Romansa Busana Sebastian Gunawan Tutup Bazaar Fashion Festival

Oleh Bio In God Bless pada 27 Okt 2014, 19:35 WIB
Diperbarui 27 Okt 2014, 19:35 WIB
Bazaar Fashion Festival 2014 - Sebastian Gunawan 01
Perbesar

Liputan6.com, Jakarta Koleksi desainer Sebastian Gunawan (Seba) di fashion show penutup Bazaar Fashion Festival 2014 pada Minggu, 26 Oktober 2014, di Jakarta Convention Center mengambil karya-karya pelukis genre Still Life asal Denmark, Johan Laurentz Jensen (1800-1856), sebagai inspirasinya.

Still Life yang muncul pada abad ke-16 adalah cabang lukis yang mengangkat objek-objek keseharian, seperti bunga dalam vas, buah di mangkuk, peranti makan, dan benda-benda lainnya. Lukisan-lukisan bunga berlatar gelap karya J.L. Jensen oleh Seba dikatakan sebagai “sebuah lukisan sederhana namun bisa memberi senses yang begitu banyak”.

Ragam rasa yang Seba rasakan dalam lukisan-lukisan itu membuahkan koleksi yang diberi nama `Melange des Sens`, ungkapan bahasa Prancis yang berarti `Campuran Berbagai Rasa`. “Saya merasa lukisan-lukisannya itu maskulin tapi feminin, romantis dan misterius, happiness but also sadness, hard yet soft. Karya-karya lukis itu berada pada garis in between negative and positive about life,” ucap Seba kepada Liputan6.com yang berbincang dengannya setelah gelaran busana selesai.

Koleksi couture Melange des Sens ini diisi dengan warna-warni tua dan dominan berpadu dengan warna hitam yang tentunya bermotif bunga. Melalui midi dress dengan aksen ruffle membentuk pita di bagian pinggang atau bahu, cape dress panjang, mermaid dress bermodel gelembung di bagian pinggang hingga lutut, bustier dress dengan belahan asimetris dalam bentuk ruffle, ball gown berpinggang lebar berhias head veil, dan karya-karya lainnya, Seba menghadirkan kembali classical couture ke kancah fesyen Indonesia.

Satu hal yang dapat dirasa dari koleksi Melange des Sens ini ialah bahwa koleksi tersebut membawa romansa klasikalitas couture nan megah. Desain-desain busana koleksi ini yang kaya akan ragam bentuk itu menjadi petanda (atau lebih tepatnya pengingat) mahirnya technical skill Seba dalam rancang busana. Saat Liputan6.com meminta tanggapannya tentang banyak desainer muda Indonesia yang mengambil jalur ready-to-wear dengan desain clean-cut, Seba mengatakan “Tiap desainer punya hak untuk melakukan what they want to do”.

Rancangan-rancangan Seba di Melange de Sens memang tak sesederhana lukisan-lukisan Still Life karya J.L. Jensen. Tapi bahwa koleksi tersebut merupakan wujud dari kompleksitas rasa yang Seba dapat kala melihat lukisan-lukisan J.L. Jensen, dan tentunya hal itu tertuang dalam desain-desain kompleks yang butuh kemahiran tersendiri untuk mewujudkannya, nampak sebagai sebuah contoh nyata bahwa sebuah kesederhanaan tak serta merta dapat diartikan sebagai hal remeh-temeh.

Sekadar catatan, pada abad ke-17, lukisan bergenre Still Life ditempatkan pada posisi terbawah dalam hierarki seni lukis. Genre lukis Still Life dianggap sebagai sesuatu yang tak mencerminkan kualitas intelektual atau kreatifitas imajinasi.

Ada kalanya kesederhanaan dan kompleksitas adalah 2 sisi berbeda dari koin yang sama. Melange des Sens karya Seba adalah sisi lain dari koin lukisan The Life dari J.L. Jensen. Setidaknya hal itu nyata dalam alam rasa Sebastian Gunawan.

 

(Fotografer: Panji Diksana - Liputan6.com)