Berbagai Dampak COVID-19 untuk Orang Dengan Gangguan Jiwa, Putus Obat Salah Satunya

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 22 Mei 2020, 12:08 WIB
Diperbarui 22 Mei 2020, 12:11 WIB
Webminar AJI dan Unicef

Liputan6.com, Jakarta Tidak hanya berpengaruh pada kesehatan mental non disabilitas, COVID-19 juga memiliki pengaruh pada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Seperti disampaikan Annelia Sari Sami, Ketua Satgas Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia untuk Penanggulangan COVID-19. Menurutnya, banyak hal yang dapat terjadi pada pasien dengan gangguan jiwa akibat pandemi.

“Risiko yang paling besar adalah kesulitan mendapatkan akses perawatan. Sejumlah RSJ terpaksa membatasi mereka yang dirawat inap karena harus mengurangi kapasitas,” ujar Anne dalam webminar kesehatan jiwa bersama Unicef (19/5/2020).

Walaupun dirawat inap, keluarga tidak dapat membesuk. Padahal, ODGJ memerlukan dukungan keluarga. Tak dapat membesuk berarti akses untuk keluarga berkurang, tambahnya.

2 dari 3 halaman

Risiko Putus Obat

Ada risiko lain yang bisa didapatkan oleh ODGJ di masa pandemi. Untuk ODGJ yang tergantung pada obat, di tengah pandemi ini ada risiko tinggi putus obat.

“Besar sekali risikonya, bahkan mereka bisa mengalami kemunduran. Mereka yang sudah hampir bisa bersosialisasi  ada kemungkinan mundur lagi.”

“Dan sayangnya di saat pandemi seperti ini mereka kurang menjadi prioritas dalam penanganan karena secara fisik kan mereka terlihat sehat-sehat saja.”  

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓