Kisah Nenek-nenek Korea Selatan Menjadi PSK Saat Masa Tua

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 10 Jun 2014, 13:07 WIB
Diperbarui 10 Jun 2014, 13:07 WIB
 Jongmyo Park
Perbesar
Jongmyo Park (Exploring Korea)

Liputan6.com, Seoul - Dulu, para orangtua di Korea Selatan berharap, kelak anak-anaknya akan berganti merawat mereka di masa senja. Namun, generasi tua yang bekerja keras untuk mengubah perekonomian Negeri Ginseng terpaksa gigit jari. Kaum muda ternyata punya prioritas pengeluaran uang lain: termasuk gadget, kosmetik, juga operasi plastik.

Akibatnya, sejumlah perempuan sepuh terpaksa masuk ke lingkaran prostitusi. Fakta yang mengherankan tapi nyata.

Kim Eun-ja terlihat duduk di stasiun kereta bawah tanah Jongno-3, Seoul. Matanya mengamati kondisi sekitar. Nenek 71 tahun itu mengenakan lipstik tebal, dan mantel merah mengkilap untuk membungkus kulitnya yang tipis.

Ada tas besar di sampingnya. Terdengar suara dentingan botol kaca dari dalam, saat benda itu digeser dari letaknya semula di atas beton yang dingin.

Nenek Kim adalah salah satu dari "Bacchus Ladies" di Korsel, perempuan tua yang mencari nafkah dengan menjual botol-botol kecil minuman berenergi populer, Bacchus untuk pelanggan pria.

Namun, seringkali bukan itu saja yang mereka jajakan. Beberapa dari mereka juga menjual layanan seksual.

"Kau lihat penjual Bacchus yang berdiri di sana," kata Nenek Kim. "Mereka menjual lebih daripada Bacchus. Kadang mereka keluar dengan kakek-kakek dan mendapatkan uang dari mereka. Tapi aku tak seperti mereka, meski kadang-kadang ada yang menawarku saat aku berdiri di gang."

Tapi Nenek Kim bergeming. "Aku selalu menjawab, 'Tidak'.

Sang nenek mengaku mendapatkan uang sekitar 5.000 won atau Rp 60 ribu per hari dari berjualan minuman berenergi.

Pusat perdagangan seks bawah tanah adalah taman terdekat di jantung kota Seoul. Jongmyo Park, di mana para kakek berkumpul, bermain catur dan bergosip.

Taman tersebut dibangun mengelilingi kuil Konfusius -- yang ide-idenya tentang memuliakan orang tua telah membentuk budaya Korea selama berabad-abad. Namun, di bawah pohon, transaksi antara pria dan perempuan sepuh mengisahkan fakta yang terjadi di masyarakat Korsel di Abad ke-21.

Para nenek, di usia 50, 60, bahkan 70-an tahun berdiri di ujung taman, menawarkan minuman berenergi, yang bisa berakhir di sebuah motel murah terdekat.

Korban Kejaiban Ekonomi Korsel

Mengerumuni dua pemain catur Korea, sekelompok kakek dengan kening berkerut memperhatikan jalannya permainan. Sekitar setengah dari mereka pernah menerima 'layanan' Bacchus Ladies.

"Kami kan pria, rasa penasaran terhadap perempuan masih tetap ada," kata seorang kakek berusia 60 tahun. Sebut saja dia Kim.

"Kami membeli minuman dan menyelipkan sedikit uang ke tangan mereka, dan terjadilah!," kata dia, tersenyum geli. "Pria membutuhkan perempuan, tak peduli tua atau muda, aktif secara seksual atau tidak. Psikologis pria lah.."

Kakek lainnya, berusia 81 tahun, memamerkan uang jajannya selama sehari. "Ini untuk minum dengan teman-temanku," kata dia. "Kami juga bisa mendapatkan pacar di sini -- dari para perempuan yang berdiri di sana. Mereka menawarkan diri."

Sekali mengumbar nafsu, para kakek harus mengeluarkan uang 20.000 sampai 30.000 atau Rp 240 ribu sampai Rp 360 ribu. "Kadang dapat diskon kalau mereka mengenalmu."

Orang-orang sepuh di Korsel sejatinya adalah korban dari kesuksesan ekonomi negaranya.

Mereka yang dulu bekerja keras menciptakan 'keajaiban ekonomi' Korea, menginvestiasikan tabungan mereka demi generasi mendatang. Dalam masyarakat Konfusius diyakini, anak-anak yang sukses adalah bentuk pensiun terbaik.

Namun, perubahan sikap terjadi secepat bergantinya standar hidup, dan sekarang banyak kaum muda mengaku tidak mampu untuk menghidupi diri mereka sendiri dan orang tua mereka di masyarakat yang sangat kompetitif.

Pemerintah bekerja keras menciptakan sistem kesejahteraan. Sementara itu, para kakek dan nenek di Jongmyo Park tak punya tabungan, tak ada dana pensiun cukup, dan keluarga untuk bersandar hidup. Menjadi 'orang asing' di tanah air mereka sendiri.

"Aku berusia 60 tahun dan tak punya uang. Aku tak bisa percaya 100 persen pada anak-anak untuk merawatku. Mereka dalam masalah besar dan sedang mempersiapkan diri menghadapi masa tua. Setiap orang di sini menghadapi situasi yang sama," kata Kakek Kim.

Dr Lee Ho-Sun, peneliti fenomena kemiskinan di masa tua di Korsel mengatakan, fenomena penjaja Bacchus adalah hasil dari jenis baru kemiskinan di masa tua.

Salah satu nenek yang ia wawacarai mengaku menjadi PSK di usia 68 tahun. Dari sekitar 400 perempuan sepuh yang mencari nafkah di taman, ketika masih anak-anak diajarkan bahwa kehormatan lebih penting dari apapun.

Tapi ajaran itu tak lagi berlaku saat ini. "Aku lapar, aku tak perlu kehormatan dan dihormati. Yang kubutuhkan adalah makan 3 kali sehari," kata seorang nenek PSK, seperti ditirukan Dr Lee Ho-Sun.

Polisi, yang secara rutin berpatroli di sekitar taman jarang melakukan penangkapan. Para aparat, secara pribadi, menilai, masalah itu tidak akan pernah bisa diselesaikan dengan tindakan keras. Warga senior membutuhkan pelampiasan stres dan hasrat seksual, dan kebijakan yang perlu diubah.

Padahal, di dalam tas-tas yang dibawa Bacchus Ladies, tersembunyi epidemik, dari alat yang membantu para kakek aktif secara seksual. Jarum itu bisa dipakai 10 sampai 20 kali. Akibatnya, hasil survei kesehatan menunjukkan, 40% dari orang yang diuji memiliki penyakit menular seksual.

Akhirnya, pendidikan seks yang biasanya diberikan pada kaum muda mulai diberikan pada para manula.

Mereka yang membangun negeri harus berhadapan dengan situasi kompetitif, makanan yang mahal, dan langkanya kehangatan dan kepedulian orang lain. Membeli dan menjajakan cinta dianggap jalan keluar. (Tnt)