10 Buku Rekomendasi Pengalaman Nyata Disabilitas yang Menyentuh Hati

Oleh Fitri Syarifah pada 02 Agu 2021, 20:00 WIB
Diperbarui 02 Agu 2021, 20:00 WIB
Ilustrasi Disabilitas
Perbesar
Foto: Pixabay

Liputan6.com, Jakarta Bosan dengan gawai? Cobalah membaca buku-buku tentang disabilitas ini untuk menghargai perjuangannya hingga mendapat penghargaan.

Dilansir dari USAToday, seorang wartawan disabilitas Melissa Rorech mencatat 10 buku rekomendasi pilihan untuk membanggakan penyandang Disabilitas. 

Berikut adalah 10 buku non-fiksi tentang pengalaman nyata yang dapat membantu Anda meningkatkan kesadaran disabilitas:

1. A Disability History of The United States

Buku ini membahas disabilitas yang berasal dari hari-hari awal sejarah Amerika, termasuk cara penduduk asli Amerika memandang para penyandang disabilitas, bagaimana perdagangan budak berurusan dengan individu-individu itu, dan bagaimana mereka yang kembali dari perang tidak diberi penghargaan maupun dukungan yang mereka butuhkan. Karya Kim E. Nielsen ini wajib dibaca oleh siapa saja yang tertarik dengan studi disabilitas.

2. Disability Visibility: First-Person Stories from the Twenty-First Century

Dengan rating 4,9 di Amazon, buku karya Alice Wong menyatukan berbagai esai kontemporer dari banyak penyandang disabilitas. Buku ini mungkin membuat Anda mempertanyakan hal-hal yang Anda anggap remeh setiap hari dan akan membuat Anda menghormati dan merayakan budaya disabilitas saat ini.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

3. The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma

Ini merupakan bacaan yang direkomendasikan oleh terapis dan psikiater, memiliki lebih dari 33.000 ulasan positif di Amazon. Buku ini mengubah cara pandang banyak orang tentang trauma dan PTSD. Penulis Bessel van der Kolk telah menghabiskan hidupnya dengan fokus pada stres pasca-trauma dan merupakan pakar trauma yang terkenal di dunia. Buku ini membahas bagaimana penderita PTSD dapat menyembuhkan tidak hanya pikiran, tetapi juga tubuh.

4. Care Work: Dreaming Disability Justice

Buku ini adalah kumpulan esai yang mengeksplorasi pengalaman para penyandang disabilitas. Buku karya Leah Lakshmi Piepzna-Samarasinha ini secara khusus berfokus pada merayakan tubuh penyandang disabilitas dan melihat bagaimana komunitas yang terpinggirkan, seperti penyandang disabilitas queer/orang kulit berwarna, bekerja untuk menciptakan ruang bagi diri mereka sendiri.

5. Crip Theory: Cultural Signs of Queerness and Disability

Buku ini membahas isu-isu kontemporer yang dihadapi baik orang queer dan penyandang disabilitas, terutama di mana kedua lingkaran itu bersinggungan. Penulis Robert McRuer mengeksplorasi fokus pada tubuh dalam masyarakat, standar "normal", dan bagaimana penyimpangan darinya perlu diperbaiki. Buku ini mengeksplorasi hubungan antara kedua kelompok tersebut, bagaimana mereka dapat membantu dan belajar dari satu sama lain, dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu menghancurkan standar tubuh yang normal.

6. Extraordinary Bodies: Figuring Physical Disability in American Culture and Literature

Buku ini membingkai disabilitas bukan dalam istilah medis, tetapi sebagai wacana minoritas, yang membantu melanjutkan pembicaraan tentang hak dan undang-undang disabilitas, dan di mana kekurangannya. Penulis Rosemarie Garland-Thomson membingkai karya-karya lama dari sudut pandang baru, melihat tokoh-tokoh sastra sejarah yang diolok-olok karena berbeda ketika mereka benar-benar didiskriminasi karena disabilitas mereka. Karya ini adalah bacaan penting bagi siapa saja yang tertarik dengan studi literatur dan disabilitas.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

7. Sitting Pretty: The View from My Ordinary Resilient Disabled Body

Buku ini berisi kisah nyata dari pengalaman hidup seorang advokat disabilitas Rebekah Taussig. Ia digambarkan tumbuh sebagai gadis lumpuh sejak tahun 90-an sampai akhir hayatnya di awal 2000-an. Buku ini melihat disabilitas dari berbagai perspektif, mengerikan (The Hunchback of Notre Dame), inspirasional (Helen Keller), atau malaikat (Forrest Gump). Seiring bertambahnya usia, Taussig menyadari betapa sedikit cerita yang menggambarkan penyandang disabilitas sebagai orang yang adil, maksudnya, penyandang disabiloitas juga ada yang memiliki pekerjaan, pergi ke sekolah, merasakan sakit, cinta, patah hati sebagaimana orang lain, dengan tambahan masalah seperti berada dalam tubuh yang tidak sesuai dengan standar masyarakat.

8. Claiming Disability: Knowledge and Identity

Sebagai teks rinci pertama studi disabilitas sebagai bidang studi, Claiming Disability tidak hanya berbicara tentang berbagai jenis disabilitas yang ada, tetapi juga apa konotasi dan stereotip yang dimiliki masing-masing disabilitas, dan mengapa. Misalnya, mengapa disabilitas fisik diperlakukan berbeda dengan disabilitas mental, baik secara medis maupun sosial? Mulai dari masalah akses gedung dan transportasi umum hingga segala hal yang dilupakan oleh American with Disabilities Act tahun 1990, penulis Simi Linton mengupas semuanya.

9. The Pretty One: On Life, Pop Culture, Disability, and Other Reasons to Fall in Love with Me

Keah Brown, pencipta kampanye viral #DisabledAndCute menuliskan kumpulan essay dalam buku ini yang embantu untuk memeriksa apa artinya menjadi orang berkulit hitam sekaligus difabel. Terlahir dengan cerebral palsy, Brown dulu memperjuangkan kenormalan dan menginternalisasi banyak kebencian masyarakat yang terkesan padanya, mengatakan kepadanya jika ia tidak berkulit putih dan berbadan sehat maka ia tidak akan melakukan (segala hal) dengan benar.

Melalui kumpulan esai ini, Brown merinci perjalanan "Self-love"-nya dan bagaimana ia menerima identitas dan tubuhnya. Dengan suara yang menyenangkan dan segar, Brown membantu menghancurkan gagasan bahwa penyandang disabilitas itu lemah dan rapuh. Nama buku itu berasal dari saudara kembarnya yang berbadan sehat, yang biasa disebut oleh teman-temannya sebagai “si cantik” untuk membedakan keduanya.

10. Nothing About Us Without Us: Disability Oppression and Empowerment

Mendapat rating 4,8 di Amazon, buku karya James Charlton ini menganalisis bagaimana penindasan disabilitas serupa (dan berbeda dari) yang dilakukan kelompok lain. Charlton mengontraskan penindasan disabilitas dari rasisme, seksisme, dan kolonialisme untuk menyinari penderitaan yang dihadapi para penyandang disabilitas setiap hari. Analisisnya ditekankan oleh wawancara yang ia lakukan selama 10 tahun dengan aktivis hak-hak disabilitas dari Eropa, Amerika Serikat, dan negara berkembang.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas
Perbesar
Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya