Di Balik Berdirinya Difalitera, Komunitas Cerita Suara untuk Difabel Netra

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 05 Feb 2021, 13:00 WIB
Diperbarui 05 Feb 2021, 13:00 WIB
Difalitera
Perbesar
Komunitas Baca Tunanetra Difalitera. Foto: Instagram @Difalitera.

Liputan6.com, Jakarta Sulitnya mencari karya sastra mutakhir dalam bentuk audio untuk para penyandang difabel netra melatarbelakangi berdirinya Difalitera.

Pendiri Difalitera, Indah Darmastuti mengatakan, Difalitera adalah komunitas yang fokus mengubah berbagai karya sastra seperti cerita pendek, cerita anak, puisi, dan geguritan ke dalam bentuk audio. Komunitas ini membentuk situs sastra suara yang dapat diakses oleh semua orang di mana pun dan kapan pun.

Indah menuturkan, ide awal terbentuknya Difalitera tidak datang secara tiba-tiba. Ide ini berawal dari pertemuannya dengan salah satu difabel netra di Solo.

“Ide itu tidak langsung datang dari langit, ada semacam pertemuanku dulu dengan teman netra namanya Agata, ia sekarang sudah jadi PNS di Jakarta,” ujar Indah kepada redaksi Disabilitas Liputan6.com, Rabu (4/2/2021).

Sekitar 2017, komunitas sastra Indah di Solo, Jawa Tengah, membuat sebuah acara bincang sastra dengan tema Sastra dan Disabilitas. Dalam acara tersebut, ia mengundang dua pembicara yang salah satunya adalah Agata.

“Agata menyampaikan, dia kesulitan mengakses sastra mutakhir, sebenarnya ada dalam bentuk e-book, tapi kita tahu sendiri e-book itu yang baca mesin, tanpa emosi, intonasi dan lain-lain tidak serta di situ.”

Selain pembaca otomatis tidak memiliki intonasi dan emosi layaknya manusia, ebook juga tidak banyak menyediakan bacaan-bacaan baru atau mutakhir.

“Dari kesulitan itu aku berpikir bagaimana caranya bisa membantu teman netra untuk mengakses sastra. Jadi Difalitera itu ada untuk memberikan hak baca bagi teman difabel netra.”

Indah yang juga aktif sebagai penulis akhirnya menghubungi rekan-rekannya untuk bekerja sama membangun Difalitera. Ia mengumpulkan karya-karya sastra yang dapat dan diizinkan untuk dibuat dalam bentuk audio dan Difalitera pun akhirnya berdiri pada 2018.

2 dari 4 halaman

Proses Pembuatan Cerita Suara

Dalam proses pembuatan cerita suara, Difalitera bekerja sama dengan berbagai orang di beberapa kota bahkan negara yang berbeda.

Setelah mendapatkan cerita-cerita dari berbagai orang, kemudian dilakukanlah proses rekaman. Sejauh ini, komunitas inklusif ini memiliki 6 narator tetap yang terdiri dari 2 laki-laki dan 4 perempuan.

“Kalau aku mendapatkan naskah, aku pelajari dulu ini paling cocok dengan karakter suaranya siapa baru aku serahkan ke narator. Setelah hasil rekamannya jadi, aku serahkan kepada editor dan ilustrator musik.”

Dari ilustrator musik, audio cerita diserahkan kembali kepada Indah untuk akhirnya dikirim ke admin situs difalitera.org. Setelah diterima, maka admin situs sudah bisa mengunggah karya cerita suara tersebut.

Ia menambahkan, siapapun dapat menjadi kontributor di Difalitera, baik berkontribusi dalam bentuk naskah maupun berkontribusi menjadi narator.

Kriteria tulisan pun tidak dipatok secara ketat, berbagai karya baik dari penulis maupun bukan penulis berpengalaman akan diterima selama karya tersebut dinilai bagus oleh tim Difalitera.

Sejauh ini, ada sekitar 300 karya yang sudah dibuat dalam bentuk audio dan dapat dinikmati oleh semua orang terutama difabel netra.

“Terkhusus ini memang untuk difabel netra untuk memenuhi hak baca mereka, tapi ini tidak menutup kemungkinan untuk orang awas di luar difabel, siapapun bisa akses kok,” tutupnya.

3 dari 4 halaman

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas
Perbesar
Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)
4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓