Cukupi Asupan Omega-3 Selama Masa Kehamilan untuk Kurangi Risiko Bayi Lahir dengan Disleksia

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 26 Jul 2021, 18:00 WIB
Diperbarui 26 Jul 2021, 18:00 WIB
Sumber Energi
Perbesar
Ilustrasi Kehamilan Credit: pexels.com/Garon

Liputan6.com, Jakarta Dokter umum dari Klikdokter, Dyah Novita Anggraini menyampaikan bahwa penyebab disabilitas belajar disleksia belum diketahui secara pasti.

“Karena penyebabnya belum diketahui dengan pasti, maka tidak ada langkah pencegahan utama gangguan disleksia sejak anak masih dalam kandungan,” katanya mengutip Klikdokter, Sabtu (24/7/2021).

Meski demikian, lanjut Dyah, ada beberapa faktor risiko yang dapat dihindari selama masa kehamilan yang diketahui dapat meningkatkan risiko gangguan disleksia pada anak. Salah satunya memenuhi asupan omega-3.

Menurut penelitian yang dilakukan Professor John Stein di University of Oxford, Inggris, kekurangan omega-3 berkaitan dengan gangguan disleksia. Hal ini disebabkan kurangnya omega-3 menyebabkan terjadinya gangguan di saraf pendengaran.

Penyandang disleksia dipercaya dapat mendengar suara yang didengarnya, tapi tidak dapat mendengar secara jelas, karena adanya gangguan di saraf pendengaran tersebut. Ini mengakibatkan sulitnya mengerti kata yang didengar.

Kandungan DHA di dalam omega-3 berperan dalam pembuatan membran sel di saluran pendengaran yang dikenal dengan sebutan magnosel. Sedangkan kandungan DHA dan EPA di dalam omega-3 berperan dalam membuat selaput tipis di sekitar sel-sel pendengaran, yang berfungsi untuk meneruskan gelombang suara supaya lebih cepat diterima otak.

“Jadi, ibu hamil disarankan untuk memperbanyak asupan omega-3 seperti ikan salmon, telur, susu, yoghurt, kacang-kacangan, serta sayur seperti bayam dan kubis,” kata Dyah.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Menjaga Kondisi Mental

Upaya lain yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko anak lahir dengan disleksia adalah menjaga kondisi mental selama masa kehamilan.

Pada masa kehamilan, kondisi psikologis ibu hamil sering berubah. Hal ini dapat memicu gangguan tumbuh kembang janin.

Stres yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan bayi lahir rendah, sehingga kemungkinan bayi akan tumbuh dengan gangguan disleksia akan meningkat juga.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pengobatan Disleksia

Pengobatan disleksia membutuhkan pendekatan khusus bukan dengan obat-obatan, lanjut Dyah. Tahap pertama adalah menentukan diagnosis dengan benar. Kemudian dilakukan berbagai pemeriksaan psikologis dan fisik.

Selanjutnya, disusul dengan evaluasi lengkap mengenai kelemahan dan kelebihan anak, yang melibatkan bantuan guru-guru di sekolah.

Setelah itu, dilakukan pertemuan antara orangtua, guru, dan profesional untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya dalam memperbaiki cara belajar anak. Orangtua juga akan diberikan petunjuk bagaimana membantu anak di rumah.

“Ingat, disleksia tidak dapat dicegah sejak dalam kandungan, tapi faktor risiko yang memicu terjadinya disleksia pada masa kehamilan dapat membantu mencegah disleksia pada anak.”

“Oleh karena itu jangan abaikan kesehatan selama masa kehamilan dengan rutin kontrol ke dokter kandungan dan menerapkan pola hidup sehat demi kesehatan ibu dan janin,” pungkas Dyah.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas
Perbesar
Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya