Mengenal Stimming, Gerakan Berulang pada Penyandang Autisme

Oleh Fitri Syarifah pada 18 Sep 2022, 15:00 WIB
Diperbarui 18 Sep 2022, 15:00 WIB
Ilustrasi anak autisme. Photo by Caleb Woods on Unsplash
Perbesar
Ilustrasi anak autisme. Photo by Caleb Woods on Unsplash

Liputan6.com, Jakarta Jika Anda adalah orang tua autisme, kemungkinan Anda pernah melihat anak menunjukkan perilaku stimming (stimulasi diri) berulang seperti mengepakkan tangan, berputar, dan gemetar. Perilaku ini bisa mengkhawatirkan jika tidak sepenuhnya dipahami.

Dilansir dari Autism Parenting Magazine, stimming adalah cara singkat untuk menggambarkan "stimulasi diri". Singkatnya, stimming mengacu pada perilaku yang merangsang diri sendiri, biasanya melibatkan gerakan atau suara yang berulang.

Meskipun stimming adalah salah satu dari banyak kemungkinan indikator spektrum autisme atau memiliki ADHD, perilaku stimming tidak selalu berarti seseorang adalah neurodivergent.

Seseorang yang melakukan stimming cenderung menunjukkan gerakan tubuh yang berulang (seperti mengayun) yang dapat melibatkan semua panca indera, atau mereka mungkin memindahkan objek dalam gerakan berulang. Anda mungkin juga mendengar stimming yang disebut sebagai "stereotypy."

Stimming dapat berupa kepakan tangan, suara verbal atau tics (latah), gerakan lain seperti mengayun, dan masih banyak lagi perilaku lainnya. Ada beberapa alasan stimming dapat terjadi pada anak-anak dan orang dewasa dengan autisme.

Berikut ini beberapa jenis stimming paling umum dan kemungkinan pemicunya.

1. Mengepakkan tangan

Dari semua perilaku stimming, mengepakkan tangan mungkin salah satu yang paling terlihat pada anak-anak dengan ASD. Ini adalah jenis perilaku berulang yang dapat terjadi untuk jangka waktu pendek atau panjang.

Mengepakkan tangan dapat menampilkan dirinya sebagai perilaku stimming dalam banyak cara, termasuk:

- Menggerakkan jari dengan penuh semangat

- Menjentikkan jari

- Menggerakkan lengan

Sebagian besar waktu, mengepakkan tangan tidak perlu dikhawatirkan dan perilaku tersebut dapat dipicu oleh salah satu hal berikut:

- Kegembiraan

- Gugup

- Gelisah

- Gerakan tubuh berkurang

Mengepakkan tangan hanya perlu dikhawatirkan jika mengakibatkan cedera diri atau menghalangi kehidupan sehari-hari anak, dengan membatasi penggunaan tangannya.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


2. Stimulasi verbal dan pendengaran

 

Stimulasi pendengaran adalah setiap perilaku berulang yang berpotensi memengaruhi indera pendengaran atau komunikasi efektif seseorang. Ini mungkin termasuk:

- Pidato berulang (kata-kata yang dipelajari seperti lirik lagu, baris film, bagian buku)

- Menutup atau mengetuk telinga, menjentikkan jari, atau mengetuk benda berulang kali

- Suara bersenandung, mendengus, atau bernada tinggi

3. Stimulasi visual

Stimming visual adalah perilaku yang terhubung dengan indera penglihatan seseorang. Ini mungkin termasuk:

- Menatap kosong pada objek

- Mengepakkan tangan (seperti dijelaskan di atas)

- Berbaris benda-benda seperti mainan

- Berkedip berulang kali

- Menyalakan dan mematikan lampu

4. Stimulasi taktil

Stimming taktil mengacu pada perilaku berulang yang terhubung dengan indera peraba seseorang. Contohnya mungkin termasuk:

- Menggosok atau menggaruk tangan atau benda

- Gerakan tangan yang berulang-ulang seperti membuka dan menutup kepalan tangan

- Mengetuk jari berulang kali

- Pertahanan taktil

 


5. Stimulasi vestibular

 

5. Stimulasi vestibular

Stimulus vestibular adalah perilaku yang terkait dengan rasa keseimbangan dan gerakan seseorang. Ini mungkin termasuk:

- Goyang bolak-balik atau sisi ke sisi

- Berputar atau berputar

- Melompat berulang kali

- Tergantung terbalik

6. Stimming indera penciuman atau pengecap

Stimulasi penciuman berpusat di sekitar indera perasa dan penciuman seseorang. Ini termasuk perilaku berulang seperti:

- Benda-benda berbau

- Mencicipi benda yang tidak biasa

- Menjilat tangan atau benda

 


Mengepakkan Tangan Bukan Berarti Anak Memiliki Autisme

Salah satu hal yang membuat anak-anak atisme berbeda adalah kebanyakan dari mereka menunjukkan toleransi yang lebih rendah ketika mendapat banyak masukan sensorik. Atau mereka tidak pandai 'menutupi' ketidaknyamanan mereka sebagai siswa neurotipikal.

Karena beberapa orang mengalami kesulitan mengelola input sensorik mereka, mereka mungkin menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Dengan tidak biasa, dalam artian perilakunya kurang dapat diterima secara sosial oleh sebagian besar norma masyarakat saat ini. Itu tidak berarti norma-norma itu benar dan harus diterima tanpa pertanyaan, itu hanya berarti 'ada'.

Misalnya, setiap anak dapat mengepakkan tangan atau melompat ketika bersemangat. Mengepakkan tangan tidak selalu merupakan indikasi ASD, kecuali jika dipasangkan dengan perilaku lain.

Tapi, bisa juga hanya anak yang bersemangat mengepakkan tangan atau lengannya karena sedang bersemangat, seperti mendapat kejutan yang disukai anak, misalnya. Setelah menerima informasi tersebut, anak mungkin melompat-lompat, beberapa mungkin memekik, beberapa mungkin menarik teman, dan beberapa mungkin mengepakkan tangan.

Kiat untuk mengurangi perilaku stimming

Dalam kebanyakan kasus, stimming tidak berbahaya dan tidak perlu dihentikan atau ditekan. Karen Wang, penulis buku My Baby Rides the Short Bus: The Unmalushedly Human Experience of Raising Kids With Disabilities percaya, setiap rangsangan yang dihilangkan oleh pengasuh kemungkinan akan diganti dengan yang baru.

Meskipun demikian, beberapa orang tua mungkin ingin mengurangi perilaku stimming tertentu untuk menghindari melukai diri sendiri atau membantu mempertahankan tingkat penerimaan sosial . Misalnya, pengasuh mungkin menggunakan helm autisme untuk mencegah anak melukai dirinya sendiri saat membenturkan kepala.

Jika Anda mengkhawatirkan keselamatan anak Anda, berikut adalah beberapa ide untuk mengurangi perilaku stimming.

1. Singkirkan kondisi medis

Beberapa kondisi medis seperti infeksi telinga, migrain, dan nyeri fisik dapat memperburuk perilaku stimming pada orang autisme, jadi penting untuk memeriksakan dan menanganinya sesegera mungkin.

Sangat sulit untuk mengetahui apakah ada masalah medis jika anak Anda non-verbal, jadi ada baiknya mengunjungi dokter Anda secara teratur. Jika suatu kondisi medis adalah alasan untuk stimming, itu dapat dikurangi atau dihentikan sama sekali dengan pengobatan dan dukungan.

2. Mengajak latihan

Penelitian telah menunjukkan aktivitas fisik dapat melepaskan ketegangan dan mengurangi rangsangan pada orang dengan autisme. Melibatkan orang autis untuk berolahraga selama beberapa menit setiap hari dapat membantu menghentikan stimming sampai batas tertentu.

3. Ciptakan lingkungan yang tenang dan aman

Pastikan rumah Anda adalah tempat yang aman dan tenang untuk mencegah stres dan kecemasan (yang sering kali dapat menyebabkan stimming). Rumah anak Anda harus menjadi tempat di mana sebagian besar faktor luar yang memicu stimming dihindari, menciptakan lingkungan terbaik bagi anak.

4. Gunakan stimming sebagai hadiah

Penggunaan perilaku stimming dapat ditawarkan sebagai hadiah setelah aktivitas yang menantang. Ini mungkin terdengar aneh, tetapi mengadopsi strategi ini berarti anak autisme memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya dengan cara yang dia pilih (dan ia mungkin kurang merangsang sepanjang hari) (Moore, 2008).

Meskipun ada banyak pendekatan yang dapat dilakukan orang tua dan pengasuh untuk membantu mengelola rangsangan anak, cara yang paling efektif adalah dengan menanamkan pengaturan diri. Dipercaya secara luas bahwa stimming dapat berkurang ketika seorang anak belajar mengelola emosinya.

Banyak anak autisme mengalami kesulitan mengenali emosi mereka sendiri serta perasaan orang lain. Oleh karena itu, mendorong anak autisme untuk menggambarkan apa yang ia rasakan dapat menjadi tantangan, tetapi itu mungkin.

Berikut adalah beberapa tips untuk membantu anak autisme belajar mengenali dan mengatur emosi (Naseef, Ariel, 2006):

1. Jelaskan kepada anak mengapa ia mungkin berperilaku dengan cara tertentu. Ini adalah langkah pertama untuk membantunya memahami bentuk-bentuk emosi. Biarkan anak tahu bahwa orang lain juga mengalami perasaan ini, tetapi ada cara untuk mengatasinya.

2. Pahami kepekaan anak dan reaksi unik terhadap situasi dan buat rencana tindakan. Misalnya, jika anak merasa cemas di ruangan yang bising, ajari ia untuk mencari tempat yang tenang untuk menenangkan diri.

3. Siapkan dan informasikan. Ketika situasi, mungkin peristiwa sosial, mungkin terjadi yang akan menyebabkan anak stres, beri tahu ia sebelumnya dan tantang anak untuk melewatinya dengan janji hadiah ketika ia berhasil.

 

Infografis Ratu Inggris Elizabeth II Meninggal Dunia. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Ratu Inggris Elizabeth II Meninggal Dunia. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya