Penjelasan Itang Yunasz tentang Fashion Show di Tanah Abang

Oleh Bio In God Bless pada 08 Mei 2015, 16:35 WIB
Diperbarui 08 Mei 2015, 16:35 WIB
Itang Yunasz 5
Perbesar

Liputan6.com, Jakarta Anda mungkin tak pernah mengira bahwa ada sebuah fashion show yang diselenggarakan di Tanah Abang. Namun itulah yang dihadirkan desainer kenamaan Indonesia Itang Yunasz. Desainer yang pada tahun 2000 mendeklarasikan diri sebagai perancang busana Muslim ini menghelat sebuah peragaan busana label Kamilaa yang bertajuk `Ragam Puspa Andalas`.

Apa inspirasi dibalik koleksi untuk Ramadan dan Idul Fitri itu? Dan mengapa Itang masuk ke segmentasi pasar seperti Blok B Tanah Abang? Berikut ini adalah penjelasan Itang Yunasz kepada Liputan6.com yang diberikan dalam sebuah wawancara khusus, Rabu 29 April 2015 di butiknya di bilangan Permata hijau.

Bisa cerita tentang koleksi  terbaru Kamilaa?
Koleksi terbaru Kamilaa dengan tema Puspa Ragam Andalas ini adalah untuk Ramadan Idul Fitri. Sumatra memiliki ragam budaya yang berwarna-warni seperti bunga. Oleh karena itulah koleksi tersebut dinamakan Puspa Ragam Andalas. Ada beberapa motif dari Aceh hingga Palembang yang dimasukkan dalam koleksi ini. Di koleksi ini Kamilaa memberikan banyak ragam pilihan untuk masyarakat, mulai dari tunik, gamis, kaftan, jaket, celana, rok, dan lain sebagainya.



Kapan label Kamilaa ini berdiri?
Kamilaa berdiri pada tahun 2012. Ini merupakan kontribusi fesyen saya untuk masyarakat level menengah ke bawah. Tapi yang cukup mengejutkan adalah bahwa masyarakat menengah ke atas pun ternyata suka dengan label Kamilaa.

Banyak orang yang tak yakin saat saya menjajaki pasar Tanah Abang. Pandangan umum melihat bahwa baju desainer itu selalu mahal. Ternyata setelah 3 tahun berjalan, banyak yang kemudian menyadari bahwa segmen dengan potensi besar ini juga bisa dirambah oleh seorang desainer.



Apa masyarakat level menengah ke bawah memiliki hype fesyen yang sama dengan kalangan menengah ke atas?
Saat ini masyarakat lapisan menengah ke bawah juga excited dengan fesyen. Mereka melihat apa yang dikenakan oleh para selebriti. Terhadap hal ini perlu diberikan arahan. Itulah yang coba disyiarkan oleh Kamilaa.

Apakah, melalui Kamilaa, Anda berusaha mengakrabkan target konsumennya dengan rancangan-rancangan desainer?
Dengan sendirinya seperti itu. Semenjak saya menjadi desainer fesyen, obsesi saya adalah menciptakan busana-busana untuk segala lapisan masyarakat.

Berapa rentang harga produk-produk Kamilaa?
Rentang harganya secara umum adalah Rp 100.000 – Rp 300.000. Untuk momen-momen khusus, misalnya Idul Fitri, ada juga produk-produk spesial yang ditawarkan dengan harga Rp 600.000.



Apa saran yang ingin diberikan untuk para pembuat busana yang bergerak di bidang busana Muslim?
Saya melihat bahwa pembuat busana Muslim dalam bisnis ini adalah orang-orang yang tidak memiliki latar belakang sekolah desain. Masukan dari saya adalah agar mereka masuk ke sekolah desain. Sebab membuat busana dalam fesyen bukan sekadar tentang menggambar dan membuat pola. Dalam mendesain seseorang perlu mempelajari berbagai hal, termasuk sejarah kebudayaan.

Setelah lulus sekolah sebaiknya orang itu bekerja dulu dengan desainer yang sudah mapan. Saya banyak menerima orang-orang untuk magang atau praktik kerja lapangan. Saya akan melihat bagaimana kemampuan mereka dan memberi saran-saran kepada mereka. Saya saat ini sedang bekerja sama dengan seorang desainer dalam membangun sebuah institut busana muslim di Bandung. Di sana akan diajarkan bagaimana mendesain busana dengan baik dan juga bernilai jual. Jadi nantinya, setelah fashion show, yang didapat bukan hanya tepuk tangan saja tapi juga deal bisnis.

(bio/ret)