Pentingnya Partisipasi Penyandang Disabilitas dalam Teknologi Penanganan COVID-19

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 24 Jun 2021, 12:00 WIB
Diperbarui 24 Jun 2021, 12:00 WIB
Ilustrasi Disabilitas
Perbesar
Foto: Pixabay

Liputan6.com, Jakarta Disability Inclusion Advisor dari Christian Blind Mission (CBM), Cucu Saidah menyampaikan pentingnya partisipasi dan keterwakilan kelompok berisiko dalam mengetahui teknologi penanganan COVID-19.

Menurutnya, kelompok berisiko yang dimaksud termasuk kelompok penyandang disabilitas dan lanjut usia. Partisipasi yang diharapkan oleh Cucu adalah partisipasi penuh dari awal hingga akhir bukan hanya diundang dalam satu pertemuan.

“Jangan sampai kita bilang yang penting sudah diundang dan sempat minta masukan. Yang harus kita ingatkan, partisipasi seperti apa yang efektif dan bermakna,” ujar Cucu dalam seminar daring Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Senin (21/6/2021).

Ia menambahkan, kelompok disabilitas harus memastikan bahwa mereka diajak dalam semua level termasuk dalam pembuatan teknologi penanganan COVID-19 misalnya situs informasi agar akses dan dapat digunakan oleh semua penyandang disabilitas.

Kunci Keberhasilan Partisipasi

Cucu juga menyebutkan 4 kunci keberhasilan partisipasi kelompok berisiko dalam pembuatan teknologi digital terkait penanganan COVID-19.

Prinsip pertama yang ia sebutkan adalah non diskriminasi. Dalam prinsip ini, informasi terkait COVID-19 dalam teknologi digital harus dapat dinikmati oleh semua kalangan.

“Prinsip kunci kedua terkait dengan penyadaran, penting sekali prinsip kesadaran ini dilakukan oleh dan kepada siapa pun.”

Hal yang perlu disampaikan guna membangun kesadaran dalam hal ini adalah mengingatkan bahwa kelompok berisiko harus dilibatkan dalam berbagai aspek bukan dilibatkan hanya sebagai target penerima tapi juga dalam diskusi.

Mereka dapat memberi masukan-masukan berdasarkan pengalaman pribadi yang kemungkinan pengalaman tersebut tidak dimiliki oleh orang yang bukan termasuk kelompok berisiko.

“Pengalaman ini akan sangat berharga bagi inisiatif-inisiatif yang sedang kita lakukan.”

Selanjutnya

Kunci ketiga adalah partisipasi menyeluruh mulai dari perencanaan, implementasi, monitoring, hingga evaluasinya.

Terakhir, aksesibilitas untuk kemudahan penggunaan teknologi digital. Contonya bagaimana situs informasi COVID-19 dapat dibaca oleh penyandang tunanetra yang menggunakan teknologi pembaca layar.

“Di Indonesia teman-teman dari komunitas disabilitas netra menerima konsultasi untuk memastikan apakah sebuah situs itu mudah diakses atau tidak, apakah aplikasinya aksesibel atau tidak.”

Contohnya komunitas Mitra Netra di Jakarta yang fokus terhadap literasi digital bagi penyandang disabilitas netra. Komunitas ini dapat menjadi tempat untuk berkonsultasi terkait inisiatif yang akan dibuat apakah sudah akes atau belum, tutup Cucu.    

 

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas
Perbesar
Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓