Mengenal Pendekatan Orton-Gillingham untuk Anak dengan Disleksia

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 27 Jul 2021, 19:35 WIB
Diperbarui 27 Jul 2021, 19:36 WIB
Ratusan Buku Cerita untuk Anak Pengungsi Korban Evakuasi Gunung Agung
Perbesar
Sejumlah anak membaca buku di mobil Perpustakaan Keliling Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Klungkung di lokasi pengungsian korban evakuasi Gunung Agung, Klungkung, Bali, Sabtu (30/09). (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Liputan6.com, Jakarta Kesulitan anak dalam membaca dan menulis dapat disebabkan oleh gangguan belajar disleksia.

Menurut dr. Devia Irnie Putri dari Klikdokter, disleksia adalah gangguan belajar yang paling sering ditemukan. Maka dari itu, mengajari anak dengan disleksia memang butuh cara khusus agar ia mampu menerima pelajaran dengan lebih mudah.

“Nah, untuk memaksimalkan kecerdasan dan melatih kemampuan membaca anak dengan disleksia, teknik pendekatan Orton-Gillingham bisa menjadi salah satu solusinya,” Kata Devia mengutip Klikdokter, Selasa (27/7/2021).

Pendekatan Orton-Gillingham adalah metode terstruktur, dengan cara memecah bacaan dan pelafalan menjadi bagian yang lebih kecil dan sederhana.

Seiring berjalannya waktu, bacaan dan pelafalan kata tersebut disusun secara perlahan menjadi bentuk utuh.

Metode tersebut tidak sekadar meminta anak untuk membaca dan melafalkan saja, tetapi juga menggunakan semua pancaindra untuk belajar dan membantunya membangun koneksi antara bahasa maupun kata.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Langkah-Langkah

Langkah pertama dalam pendekatan Orton-Gillingham adalah dengan mengajarkan anak untuk mengenali hubungan antara suara dengan huruf atau kata yang membentuknya.

Misalnya pada kata “susu”. Anak harus mengenali seperti apa pelafalan “s” dan “u” dan memilih kata yang paling membentuk pelafalan dua huruf tersebut.

Setelah anak bisa mengenali, selanjutnya akan dibalik. Anak harus mengenali kata yang membentuk pelafalan tertentu.

Masih dengan contoh kata “susu”, maka anak harus mengenali seperti apa huruf “s” sehingga membentuk kata “susu”. Jika anak mulai terbiasa dan fasih mengenali pelafalan huruf atau kata, lalu dilanjutkan ke tahapan berikutnya, yaitu mengenal kalimat.

Karena tergolong rumit, teknik pendekatan Orton-Gillingham biasanya memerlukan bantuan tenaga ahli yang telah diberikan pengajaran khusus agar pengajaran bisa dilakukan dengan maksimal.

“Meski begitu, tak perlu terpaku dengan teknik tersebut. Untuk melatih kemampuan membaca anak dengan disleksia, orangtua bisa memanfaatkan gawai atau permainan berbasis edukasi. Meski tak lebih efektif dari metode Orton-Gillingham, tapi tak ada salahnya untuk mencobanya,” kata Devia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Lebih Dalam tentang Disleksia

Menurut Devia, disleksia didefinisikan sebagai gangguan belajar spesifik yang berasal dari masalah neurologis. Gangguan belajar ini ditandai dengan kesulitan untuk mengenali kata yang tepat atau yang fasih digunakan.

Seseorang dengan disleksia juga kesulitan dalam melafalkan kata. Hal ini terjadi karena ada bagian otak yang terganggu, sehingga berisiko tinggi untuk mengalami masalah pada perkembangan kosakata dan kecerdasan otaknya.

Ia menambahkan, gangguan belajar ini mungkin akan dirasakan sepanjang hidup. Namun, di sisi lain anak tetap punya kecerdasan dan motivasi yang kuat.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta
Perbesar
Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta. (Liputan6.com/Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya