Peringati Hari Down Syndrome Sedunia, Dua Penyandang akan Berbagi Kisah di Markas PBB

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 13 Mar 2020, 10:00 WIB
Diperbarui 13 Mar 2020, 10:00 WIB
Sidang Briefing Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mengenai Anak-anak dalam Konflik Bersenjata (Security Council Briefing on Children in Armed Conflict) di Markas Besar PBB di New York, Rabu, 12 Februari 2020.

Liputan6.com, Jakarta World Down syndrome Day akan segera diperingati pada Maret ini di Jenewa, Swiss. Dua penyandang down syndrome asal India, Devanshi Joshi dan Unnati Surana akan terbang ke markas PBB Jenewa untuk berbagi kisah.

Bukan tanpa alasan, kedua penyandang down syndrome ini memiliki berbagai keahlian. Mereka telah menginspirasi banyak difabel lainnya.

Di usia 14, Unnati Surana mahir membuat tembikar, menari tradisional, dan bermain tenis meja. Kisah hidup dan bagaimana dia mengatasi berbagai tantangan akan menjadi fokus pembicaraan di PBB pada 23 Maret.

Acara World Down Syndrome Day PBB di Jenewa pada 23 Maret ini diberi tema ‘We Decide’. Dua perwakilan penyandang Down syndrome ini melambangkan semangat di balik pencapaian mereka.

2 dari 2 halaman

Devanshi Joshi

 Seperti Unnati, Devanshi Joshi juga akan berbagi cerita perjalanannya menuju kemerdekaan. Di usia 26, ia adalah seorang advokat terkenal dan pendukung perjuangan orang-orang difabel. Ia mewakili semangat inklusi sejati di lingkungan sekitarnya.

Sang ibu, Rashmi Joshi juga akan ikut serta memberitahukan berbagai kiat dan cara yang telah ia dan suaminya, Anil Joshi kembangkan selama bertahun-tahun untuk membuat anaknya mandiri.

Orang tua Devanshi mengaku, mereka sempat kebingungan ketika mendengar diagnosis Down syndrome. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.

“Mendapatkan informasi yang tepat pada waktu yang tepat adalah kuncinya dan itu bisa terjadi hanya jika orang tua sadar. Saya dan istri saya memutuskan untuk membantu orang tua lain mendapat informasi yang benar,” kata Anil pada newzhook.com.

Sementara itu, Unnati akan ditemani oleh saudara lelakinya yang berusia 16 tahun dan ibunya Meghna Surana. Saudaranya juga akan berbicara di acara tersebut.

"Kami merasa bahwa perspektif saudara sangat penting", kata Meghna. “Diundang untuk berbicara di PBB itu bagus. Ini adalah kesempatan yang luar biasa,” pungkasnya.

Lanjutkan Membaca ↓