Suka Duka Jalani WFH Sebagai Wartawati Tunanetra

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 24 Apr 2020, 16:40 WIB
Diperbarui 24 Apr 2020, 16:40 WIB
Ilustrasi wartawan

Liputan6.com, Jakarta Cheta Nilawaty, seorang wartawati tunanetra di salah satu media swasta Jakarta berbagi kisah susah senang menjalani work from home (WFH). Baginya, WFH dapat memudahkan pekerjaan karena tidak perlu keluar rumah.

Ia cukup mengakses banyak informasi dari ponsel pintar. Namun, kegiatan reportase tidak dapat ia lakukan selama WFH ini.

“Aslinya pekerjaan saya itu harus mereportase. Nah reportase ini yang gak bisa saya lakukan selama WFH, jadi saya lihat tema dulu, kalau harus reportase saya perlu menggunakan pendamping,” ujarnya dalam M Talks 2020 bersama Konekin dan Rumah Millenials (19/4/2020).   

Namun, konten lain yang dapat dicari di internet tetap dapat dilakukan. Bahkan hal ini lebih mudah karena tak perlu bepergian atau liputan.

2 dari 3 halaman

Tunanetra Bukan Kendala Besar

Menjadi tunanetra di usia 34 membuatnya sulit untuk bepergian. Beda halnya dengan tunanetra sejak usia dini yang sudah terbiasa.

“Jujur menjadi tunet yang sudah dewasa mobilitas itu menjadi suatu kendala buat saya. Jadi lebih takut melangkah, takut bergerak, takut kejedot itu biasa.”

“Tapi sekali lagi itu bukan masalah besar. Di saat-saat seperti ini, itu bisa dihindari. Bisa dapat informasi juga lebih banyak,” tambahnya.

Terkait reasonable accommodation di tempatnya bekerja, menurutnya cukup memadai. Perusahaan memberinya ongkos untuk membayar pendamping.

“Untuk hak yang diberikan perusahaan masih sama tidak ada yang dikurangi. Tanggung Jawab pekerjaan pun sama dengan wartawan lainnya,” pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓