Bikin Bangga, Penyandang Autisme Jadi Mahasiswa S2 Jurusan Musik Pertama di Turki

Oleh Liputan6.com pada 19 Sep 2021, 15:00 WIB
Diperbarui 19 Sep 2021, 15:00 WIB
Ilustrasi Piano
Perbesar
Ilustrasi piano. (dok. Unsplash.com/Geert Pieters @shotsbywolf)

Liputan6.com, Jakarta - Lulus ujian masuk doktoral, sang jenius musik Bugra Cankır kini telah menyandang gelar sebagai mahasiswa doktoral pertama Turki dengan gangguan spektrum autisme (ASD) di Turki.

Ankır yang berusia 27 tahun mendapatkan posisi barunya ketika Dewan Pendidikan Tinggi (YÖK) mencabut persyaratan bahasa asing untuk mahasiswa doktoral dengan autisme setelah ayah Çankır berkampanye dan menulis petisi.

Hal ini menjadi tonggak utama bagi penyandang autisme, yang menderita karena kurangnya kesadaran masyarakat tentang kondisi mereka, yang menghambat integrasi sosial mereka.

Melansir Daily Sabah, seorang dosen di Universitas Musik dan Seni Rupa Ankara mengatakan bahwa Çankır memiliki tujuan untuk melangkah lebih jauh dengan studi doktoral.

“Saya ingin melanjutkan pendidikan saya dan melakukan yang terbaik. Saya ingin menjadi seniman autisme yang terkenal di dunia,” ucap Çankır, yang menderita kesulitan komunikasi karena kondisinya.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pendidikan Musiknya Sempat Mengalami Hambatan Karena Autismenya

Çankır didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme pada usia 3 tahun dan menjadi pelajar termuda, mendahului teman-temannya dengan belajar bagaimana menulis sekitar enam bulan kemudian. Tapi kelas piano yang dia ambil menjadi titik balik dalam hidupnya.

Ketika Çankır masih berusia 10 tahun, guru musiknya menduga dia mungkin memiliki pitch yang sempurna, kemampuan langka untuk menciptakan kembali not musik tertentu tanpa nada referensi.

Orang tua Çankır kemudian membawanya ke Universitas California, di mana mereka menguji kemampuannya. Ia mendapatkan 36 poin penuh dari perfect pitch test yang dilakukan universitas dan terpilih sebagai pemilik perfect pitch terbaik di antara 664 orang lainnya.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Sempat tidak diterima di Turki

Akan tetapi, kembali ke Turki, pendidikan musiknya mengalami hambatan ketika dia tidak diterima di sekolah menengah konservatori karena autismenya. Setelah menyelesaikan sekolah menengah seni rupa, Çankır lulus dari konservatori negara bagian pada tahun 2016.

Ia juga berhasil menjadi siswa autisme pertama yang lulus ujian pascasarjana, yang ia ambil di departemen musik Institut Ilmu Sosial di Universitas Afyon Kocatepe, sebelum lulus ujian masuk doktoral di Universitas Musik dan Seni Rupa Ankara.

“Dia membuka jalan bagi orang-orang autisme yang berbakat dan saya bangga padanya karena alasan ini,” kata ayahnya, Kemal Çankır. Dia memuji keputusan "bersejarah" oleh YÖK setelah petisinya untuk menghapus persyaratan ujian bahasa asing.

“Buğra bekerja selama lima jam setiap hari setelah dia memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar doktor dan lulus ujian masuk. Kami sangat senang,” kata sang ayah.

 

Reporter: Lianna Leticia

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas
Perbesar
Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya