Tak Perlu Tunggu Anak 1 Tahun, Skrining Autisme Kini Bisa Dilakukan Lewat Aplikasi Ponsel

Oleh Fitri Syarifah pada 10 Sep 2022, 10:00 WIB
Diperbarui 10 Sep 2022, 10:00 WIB
Konpers Peluncuran Skrining Autisme
Perbesar
Konpers Peluncuran Skrining Autisme

Liputan6.com, Jakarta Berawal dari kekhawatiran sejumlah dokter akan banyaknya anak autisme yang sulit mendapatkan diagnosis dan terapi di daerah, kini orangtua bisa segera mencoba skrining autisme secara online.

Ahli Neurologi Anak, Advisor TentangAnak & Founder @AnakkuID Prof. Dr. dr. Hardiono D. Pusponegoro mengatakan, skrining autisme bahkan bisa dilakukan sejak anak usia kurang dari 1 tahun. Sehingga orang tua tidak perlu menunggu gejala lain yang terkait tumbuh kembangnya.

"Jika orang tua telah mendeteksi tanda-tandaketerlambatan pada perkembangan anaknya, orang tua sebaiknya tidak diam saja ataumenunggu kemajuan perkembangan anak dengan sendirinya. Karena mendeteksi danmenangani keterlambatan perkembangan sejak dini akan menghasilkan pertumbuhanyang lebih baik," kata Prof Hardiono dalam konferensi pers, ditulis Sabtu (10/9/2022).

Menurut Prof Hardiono, setelah mendeteksi gangguan anak melalui fitur skriningautisme di aplikasi Tentang Anak dan mendapatkan hasil bahwa anak mengalamigangguan ASD, orang tua dianjurkan untuk mendiagnosis lebih lanjut jenis gangguantersebut dengan ahlinya.

"Lalu mengobati apa yang bisa diobati, merujuk terapi yang tepat sesuai dengan diagnosis, konseling dan langkah terakhir untuk rujuk konsultasi selanjutnya," ujarnya.

Prof Hardiono pun menyampaikan peringatan (red flags) jika anak memiliki gejala seperti:

- Tidak ada babbling, menunjuk atau mimik yang baik pada umur 12 bulan.

- Tidak ada kata pada umur 16 bulan

- Tidak ada 2 kata spontan pada umur 2 tahun

- Hilangnya kemampuan bicara atau kemampuan sosial pada semua umur

- Tidak menoleh bila dipanggil namanya dari belakang umur 6 bulan

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Orangtua Dapat Segera Skrining Jika Melihat Gejala ASD

dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, Dokter Spesialis Anak yang juga Founder & CEO Tentang Anak mengatakan, fitur skrining autisme merupakan hasil kolaborasi bersama Prof. Dr. dr. Hardiono D.Pusponegoro dan dokter spesialis anak Jennie Dianita Sutantio.

”Setelah diluncurkannya fitur skrining autisme di aplikasi Tentang Anak, kini orang tua dapat dengan mudahnya memonitor perkembangan persona-sosial anak dengan mengenali gejala atau gangguan awal terkait ASD seperti ketika anak terlambat bicara," ujarnya.

 


Kenali Gejala Gangguan atau Kriteria ASD pada Anak

1. Gangguan sosial emosional, seperti mimik muka datar, sering tidak bereaksi, kontak mata kurang, cuek, tidak bermain dengan anak lain, tidak berbagi, tidak respons emosi timbal balik, dan tidak ada pretend play.

2. Gangguan komunikasi, seperti tidak bicara, speech delay, bicara aneh atausulit dimengerti dan ekolalia (mengulang kata-kata).

3. Gangguan interaksi sosial, seperti tidak memulai interaksi, menjawab seadanya, tidak bisa berinteraksi dalam waktu yang lama.

4. Anak menunjukan perilaku yang stereotipe, atau perilaku berulang kalidengan intensitas yang tidak wajar.

5. Gejala terjadi sejak usia dini, bahkan sudah dapat terlihat ketika usia kurangdari 3 tahun.

6. Gejala dapat berubah dengan umur dan terapi.

7. Gejala dapat menetap, terutama gangguan interaksi sosial.

 


Yang Orangtua Bisa Lakukan

Jika terjadi beberapa gejala atau gangguan seperti yang disebutkan di atas, orangtua dapat melakukan:

- Skrining ASD sudah tersedia secara online di aplikasi Tentang Anak, hasil kolaborasi bersama @AnakkuID dengan dua jenis skrining yang tersedia:

a. Untuk anak usia 10-14 bulan bisa menggunakan ESAT (earlyscreening autistic trait).

b. Untuk anak usia 18-30 bulan bisa menggunakan M-CHAT.

Saat ini WHO memperkirakan 1 dari 160 anak merupakan penyandang autisme, sedangkan di Indonesia, Kemenpppa menyatakan dengan perhitungan laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,14 persen, memperkirakan Indonesia memiliki penyandang ASD sebanyak 2,4 juta orang dengan pertambahan penyandang baru 500 orang/tahun.

 

Infografis Ratu Inggris Elizabeth II Meninggal Dunia. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Ratu Inggris Elizabeth II Meninggal Dunia. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya