Berawal dari Coretan, Penyandang Down Syndrome Asal Bantul Ciptakan Karya Batik Kuas dan Ciprat

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 18 Mei 2021, 13:00 WIB
Diperbarui 18 Mei 2021, 13:00 WIB
Kidung Sariro Ayu
Perbesar
Kidung Sariro Ayu penyandang down syndrome berkreasi dengan coretan dan membuat batik kuas ciprat. Foto: dokumen pribadi.

Liputan6.com, Jakarta Sejak usia 3, penyandang down syndrome asal Bantul, DI Yogyakarta, Kidung Sariro Ayu mulai memperlihatkan ketertarikannya di bidang seni. Kala itu, ia mulai corat-coret di kertas dan kanvas.

“Kidung berkreasi sejak usia 3 tahun, dia coret-coret aja awalnya di kertas gambar dan kanvas,” ujar sang Ibu, Evi (44) kepada kanal Disabilitas Liputan6.com melalui pesan teks, ditulis Senin (17/5/2021).

Melihat karya sang anak yang hanya dipajang di rumah membuat Evi memiliki ide untuk mengembangkan kegiatan anaknya dengan melukis di kain. Dari inovasi tersebut, terciptalah batik kuas dan ciprat.

“Ide awal pas lihat hasil karya coretan Kidung kalau hanya dipasang di rumah sia-sia saja. Terus saya terapkan di kain lalu terciptalah batik kuas dan ciprat.”

Melihat karya batik yang memiliki nilai jual, terlintas ide bisnis agar selain bakat Kidung tersalurkan tapi juga dapat menghasilkan rupiah.

Kini di usia 6, Kidung beranjak menjadi gadis kecil yang lebih kreatif. Sejauh ini karyanya sudah terjual dan dibeli oleh beberapa orang bahkan dari golongan tokoh masyarakat.

Seperti Camat Karang Mojo, Wonosari, DI Yogyakarta, Marwoto Hadi yang mengaku mencintai karya Kidung. Selain itu, ada pula arsitek asal Semarang, Ari. Bahkan, karyanya dilirik oleh pemborong asal Yogya dan presenter teve.

“Masih banyak lagi pecinta batik dan kaos kidung,” kata Evi.

2 dari 4 halaman

Respons Baik Pembeli

Batik Karya Kidung Sariro
Perbesar
Camat Karang Mojo, Wonosari, DI Yogyakarta, Marwoto Hadi dan Istri mengenakan batik karya Kidung Sariro.

Evi mengatakan, dari batik tersebut berbagai kreasi pernak pernik pun tercipta. Mulai dari masker, tas, baju, hingga topi.

Kisaran harganya sendiri dimulai dari Rp 25 ribu untuk masker, Rp 100 ribu untuk topi, tas Rp 125 ribu, kaos Rp 150 ribu, batinya sendiri Rp 250 ribu. Semua produk ini dipasarkan melalui media sosial dan dari teman ke teman.

“Alhamdulillah respons pembeli pada suka dengan hasil karya Kidung, malah pada balik beli lagi.”

Ke depannya, ia berencana akan terus mengembangkan karya-karya Kidung dengan kreasi coretan terbaru.

“Kidung menggambar tiap hari saya seleksi gambar-gambar yang bagus baru saya cetak juga kaos dan lain-lain.”

Ia berharap Kidung bisa mandiri karena tidak mungkin bergantung pada orang lain di masa depan. Maka dari itu, sejak dini ia mempersiapkan bekal masa depan Kidung.

“Harapan saya sebagai orangtua, Kidung makin maju dalam berkarya, semoga nanti bisa tercapai impiannya memiliki galeri sendiri untuk karya-karyanya. Semoga makin banyak orang-orang yang mengerti akan karya Kidung,” tutupnya.

 

 

3 dari 4 halaman

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta
Perbesar
Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta. (Liputan6.com/Abdillah)
4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓