Rahasia Kesuksesan Perenang Tunanetra Stephen Clegg pada Paralimpiade Tokyo 2020

Oleh Fitri Syarifah pada 25 Jul 2021, 12:00 WIB
Diperbarui 25 Jul 2021, 12:00 WIB
Stephen Clegg
Perbesar
Stephen Clegg. Foto doc instagram @stephen.clegg

Liputan6.com, Jakarta Stephen Clegg adalah perenang Paralimpiade tunanetra yang telah berkompetisi di Paralimpiade Rio 2016 dan memenangkan medali di Kejuaraan Eropa dan Kejuaraan Dunia. Ia juga telah didaftarkan akan ikut bersaing di Paralimpiade Tokyo 2020 musim panas ini, yang ia ungkapkan harapannya ingin memenangkan medali emas.

Dilansir dari Disability Horizons, Stephen Clegg adalah perenang Paralimpiade berusia 25 tahun yang tinggal di Edinburgh, Skotlandia. Ia mulai berenang di tingkat kompetitif pada tahun 2014. Ia berkompetisi di gaya bebas S12, gaya punggung dan kupu-kupu.

Pada tahun 2016, ia terpilih untuk bersaing untuk Tim GB di Paralimpiade pertamanya di Rio. Sejak itu, ia telah memenangkan tiga medali perunggu di Kejuaraan Eropa 2018 dan dua medali perak di Kejuaraan Dunia 2019. Serta ia menargetkan medali emas di Paralympic Games Tokyo 2020, bersama denagn timnya, yang akan mencakup Ellie Robinson, Ellie Simmonds, Stephanie Millward, ditambah 12 debutan.

Stephen memiliki kondisi mata yang disebut stargardt macular dystrophy, yang mempengaruhi penglihatan sentralnya. Dua saudara kandungnya, James dan Libby, juga memiliki kondisi tersebut dan bersaing sebagai atlet Paralimpiade.

James Clegg juga seorang perenang Paralimpiade yang berkompetisi di Paralimpiade London 2012, dengan berhasil meraih medali perunggu.

Sementara Libby Clegg adalah sprinter Paralimpiade dan telah berkompetisi di tiga Paralympic Games dan akan bertanding di Tokyo juga. Ia juga merupakan finalis di acara TV Dancing on Ice pada tahun 2020.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

gangguan penglihatan

"Saya selalu merasa cukup sulit untuk menggambarkan visi saya karena saya tidak tahu bagaimana membandingkannya karena jelas, saya tidak memiliki perbandingan. Tapi pada dasarnya, kondisi itu mempengaruhi penglihatan sentral saya. Saya dapat melihat dengan cukup jelas di bagian tepi, tetapi penglihatan sentral saya sangat kabur," jelas Stephen. Ia menggambarkan daya penglihatannya seperti melihat bola golf yang kabur.

Yang ia tahu, disabilitasnya ini merupakan kelainan genetik resesif dan ia tidak yakin ada berapa persentase orang di dunia yang memilikinya. Namun yang pasti itu bukan kondisi yang umum, jelasnya terkait kondisi matanya.

Namun ia mengakui tidak sampai sangat membutuhkan alat bantu mobilitas, baik itu tongkat atau anjing pemandu, dan ia tidak pernah menggunakannya hingga saat ini. Meskipun mungkin anti akan berguna karena kondisinya semakin memburuk, akunya. Sementara itu, saat ini ia ingin mencoba untuk bebas dari bantuan sebisa mungkin. "Tidak ada yang melarang menggunakannya, itu hanya preferensi pribadi kemudahan untuk bepergian dan hal-hal seperti itu," jelasnya.

Sementara terkait alat bantu berupa teknologi, Stephen mengaku sangat memanfaatkan fitur aksesibilitas bawaan di Apple. Mereka memiliki fitur Zoom dan Voiceover yang diatur di telepon dan Mac, dan sebagainya, sehingga membuat hidupnya terasa cukup mudah.

Adapun tantangan yang ia hadapi yaitu saat ia harus berkeliling. "Jelas, sebagai tunanetra, saya tidak bisa mengemudi ke mana pun, jadi saya harus naik banyak angkutan umum dan ada banyak masalah logistik. Saat berenang, saya berjuang dengan latihan yang mengharuskan melihat setiap hari, karena jelas ketika saya mencoba mempelajari keterampilan dan hal-hal lain. Saya harus bisa melihat apa yang terjadi. Saya sangat bergantung pada instruksi yang dapat didengar, yang membantu saya menyempurnakan teknik hanya dengan mendengarkan."

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Menjadi perenang

Saat ditanya apa yang menginspirasinya untuk menjadi perenang, Stephen mengaku ia sudah suka berenang sejak kecil dan bukan untuk kompetisi. Namun dari usia 11 hingga 13 tahun, olahraga ini mulai sedikit lebih kompetitif.

Dengan beberapa perjuangan yang ia lalui di sekolah, serta keinginannya untuk bekerja dan fokus pada dua hal itu, ia berpikir bahwa berenang hanyalah untuk distraksi (pengalih perhatian) saat melalui hari yang buruk pada saat itu. Namun ketiak ia lulus dari sekolah, ia masih belum yakin tentang apa yang ingin ia lakukan, sebab sebelumnya ia tidak serius berlatih berenang saat di sekolah. Jadi sejak itu ia mulai mencoba lebih serius. Meskipun saat itu buak untuk kompetisi, melainkan hanya sebagai cara untuk tetap fit dan memiliki sesuatu untuk dilakukan.

Sejak itu ia kembali mencintai olahraga dan serius ingin berkarir dengannya. Adapun gaya renang yang ia sukai adalah kupu-kupu, karena dengan gaya itu ia merasa seperti paling memiliki kontrol dan memahami hentakan.

Stephen mengakui pada saat berkompetisi di Paralimpiade Rio 2016, ia tidak berambisi untuk meraih medali di pertandingan. Ia hanya menganggapnya pengalaman pembelajaran. Bahkan meskipun ia kewalahan mengejar waktu untuk memecahkan rekor, nyatanya ia senang berhasil memecahkan rekor dunia di British Para-swimming International Meet di Sheffield. Serta berencana untuk memenangkan medali emas di Paralimpiade Tokyo 2020.

Adapun persiapan Stephen untuk Paralimpiade Tokyo 2020, ia hanya fokus berlatih, sementara terkait masalah keamanan, ia sudah mempercayakannya pada keputusan British Swimming dan Paralympics GB. Jadi ia tidak perlu stres dan hanya fokus melakukan apa yang terbaik ia bisa lakukan. Ia juga sudah tahu perihal apa saja yang ia perlukan untuk pencegahan COVID-19 saat pergi ke Tokyo. "Saya pikir tanggal 11 Agustus, kami terbang ke Suzuka (233 mil sebelah barat Tokyo) untuk kamp persiapan kami. Disana kami akan karantina selama 10 hari sebelum memasuki tempat tinggal para atlet di Tokyo pada tanggal 21 Agustus."

Stephen tentu sangat menantikan pertandingan di Tokyo ini, selain karena COVID-19 yang membuat pertandingannya diundur selama setahun, serta akan menjadi garis finish dalam tujuh tahun karirnya. Tentu setiap atlet ingin mendapatkan kemenangan. "Saya pikir setiap atlet ingin mendapatkan kemenangan. Jadi jelas itulah yang selalu ada dalam pikiran, terutama setelah uji coba pemecahan rekor, tetapi saya juga sangat sadar bahwa orang-orang di sekitar saya dalam balapan saya juga sangat mampu memberikan performa yang luar biasa dan mengalahkan saya. Jadi, saya pikir selama saya menampilkan versi terbaik dari diri saya pada hari itu, saya akan sangat senang dan bangga dengan hasil apa pun yang datang dalam hal medali atau penempatan."

Adapula nasihat yang dititipkan Stephen kepada para penyandang disabilitas yang bercita-cita mengikuti kompetisi paralimpiade renang, sebagai berikut.

"Saya pikir kunci sukses adalah menikmati apa yang Anda lakukan. Jadi, pastikan Anda menemukan olahraga yang benar-benar Anda sukai karena jika Anda menyukai sesuatu, yang Anda butuhkan hanyalah etos kerja yang baik untuk bisa sukses. Saya pikir banyak orang di Para-sport akhirnya putus sekolah atau tidak terlalu menikmatinya karena mereka tidak merasa percaya diri dengan apa yang mereka lakukan. Atau setidaknya itulah yang saya rasakan ketika saya berbicara dengan orang lain.

Jadi, saya pikir menemukan sesuatu yang benar-benar Anda sukai dan benar-benar menyadari apa yang Anda lakukan, itu luar biasa. Mari saling menyebarkan kepercayaan diri di dunia untuk berjuang maju dan menjadi versi terbaik dari diri Anda."

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Olimpiade Tokyo 2020

Infografis Olimpiade Tokyo 2020
Perbesar
Infografis Olimpiade Tokyo 2020. (Liputan6.com/Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Simak Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya