Sebabkan Disabilitas Fisik, Kenali Tanda Awal Komplikasi Ekstremitas Bawah Terkait Diabetes

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 14 Apr 2022, 18:00 WIB
Diperbarui 14 Apr 2022, 18:00 WIB
FOTO: Melihat Semangat Para Penyandang Disabilitas akibat Amputasi Beraksi di Masa Pandemi
Perbesar
Seorang pemain klub Al-Jazeera (hitam) menggiring bola dalam pertandingan final kejuaraan lokal sepak bola korban amputasi melawan Al-Abtal yang diselenggarakan oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC), di tengah pandemi COVID-19, di Kota Gaza, Palestina, (18/3/2021). (AFP/Mohammed Abed)

Liputan6.com, Jakarta Pengidap penyakit gula memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi ekstremitas bawah terkait diabetes yang berujung pada amputasi dan disabilitas fisik.

Kondisi yang juga dikenal sebagai Diabetes-Related Lower Extremity Complications (DRLEC) acap kali tidak disadari karena banyak pasien tidak memiliki gejala apapun.

Menurut Associate Professor Saw Swee Hock School of Public Health (SSHSPH) Kavita Venkataraman, tanda-tanda awal DRLEC dapat termasuk:

-Berkurangnya sensasi di kaki atau jari-jarinya.

-Mati rasa atau sensasi kesemutan.

-Rasa sakit di kaki.

-Nyeri di betis, paha, atau pantat saat berjalan dan hilang saat berhenti.

“Mati rasa atau nyeri lebih mungkin terjadi pada jari kaki dan kaki karena kerusakan saraf akibat diabetes bergantung pada panjangnya saraf. Semakin panjang saraf, semakin besar kemungkinan akan terpengaruh,” kata Venkataraman mengutip Channel News Asia Kamis (14/4/2022).

Berkurangnya sensasi rasa pada kaki dan jari kaki akibat kerusakan saraf menjadi faktor yang menyebabkan DRLEC. Pasien-pasien ini cenderung mendapatkan luka kecil atau cedera pada jari kaki atau kaki tanpa disadari.

“Ketika mereka juga memiliki aliran darah yang lebih buruk, luka dan bisul seperti itu tidak akan mudah sembuh, dan mereka mungkin terinfeksi.”

Luka kecil yang tak diobati lama-lama bisa menjadi besar dan menjadi masalah serius yang kemudian disebut DRLEC. Jika sudah parah, maka tindakan yang bisa dilakukan adalah amputasi atau pengangkatan anggota tubuh seperti beberapa jari kaki atau bahkan sebagian kaki di bawah lutut.


Merugikan Tubuh dan Dompet

FOTO: Semangat Penyandang Disabilitas Pembuat Kaki Palsu
Perbesar
Ronald Regen (33), perajin yang juga penyandang disabilitas membuat kaki palsu di Dusun IV Rawailat, Desa Dayeuh, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (29/3/2022). UMKM kaki palsu yang sempat bangkrut akibat pandemi COVID-19 mulai bangkit sejak awal tahun. (merdeka.com/Arie Basuki)

Amputasi adalah pilihan terakhir yang dijalani hanya ketika hidup dipertaruhkan atau ketika perawatan konservatif yang berkepanjangan gagal.

Tidak pernah mudah untuk menyepakati amputasi bahkan jika itu untuk menyelamatkan nyawa, karena kehidupan setelah amputasi bisa menakutkan.

Setelah amputasi maka seseorang akan hidup sebagai penyandang disabilitas fisik. Artinya, banyak hal yang perlu disesuaikan dengan kehidupan yang baru. Kemampuan adaptasi juga perlu dikembangkan agar dapat kembali menjalani hidup dengan baik.

Selain kehilangan anggota badan, DRLEC juga merugikan kantong pasien.

Menurut konsultan di Departemen Bedah Jantung, Toraks, dan Vaskular di National University Heart Centre, Singapura, Andrew Choong, biaya perawatan DRLEC bergantung pada sistem perawatan kesehatan.

“Amputasi kaki dapat menghabiskan biaya antara US$30.000 (Rp 430 juta) dan US$60.000 (861 juta) untuk biaya awal rumah sakit,” katanya, mengutip Journal Of The American Podiatric Medical Association.

Kemudian, tambahan US$43.000 (Rp 617 juta) hingga US$60.000 untuk perawatan lanjutan selama tiga tahun ke depan.

“Ini adalah dampak besar bagi sistem kesehatan mana pun,” katanya.


Cegah DRLEC

FOTO: Semangat Penyandang Disabilitas Pembuat Kaki Palsu
Perbesar
Ronald Regen (33), perajin yang juga penyandang disabilitas membantu pelanggan mencoba kaki palsu di Dusun IV Rawailat, Desa Dayeuh, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (29/3/2022). UMKM kaki palsu yang sempat bangkrut akibat pandemi COVID-19 mulai bangkit sejak awal tahun.(merdeka.com/Arie Basuki)

DRLEC merupakan dampak buruk dari diabetes. Maka dari itu, guna mencegah terjadinya DRLEC, maka pasien perlu mengatasi diabetesnya dengan baik.

Diabetes acap kali disebut sebagai “penyakit gaya hidup”, diabetes dapat memburuk jika pasien tidak melakukan upaya-upaya seperti:

-Mengubah pola makannya menjadi lebih sehat dan teratur.

-Melakukan olahraga teratur sesuai kebutuhan tubuh.

-Mematuhi pengobatan diabetes dan menghentikan kebiasaan merokok dan minum alkohol.

Ketika penyakit ini tidak dikelola dengan baik, ulkus atau luka kaki dapat berkembang dan ini berujung pada amputasi ekstremitas bawah. Amputasi ekstremitas bawah didefinisikan sebagai amputasi di bawah lutut.


Lebih Banyak Terjadi pada Laki-Laki

FOTO: Melihat Fasilitas untuk Penyandang Disabilitas di Stasiun Kereta
Perbesar
Penyandang disabilitas menjajal fasilitas di Stasiun Jatinegara, Jakarta, Jumat (3/12/2021). KAI Commuter berupaya memperbaiki layanan perkeretaapian, termasuk meningkatkan aksesibilitas di kereta dan stasiun. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Menurut penelitian, laki-laki memiliki insiden lebih tinggi daripada wanita. Namun, kejadian DRLEC tidak hanya terjadi pada pria tua.

Pengidap diabetes yang mengalami komplikasi 13 persen di antaranya berusia di bawah 50 tahun, kata Venkataraman.

Untuk pasien di bawah usia 50, Venkataraman mengatakan bahwa waktu yang dibutuhkan diabetes untuk berkembang menjadi DRLEC adalah sekitar 27 bulan. Ini lebih pendek dari pasien yang lebih tua dengan rata-rata waktu sekitar 31 bulan.

Pada pasien di bawah usia 50, rata-rata sekitar sembilan bulan antara timbulnya DRLEC hingga amputasi, menurut penelitian. Pada pasien yang lebih tua, durasi rata-rata dipersingkat menjadi sekitar dua bulan.

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta
Perbesar
Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya