Olahraga Bantu Penyandang Tunanetra Ini Merasa Lebih Bersemangat Hidup

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 12 Mar 2020, 15:00 WIB
Diperbarui 12 Mar 2020, 15:00 WIB
Ilustrasi olahraga

Liputan6.com, Jakarta Kecintaan terhadap olahraga membuat seorang pria tunanetra berhasil menjaga kebugaran tubuh. Tak berolahraga sendiri, pria paruh baya ini banyak menghabiskan waktu di gym bersama anjing pemandu kesayangannya.

Ian Moris adalah pekerja di industri farmasi sampai satu ketika hidupnya berubah. Di usia 20-an ia mengalami kecelakaan mobil yang hampir merenggut nyawa.  Tak lama setelah itu, ia dinyatan kehilangan penglihatan dan menjadi tunanetra.

Sejak dulu pria asal Portsmouth, Inggris ini sangat aktif dan gemar olahraga. Namun, setelah kejadian tersebut ia berhenti berolahraga hingga 10 tahun.

"Tidak dapat berolahraga secara teratur adalah hal yang sangat sulit. Olahraga dan aktivitas adalah bagian penting dari hidup saya, jadi ketika berhenti, saya tidak yakin ke arah mana hidup saya menuju,” kata Ian pada metro.co.uk.

Pria usia 50 ini kemudian menyesuaikan diri dan berjuang untuk memastikan bahwa olahraga dan aktivitas lain tetap menjadi bagian rutin dalam hidupnya. Ia pun bergabung dalam tim kriket tunanetra lokal dan grup Anytime Fitness.

2 dari 3 halaman

Dibantu Anjing Penuntun

Kini, Ian bekerja sebagai manajer program strategis senior di Guide Dogs UK. Sehari-hari ia dibantu oleh anjing jenis golden retriever yang diberi nama Millsey.

"Millsey sangat terkenal di gym. Dia cukup sering nongkrong dengan anggota staf juga.”

Ian benar-benar percaya bahwa perkembangan teknologi sangat mendukung dirinya sebagai tunanetra. “Teknologi berarti telepon dan PC saya berbicara, serta ada begitu banyak aplikasi yang membantu di luar sana,” jelas Ian.

Sedang, dalam hal mobilitas, hanya ada dua alat bantu bagi Ian yaitu tongkat atau anjing penuntun. Bagi sebagian orang, tongkat adalah hal yang sangat berguna dan membantu. Sedang menurutnya, anjing penuntun lebih memberi kebebasan ketika jalan-jalan di luar.

“Dengan GPS di ponsel saya dan Millsey di tangan kiri saya, hampir tidak ada tempat yang kita tidak bisa datangi.”

Ian tahu bahwa kesejahteraan mental memiliki kaitan erat dengan kesejahteraan fisiknya. "Saya selalu menganggap kesejahteraan mental saya sama pentingnya dengan kesejahteraan fisik saya," katanya.

Dengan berolahraga pria ini mendapat manfaat yang signifikan. Ian mengatakan dia menghabiskan beberapa tahun di “hutan belantara” sebelum munculnya Paralimpiade dan olahraga untuk difabel. Dia ingin menyebarkan pesan bahwa disabilitas tidak seharusnya menjadi penghalang untuk siapa pun berpartisipasi dalam ajang-ajang olahraga.

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓