Pelecehan Seksual Massal dalam Perayaan Presiden Baru Mesir

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 10 Jun 2014, 17:17 WIB
Diperbarui 10 Jun 2014, 17:17 WIB
Pelecehan seksual Mesir
Perbesar
Pelecehan seksual Mesir (YouTube)

Liputan6.com, Kairo - Perayaan pelantikan Jenderal Abdul Fattah al-Sisi sebagai Presiden Mesir yang baru di  Tahrir Square Minggu lalu, diwarnai tindakan terkutuk: pelecehan seksual massal.

Korban yang tak berdaya terjebak sendirian di tengah kerumunan pria bejat. Seorang polisi tak berseragam menarik perempuan malang itu dari kerumunan. Hanya pakaian dalam yang masih menempel di badannya yang berdarah.

Saat ia berjuang menuju mobil polisi, para pelaku tak berperikemanusiaan masih berusaha menariknya. Di latar belakang, nyala kembang api dan kibaran bendera mewarnai perayaan.

Menurut kampanye "I Saw Harassment" -- yang mendokumentasikan kekerasan seksual terhadap perempuan di Mesir. Kejadian tersebut hanya satu dari setidaknya lima insiden pelecehan seksual serupa yang terjadi di Tahrir Square malam itu.  

Serangan terharap korban terekam dalam video berdurasi kurang dari 2 menit yang  menyebar di dunia maya.

"Sangat memalukan para petinggi Kementerian Dalam Negeri tak mengantisipasi atau perencanaan insiden seperti itu," demikian pernyataan grup kampanye, seperti dimuat CNN, Selasa (10/6/2014). "Petugas junior dan individu harus menanggung malu dan kesulitan menghadapi para pelaku pelecehan seksual massal."

Empat dari lima korban seksual di alun-alun Tahrir  membutuhkan perawatan medis. Serangan terhadap mereka begitu ganas, sampai-sampai beberapa petugas dikerahkan untuk menyelamatkan mereka. Demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri Mesir.

Polisi menangkap tujuh pria kemarin, atas tuduhan pelecehan seksual setelah, dua perempuan melapor ke polisi dan mengidentifikasi penyerang mereka. Demikian ungkap seorang juru bicara Kementerian Dalam Negeri. Video dari salah satu serangan yang diposting di YouTube dijadikan bagian dari investigasi yang sedang berlangsung.

Tanggapan pihak berwenang hanya sedikit meredam kemarahan warga yang diluapkan di sosial media -- yang mengecam pemerintah dan media lokal yang kurang profesionalisme.

Seperti ini misalnya. "Mereka senang, ya?," celetuk penyiar TV Mesir Maha Bahnassy, sambil tertawa saat menerima laporan tentang pelecehan yang terjadi di alun-alun. Bahnassy sudah minta maaf secara terbuka kemarin, berdalih komentarnya disalahpahami.

Para aktivis mengatakan, komentar si presenter yang bikin marah adalah tren faksi pro-militer Mesir yang mengesampingkan kekerasan sistemik terhadap perempuan dan memuliakan setinggi langit kepala negara Mesir yang baru, jenderal pengkudeta, Sisi.

Bahkan Dewan Perempuan Nasional yang berafiliasi dengan penguasa menuding kekerasan tersebut sengaja dilakukan untuk mendiskreditkan Presiden Sisi. "Tindakan itu dimaksudkan untuk merusak kegembiraan Mesir dan 'perkawinan' mereka dengan demokrasi." Lembaga itu meminta aparat menemukan 'dalang'-nya.

Sebaliknya, aktivis perempuan membantah tuduhan itu. "Pelecehan seksual adalah epidemi sosial yang mempengaruhi semua orang, yang terjadi setiap hari. Kekerasan massa adalah bentuk ekstrem dari tindakan ini yang ironisnya dianggap normal oleh masyarakat.," kata Noora Flinkman, manajer komunikasi di HarassMap, organisasi yang memerangi pelecehan seksual. Kelompok ini menolak klaim bahwa serangan itu merupakan bagian dari tindakan politik yang terorganisir terhadap pemerintah baru.

Laporan  Badan untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan PBB tahun 2013 menemukan bahwa 99,3% perempuan Mesir telah mengalami beberapa bentuk pelecehan seksual dan lebih dari 82% responden perempuan merasa tidak aman di jalan.

Pelecehan seksual massal terjadi hanya beberapa hari setelah Mesir memberlakukan hukum terbaru untuk pelaku pelecehan seksual terhadap perempuan dengan ancaman hukuman 5 tahun.
 
Selain ancaman penjara, pelaku juga akan didenda sebesar US$ 714 atau sekitar Rp 8,4 juta. (Riz)