Cinta Pasangan Tuli Bersemi di Pelatihan Vokasional Hingga Arungi Bisnis Salon

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 03 Mar 2020, 15:24 WIB
Diperbarui 03 Mar 2020, 15:49 WIB
Salma dan Asnawi Pasangan Tuli

Liputan6.com, Jakarta Salma dan Asnawi akhirnya menikah pada November lalu. Tidak seperti kisah cinta lainnya, keduanya bertemu dalam pelatihan vokasional Loka Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara (LRSPDSRW) Meohai, Kendari.

Pertemuan secara terus menerus selama pelatihan menumbuhkan rasa cinta di antara keduanya. Namun, mereka baru terbuka tentang perasaannya setelah pulang ke daerah masing-masing.

Hasil pelatihan vokasional selama dua tahun (2016-2018) terbukti sanggup mengasah kemampuan juga memberi kesempatan kerja sebagai bekal hidup berumah tangga. Pasangan tuli usia 22 itu dapat bahu membahu mengarungi bahtera rumah tangga. Mereka mengembangkan usaha salon berbekal ilmu tata rias yang didapat saat pelatihan.

"Di antaranya, ya mereka berbicara yang melangkah ke tahap yang lebih serius. Mereka sepakat membangun rumah tangga," kata Kepala LRSPDSRW Meohai Kendari, Budi Sucahyono, di Kendari, Sabtu (29/02/2020).

Mengetahui niat baik ini, orangtua Salma dan Asnawi merestui hubungan keduanya. Mereka resmi menikah pada 24 November 2019.

2 dari 3 halaman

Dirikan Salon

Salma dan Asnawi Pasangan Tuli
Salma dan Asnawi Pasangan Tuli buka usaha salon. Foto: Biro Humas Kemensos.

Budi Sucahyono menuturkan, Salma dan Asnawi merupakan penerima manfaat yang sangat menonjol dibandingkan penerima manfaat lainnya.

"Selama mereka mendapatkan terapi vokasional di LRSPDSRW Meohai Kendari, mereka sangat menonjol, hasil asesmen kami menunjukkan bahwa Salma dan Asnawi mempunyai bakat yang sama yakni di bidang keterampilan tata rias. Hasil merias Salma dan Asnawi sangat bagus dan rapi," katanya. 

Salon yang mereka rintis terletak di Kabupaten Konawe, berdiri tepat di pinggir jalan poros Desa Asao, Kecamatan Abuki, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Usaha tersebut memberi pemasukan sekitar Rp2 juta sampai Rp3 juta setiap bulannya. Hal tersebut selaras dengan harapan pemberi Loka RSPDSRW Meohai, agar pasca menempuh terapi, penyandang disabilitas tuli mampu menopang kehidupannya secara mandiri.

"Inilah yang menjadi harapan kami, setelah mereka mendapatkan terapi vokasional di LRSPDSRW, mereka bisa lebih mandiri secara sosial dan ekonomi tanpa menggantungkan hidup kepada kedua orang tua mereka," ujar Budi Sucahyono.

3 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓