Ini yang Jadi Pertimbangan Pendidikan bagi Anak Penyandang Disabilitas Intelektual

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 18 Mei 2021, 10:00 WIB
Diperbarui 18 Mei 2021, 10:00 WIB
Ilustrasi anak dengan disabilitas intelektual Foto oleh Mentatdgt dari Pexels.
Perbesar
Ilustrasi anak dengan disabilitas intelektual Foto oleh Mentatdgt dari Pexels.

Liputan6.com, Jakarta Anak penyandang disabilitas intelektual terutama yang berada dalam kategori ringan umumnya masih mampu belajar dan mengenyam pendidikan.

Seperti anak pada umumnya, pendidikan bagi anak dengan disabilitas intelektual perlu berbagai pertimbangan. Menurut Co-Founder Pijar Psikologi, Regis Machdy, pendidikan bagi anak disabilitas intelektual harus menyesuaikan dengan target pembelajaran.

“Pendidikan harus sesuai target pembelajaran sesuai dengan kapasitas intelektualnya. Fokusnya pada kemampuan bantu diri, mengurus diri sendiri, dan keterampilan bekerja, itu saja untuk bertahan,” ujar Regis dalam kuliah umum dalam kanal YouTube pribadinya (Regis Machdy), dikutip Sabtu (15/5/2021).

Fokus akademik bagi disabilitas intelektual tidak pada pembelajaran rumit seperti gravitasi dan aljabar. Hal terpenting setidaknya memiliki kemampuan membaca, menghitung sederhana, kemampuan dasar, dan kemampuan bertahan hidup sehari-hari, kata Regis.

“Jadi pembelajaran untuk anak disabilitas intelektual itu enggak usah muluk-muluk seperti sin cos tan dan lain-lain, karena sorry to say itu tidak penting bagi mereka.”

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Simak Video Berikut Ini


Instruksi Sistematis

Dalam pembelajaran bagi anak dengan disabilitas intelektual, instruksi yang sistematis sangat dibutuhkan. Mengingat, anak-anak dengan IQ di bawah rata-rata membutuhkan arahan yang jelas untuk mengetahui suatu hal.

“Instruksi harus sistematis, arahannya jelas, memberitahu konsekuensi dari perilaku dan menyusun strategi untuk menyampaikan materi yang ingin diajarkan.”

Regis memberi contoh, untuk anak-anak non disabilitas, pergi ke kamar kecil untuk buang air bukan lah sesuatu yang rumit. Namun, bagi anak disabilitas intelektual, hal tersebut adalah sesuatu yang sulit.

Anak pada umumnya akan mencontoh orang lain dalam melakukan hal-hal sederhana. Jika mereka ingin buang air maka mereka pergi ke toilet, buka pintu, kemudian buang air, dan membersihkan diri.

Namun, bagi anak disabilitas intelektual, perlu ada penjelasan yang tersusun dan mudah dipahami. Jika perlu gunakan media gambar. Misal, menjelaskan pada anak bahwa jika ada yang terasa di bagian tertentu dan seperti akan keluar maka itu adalah rasa ingin buang air.

Setelah mengetahui rasa tersebut, anak kemudian dibiasakan untuk pergi ke toilet, diajarkan cara membuka pintu, diajarkan cara buang air yang benar, dan tata cara membersihkan diri setelahnya.

 

 


Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta
Perbesar
Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya