Memahami Penerimaan Diri dan Kaitannya dengan Disabilitas Mental

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 26 Feb 2021, 13:00 WIB
Diperbarui 26 Feb 2021, 13:00 WIB
[CERITA] Mengembalikan Jiwa yang Hilang dengan Sentuhan Rohani
Perbesar
Sejumlah santri yang ternyata mereka adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tengah mendengarkan siraman rohani usai menjalankan ibadah salat ashar di Pondok Pesantren Daarut Tasbih di Kota Bumi, Tangerang, Selasa (12/5/2020). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Penerimaan diri sangat diperlukan oleh setiap orang agar terhindar dari gangguan jiwa atau disabilitas mental. Pada dasarnya penerimaan diri adalah tingkat kesadaran seseorang tentang karakteristik pribadinya dan adanya kemauan untuk hidup dengan keadaan tersebut.

Peneliti dari  Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, Jawa Tengah, Dewantara Damai Nazar memaparkan, individu dengan penerimaan diri merasa bahwa karakteristik tertentu yang dimiliki adalah bagian yang tak terpisahkan, yang selanjutnya dihayati sebagai anugerah.

“Segala sesuatu yang terjadi akan dirasa menyenangkan sehingga individu tersebut memiliki keinginan untuk terus menikmati kehidupan,” tulis Dewantara dalam penelitian Penerimaan Diri Sebagai Penyandang Disabilitas Mental Dalam Proses Rehabilitasi di Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Mental (RPSDM) “Martani”, Kroya, Cilacap dikutip Rabu (24/2/2021).

Ia mengutip pengertian penerimaan diri menurut Chaplin dalam Fatwa Tentama yang menjelaskan bahwa penerimaan diri adalah sikap yang pada dasarnya merasa puas dengan diri sendiri, kualitas-kualitas, dan bakat-bakat yang dimiliki oleh diri sendiri serta mengakui kekurangan dan keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki.

“Begitu juga Aderson menjelaskan bahwa penerimaan diri adalah suatu keberhasilan telah dapat menerima kelebihan dan kekurangan diri dengan apa adanya.”

Menerima diri artinya telah menemukan karakter diri dan dasar yang membentuk kerendahan hati dan integritas. Sementara itu Sheerer menerangkan lebih detail apa itu penerimaan diri, menurutnya penerimaan diri adalah sikap dalam menilai diri dan keadaannya secara objektif, menerima kelebihan dan kelemahannya, kata Dewantara.

2 dari 4 halaman

Lebih Lanjut

Lebih lanjut, peneliti menuliskan bahwa menerima diri berarti telah menyadari, memahami dan menerima apa adanya dengan disertai keinginan dan kemampuan untuk selalu mengembangkan diri sehingga dapat menjalani hidup dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Seseorang yang dapat menerima diri adalah orang yang memiliki keyakinan atas kemampuannya menghadapi kehidupan, menganggap bahwa dirinya berharga dan sederajat dengan orang lain, mampu bertanggung jawab terhadap perilakunya, mampu menerima pujian secara objektif, dan tidak menyalahkan diri sendiri.

“Dari beberapa definisi diatas maka dapat dipahami bahwa penerimaan diri adalah sebuah tingkat kesadaran terhadap kelemahan dan kelebihan yang dimiliki oleh setiap individu,” katanya.

Memiliki kemampuan atau kemauan untuk hidup dengan hal tersebut dengan tidak menyalahkan diri sendiri dan selalu berusaha untuk mengembangkan setiap potensi diri yang dimilikinya.

Dengan demikian, seseorang yang memiliki penerimaan diri tidak akan memusingkan hal-hal yang tidak dimilikinya atau hal-hal yang di luar kemampuannya yang sering kali memicu stress bahkan berujung pada disabilitas mental.

3 dari 4 halaman

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas
Perbesar
Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)
4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓