Tak Bisa Bedakan Khayalan dan Kenyataan, Pria Ini Idap Skizofrenia Paranoid

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 11 Mei 2020, 12:51 WIB
Diperbarui 11 Mei 2020, 16:22 WIB
Eddiansyah Ragil Saputra

Liputan6.com, Jakarta Tahun 2012 menjadi momen terungkapnya disabilitas yang disandang Eddiansyah Ragil Saputra. Pria usia 29 ini didiagnosis meyandang disabilitas mental jenis Skizofrenia Paranoid.

“Saat itu saya merasakan ketakutan yang luar biasa, bahasa lainnya Skizofrenia Paranoid, atau sejenis penyakit gangguan jiwa yang tidak bisa membedakan mana yang khayalan mana yang realita,” kata Eddi kepada Liputan6.com melalui pesan teks, Senin (11/5/2020).

Gejala yang dialami berupa waham, halusinasi, delusi dan bisikan-bisikan yang membuat dirinya merasa tidak nyaman. Timbul pemikiran tentang akan ada orang yang menyakiti bahkan membunuhnya.

“Halusinasi bahwa saya akan disakiti bahkan akan dibunuh oleh orang terdekat saya. Contoh saya akan dibunuh oleh ibu saya sendiri.”

Bukan hal mudah bagi Eddi mengatasi gangguan ini. Pasalnya, Skizofrenia berdampak pada gangguan proses berpikir, bertingkah laku, dan bertindak. Ia pun tidak bisa membedakan antara realita dan kenyataan disertai adanya rasa khawatir dan cemas yang berlebihan.

2 dari 3 halaman

Pernah Masuk Rumah Sakit Jiwa

Keadaan Eddi yang dianggap tabu dan aib bagi keluarga, menghantarkannya ke bangsal Rumah Sakit Jiwa Islam Klender. Kala itu, pengetahuan tentang disabilitas mental masih minim.

“Lebih tepatnya di bulan September tahun 2012, saya dimasukkan ke dalam bangsal di RS Jiwa Islam Klender selama seminggu saya dikarantina karena saya agak mengamuk waktu itu.”

Ia menambahkan, biasanya gangguan ini dapat kambuh karena dipicu faktor bullying, lingkungan, ekonomi dan lain-lain.

Setelah didiagnosis, penanganan yang baik pun didapat. Eddi mengatasi disabilitasnya dengan selalu berpikir positif dan sadar. Selalu berpikir tentang saat ini, bukan pada masa lalu maupun pada masa depan.

“Kontrol Rutin sebulan sekali ke RSKD Duren Sawit, saya diterapi dengan obat oral maupun injeksi untuk injeksi sebulan sekali, untuk obat oral diminum semalam sekali.”

Kini, Eddi berhasil membenahi kehidupannya. Ia bahkan lolos menjadi CPNS Pemprov DKI Jakarta pada 2019.

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓