Dokter: Pola Hidup Tidak Aktif Menurunkan Fungsi Gerak pada Anak dengan Disabilitas Fisik

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 22 Apr 2021, 10:00 WIB
Diperbarui 22 Apr 2021, 10:00 WIB
Ilustrasi disabilitas fisik
Perbesar
Ilustrasi disabilitas fisik. (Liputan6.com/JohanTallo)

Liputan6.com, Jakarta Keterbatasan gerak yang dialami anak penyandang disabilitas fisik perlu dilatih dengan aktivitas fisik agar membaik.

Menurut dr. Bobtriyan Tanamas dari Klikdokter, aktivitas fisik untuk anak penyandang disabilitas fisik sangat penting bagi kesehatan mereka.

Berdasarkan informasi jurnal yang dirilis oleh National Center for Biotechnology Information, Amerika Serikat, disarankan anak-anak disabilitas fisik mendapat lebih kurang 60 menit atau lebih untuk beraktivitas fisik setiap hari.

“Umumnya, anak-anak dengan disabilitas fisik jauh lebih sedikit aktif secara fisik dibanding anak-anak seusia mereka tanpa disabilitas. Aktivitas fisik yang mereka kerjakan juga cenderung lebih terbatas pada waktu luang yang sudah dijadwalkan,” kata Bobtriyan mengutip Klikdokter, Selasa (20/4/2021).

Ia menambahkan, karena keterbatasan kemampuan fisiknya, sejumlah penyandang disabilitas fisik lebih memilih untuk tidak melakukan apapun. Pola hidup yang tidak aktif ini yang mengakibatkan anak-anak dengan disabilitas fisik memiliki peningkatan risiko penurunan fungsi fisik.

Hal ini dapat mengakibatkan masalah kesehatan tambahan yang terkait dengan disabilitas utama mereka. Untuk mengatasi peningkatan risiko kesehatan ini, dibutuhkan pemahaman yang lebih baik tentang segala hal yang terkait dengan aktivitas fisik untuk anak-anak penyandang disabilitas fisik, kata Bobtriyan.

2 dari 4 halaman

Bantu Anak Bergerak

Bobtriyan juga menyampaikan beberapa cara khusus yang dapat mendukung pembelajaran dan perkembangan anak-anak penyandang disabilitas fisik. Salah satunya dengan memberikan kemudahan bagi mereka untuk dapat bergerak.

“Gunakan peralatan yang berat dan stabil agar tidak mudah terguling. Hindari penggunaan karpet atau alat lainnya yang dapat menyebabkan anak tersandung.”

“Lalu, atur peralatan di tempat yang luas agar anak dapat bergerak lebih bebas. Sediakan tempat yang aman untuk pejalan kaki, kursi roda, atau tongkat agar anak-anak lain tidak tersandung,” kata Bobtriyan.

Sebaiknya, bekerja sama dengan orangtua agar dapat menemukan cara yang nyaman bagi anak untuk duduk. Agar anak penyandang disabilitas dapat beraktivitas lebih maksimal, dapat dibuat sebuah sudut dengan dua dinding untuk penyangga, kursi dengan sabuk pengaman, atau kursi roda dengan penyangga yang besar di lengan.

Selain itu, orangtua juga bisa menyediakan alat yang dapat mendukung motorik anak seperti menggenggam, memegang, memberi, dan melepaskan.

“Pastikan juga objek sesuai usia. Misalnya, bean bag yang terbuat dari kain lebih cocok untuk anak usia 5 dibanding mainan berbahan plastik keras atau mainan bayi. Pastikan area aktivitas lebih terang,” tutup Bobtriyan.

3 dari 4 halaman

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta
Perbesar
Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta. (Liputan6.com/Abdillah)
4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓