Daftar Obat Penenang bagi Penyandang Disabilitas Mental dan Kondisi Kesehatan Lainnya

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 13 Agu 2022, 14:00 WIB
Diperbarui 13 Agu 2022, 14:00 WIB
Ilustrasi obat penenang
Perbesar
Ilustrasi obat penenang (Foto: unsplash.com/Michael Longmire)

Liputan6.com, Jakarta Orang dengan disabilitas mental seperti bipolar, gangguan kecemasan (anxiety disorder), dan Depresi umumnya diberi resep obat penenang oleh dokter untuk mengatasi gejala yang timbul.

Ada beberapa obat penenang yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan yakni:

Benzodiazepin

Benzodiazepin mengobati berbagai kondisi, termasuk serangan panik, insomnia, kejang, depresi, kejang otot yang menyakitkan.

Contoh benzodiazepin meliputi diazepam (Valium), alprazolam (Xanax), klonazepam (Klonopin), lorazepam (Ativan).

Barbiturat

Barbiturat membantu meredakan kecemasan dan mengobati kejang.

Contoh barbiturat meliputi fenobarbital (Luminal), amobarbital (Natrium Amytal), butalbital (Fiorinal), pentobarbital (Nembutal).

 

Hipnotik

Ini adalah obat penenang yang juga dikenal sebagai obat tidur nonbenzodiazepine atau obat Z. Hipnotik mirip dengan benzodiazepin tetapi menyebabkan lebih sedikit efek samping. Dokter biasanya menggunakan hipnotik untuk mengobati gangguan tidur.

Contoh hipnotik antara lain zolpidem (Ambien), eszopiklon (Lunesta), zaleplon (Sonata).

Antihistamin generasi pertama

Beberapa antihistamin memiliki sifat penenang dan berguna dalam mengobati masalah tidur ringan.

“Antihistamin tersedia tanpa resep dan termasuk difenhidramin (Benadryl), dimenhidrinat (Dramamin), bromfeniramin (Dimetapp),” mengutip Medical News Today, Jumat (12/8/2022).

Obat lainnya

Obat lain yang memperlambat aktivitas otak dan memiliki efek sedasi tapi menggunakan mekanisme yang berbeda dari yang digunakan obat penenang yakni opioid, alkohol, anestesi umum, relaksan otot, antidepresan, antipsikotik.

Beberapa contoh obat resep ini meliputi oksikodon (OxyContin), morfin (Roxanol), baclofen (Lioresal), gamma-hidroksibutirat (Xyrem), amitriptilin (Elavil), olanzapin (Zyprexa).

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Memperlambat Aktivitas Otak

Ilustrasi depresi
Perbesar
Ilustrasi depresi. (Ade Nasihudin/Liputan6.com).

Sebagian orang menggunakan obat penenang untuk membantu merasa lebih tenang, rileks, dan mendapatkan tidur yang lebih nyenyak.

Obat penenang atau depresan sistem saraf pusat (sedative) adalah sekelompok obat yang memperlambat aktivitas otak.

Biasanya dokter meresepkan obat penenang untuk mengobati kondisi seperti:

-Gangguan kecemasan

-Gangguan tidur

-Kejang

-Ketegangan

-Gangguan panik

-Sindrom penghentian alkohol

Namun, obat penenang adalah obat yang sering disalahgunakan orang. Penyalahgunaan obat penenang dan memperpanjang penggunaannya dapat menyebabkan ketergantungan dan gejala penghentian obat.

Obat penenang memiliki banyak kegunaan klinis. Misalnya, dapat menginduksi sedasi (efek tenang) sebelum prosedur pembedahan, dan ini dapat berkisar dari sedasi ringan hingga anestesi umum.

Dokter juga memberikan obat penenang dan analgesik kepada individu untuk mengurangi kecemasan dan memberikan penghilang rasa sakit sebelum dan sesudah prosedur.

Ahli anestesi kebidanan juga dapat memberikan obat penenang kepada orang yang mengalami kesusahan atau kegelisahan selama persalinan.

Karena kemampuannya untuk meredakan stres dan kecemasan fisik serta meningkatkan relaksasi, dokter dapat juga meresepkan obat penenang untuk penderita insomnia, gangguan kecemasan, dan kejang otot.

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Efek Samping

Alkohol dan Obat Penenang
Perbesar
Ilustrasi Alkohol dan Obat Penenang Credit: pexels.com/Karolina

Orang dengan gangguan bipolar, gangguan stres pasca-trauma, dan kejang juga dapat mengambil manfaat dari obat penenang yang diresepkan.

Obat penenang bertindak dengan meningkatkan aktivitas asam gamma-aminobutyric otak (GABA). Hal ini dapat memperlambat aktivitas otak secara umum.

Terhambatnya aktivitas otak menyebabkan seseorang menjadi lebih rileks, mengantuk, dan tenang. Obat penenang juga memungkinkan GABA memiliki efek penghambatan yang lebih kuat pada otak.

Meskipun obat penenang memiliki efek klinis yang dibutuhkan, tapi mereka juga dapat menyebabkan beberapa efek samping jangka pendek yang tidak diinginkan, termasuk:

-Kesulitan untuk fokus dan konsentrasi

-Hilang ingatan

-Waktu reaksi lambat

-Gangguan persepsi kedalaman dan jarak

-Ketidakmampuan untuk merasakan sakit

-Kebingungan

-Bicara cadel

-Tekanan darah rendah

Penggunaan obat penenang jangka panjang dapat menyebabkan:

-Kecemasan

-Kelelahan kronis

-Penambahan berat badan

-Depresi

-Pikiran untuk bunuh diri

Orang yang menggunakan obat penenang perlu berhati-hati saat menggunakan ganja karena obat tersebut dapat meredam efek obat penenang. Satu studi tahun 2019 menunjukkan bahwa orang yang menggunakan ganja secara teratur membutuhkan dosis obat penenang yang lebih tinggi.


Penyalahgunaan Obat Penenang

Ilustrasi obat penenang (Istimewa)
Perbesar
Ilustrasi obat penenang (Istimewa)

Orang yang memakai obat penenang yang berencana untuk hamil harus konsultasi dengan dokter. Studi 2019 lainnya menunjukkan bahwa penggunaan obat anti-kecemasan selama awal kehamilan meningkatkan risiko preeklamsia dan juga dapat menyebabkan kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah.

Penyalahgunaan obat penenang, yang berarti meminumnya dalam jumlah atau cara selain yang diresepkan dokter, dapat memiliki efek merugikan bagi seseorang, termasuk overdosis.

Menggabungkan obat penenang dengan depresan lain dapat menyebabkan efek gabungan dan jauh lebih signifikan. Pada tahun 2018, 899 orang berusia 15-24 tahun meninggal karena terlalu sering menggunakan obat resep, menurut National Institute on Drug Abuse.

Sebagian besar kematian ini terjadi akibat penggunaan benzodiazepin dengan obat opioid.

Satu studi tahun 2017 menunjukkan bahwa orang yang menggunakan opioid dan benzodiazepin memiliki risiko overdosis opioid.

Sebuah penelitian serupa menunjukkan bahwa orang yang menggunakan kedua jenis obat tersebut memiliki risiko 10 kali lipat meninggal akibat overdosis dibandingkan dengan mereka yang hanya menggunakan opioid.

Alkohol adalah depresan kuat lainnya yang dapat berinteraksi dengan obat serta meningkatkan efek obat penenang. Ini menyebabkan peningkatan sedasi dan gangguan yang lebih signifikan. Efeknya bisa memperlambat atau bahkan menghentikan pernapasan dan fungsi jantung seseorang.

 

Infografis Ciri-Ciri Orang Miliki Gangguan Kesehatan Mental
Perbesar
Infografis Ciri-Ciri Orang Miliki Gangguan Kesehatan Mental. (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya