Mahasiswa Sulap Bola Tenis Jadi Grafiti Braille Pertama di India

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 13 Mar 2020, 15:00 WIB
Diperbarui 13 Mar 2020, 15:00 WIB
Gang Grafiti Melbourne

Liputan6.com, Jakarta Enam Mahasiswa Universitas Jadavpur gunakan bola tenis untuk membuat grafiti braille pertama di India.  Proyek kreatif ini dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah Literature and Marginalities Disability Module.

Grafiti unik ini dibuat sebagai bahan presentasi di semester akhir. Enam mahasiswa yang tergabung dalam kelompok ini adalah Manikankana Sengupta, Subhradeep Chatterjee, Emon Bhattacharya, Chandrima Mukhopadhyaya, Utsa Ghosh dan Anik Mondal.

Grafiti braille telah dipasang di salah satu dinding gedung seni di kampus tersebut. Grafiti ini dibuat dengan bola tenis putih yang dibelah dua kemudian ditempel di dinding menggunakan semen.

Ishan Chakraborty, Asisten Profesor, Departemen Bahasa Inggris, Universitas Jadavpur yang menyandang tunanetra mengaku bangga atas karya ini.

“Ini adalah salah satu momen ketika sebagai guru, Anda merasa sangat bangga dengan siswa Anda. Saya sangat bangga menyatakan bahwa ini adalah grafiti braille pertama, sejauh yang saya ketahui,” katanya pada newzhook.com.

Menurutnya, ini adalah salah satu dari banyak langkah kecil untuk membuat departemen dapat diakses secara budaya. Sama pentingnya dengan membuat ruang yang dapat diakses secara fisik.

2 dari 3 halaman

Seni yang Akses

Ide unik ini datang sendiri dari para mahasiswa. Bola tenis yang ditata itu membentuk kata “subaltern” yang artinya kaum marginal. Proses pembuatan grafiti ini hanya memakan waktu enam hari.

“Kami terinspirasi oleh rangkaian grafiti yang dibuat di Eropa oleh seorang seniman yang menggunakan nama ‘The Blind’. Dia menggunakan bola dan menempelkannya ke dinding untuk membuat grafiti. Ini adalah pertama kalinya hal seperti ini dilakukan di India,” kata Subhradeep.

Ia menambahkan, Jadavpur Univerity memiliki sejumlah siswa tunanetra. “Kami menyebutnya 'subaltern' karena orang dengan disabilitas adalah subaltern dalam banyak hal”, tambahnya.

Bagi Profesor Chakraborty, ini adalah momen perayaan. Ia telah berbicara tentang membuat seni yang dapat diakses oleh para tunanetra.

“Sesuatu yang agak baru di India di mana aksesibilitas selalu dilihat dari sudut pandang landai. Ini terlepas dari Undang-Undang Hak Penyandang Disabilitas yang mengamanatkan seni dan budaya itu dapat diakses juga. Para siswa ini membantu membawa perubahan yang sangat dibutuhkan dalam perspektif.”

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓