois Hollande.

Sebelumnya Perdana Menteri Manuel Valls mengatakan, badan intelijennya mengendus adanya serangan teroris lanjutan usai insiden sebelumnya. Untuk itu, keamanan negara perlu ditingkatkan.

Sejumlah pemimpin negara datang ke Paris, termasuk Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan PM Israel Benjamin Netanyahu, mengikuti aksi damai atas serangan yang menimpa Prancis dan mengakibatkan 17 orang tewas, termasuk 12 orang di kantor Charlie Hebdo dan 5 orang di lokasi penyanderaan supermarket.

Aksi damai juga digelar di sejumlah negara, seperti Spanyol dan Kanada, sebagai aksi solidaritas untuk Prancis yang tengah dilanda teror.

Sebelumnya aksi penembakan di Charlie Hebdo telah menuai kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk dari para pemimpin komunitas Muslim dan pemuka agama Yahudi. (Riz/Ein)