Penyebab Serangan Panik pada Penyandang Autisme (1)

Oleh Ade Nasihudin Al Ansori pada 09 Des 2019, 15:00 WIB
Diperbarui 09 Des 2019, 15:15 WIB
Ilustrasi Anak Autisme (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta Ketua Disability Matters, Ellen Stumbo menuliskan 11 hal yang dapat menjadi pemicu serangan panik bagi penyandang autisme.

Seperti dilansir dari The Mighty, pemicu serangan panik tersebut antara lain perubahan rutinitas, terlalu banyak suara bising, lingkungan baru, tempat-tempat ramai, tidak menemukan kebutuhan dasar, ketika orang-orang tidak dalam level yang sama, terlalu banyak yang diindera, adanya pemicu spesifik atau pemicu kecil, ketika sesuatu berjalan di luar kontrol, merasa terperangkap, dan interaksi sosial yang tidak nyaman.

Ellen merangkum kesebelas faktor ini dari komentar para penyandang autisme di media sosial.

1.       Rutinitas Baru

Menurut Ellen banyak orang yang melakukan pekerjaan sehari-hari secara spontan tapi sebagian orang lebih nyaman ketika dirinya menetapkan rutinitas sehingga dapat menebak aktivitas selanjutnya.

Perubahan rutinitas secara tiba-tiba dapat menyebabkan kepanikan. Seorang warganet bernama Chris K menjawab, dirinya akan panik atau meltdown ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.

2.       Terlalu bising

Sensitivitas sensor dapat membuat orang merasakan berbagai hal dalam satu waktu. Contohnya, di tempat-tempat ramai seseorang dapat melihat, mendengar, mencium, dan merasakan di waktu bersamaan yang menyebabkan stimulasi berlebih.

Seorang warganet dengan autisme bernama Cameron Park menjawab di media sosial. Hal yang dapat memicu meltdown adalah tempat-tempat dengan kebisingan yang tiba-tiba tanpa permulaan.

2 dari 2 halaman

Lingkungan Baru dan Tempat Ramai

3.       Lingkungan yang Baru

Ellen menambahkan, mungkin ada berbagai cara untuk sebuah lingkungan baru dapat menjadi pemicu kepanikan. Di tempat baru tentunya rutinitas pun baru serta banyak orang-orang baru. Andie K seorang warga net menulis, orang-orang baru biasanya tidak mengerti keadaan dia. Pada akhirnya bullyiing dapat terjadi dan memberi efek sangat negatif bagi Andi. Hanya sebagian orang baru yang berpikir sebelum bicara dan lebih hati-hati dalam berprasangka.

4.       Tempat-Tempat Ramai

Kebanyakan tempat umum sangat ramai dikunjungi orang seperti mall, stasiun, rumah makan, tempat wisata, dan bahkan bioskop. Tempat dengan banyak kebisingan dan orang dapat sangat mengganggu orang dengan autisme dan memicu kepanikan. Pergi ke tempat yang lebih sepi dan tidak terlalu ramai akan sangat membantu.

Mony P seorang autis menuliskan, setelah dewasa ia mulai jarang mendapat serangan panik karena ia belajar untuk mengidentifikasi faktor apa yang memicu panik. Namun, tetap saja ketika ia berpikir tentang tempat ramai seperti mall, pernikahan, dan club tetap dapat membuat dia gugup. Satu hal yang dapat membuat dia lebih tenang adalah beristirahat selama 10 sampai 15 menit di tempat yang sepi.

5.       Tidak Mendapat Kebutuhan Dasar

Tidak mendapatkan kebutuhan-kebutuhan primer seperti makanan, air, dan tidur dapat sangat mengganggu pengidap autis. Hal tersebut dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan kelelahan. Di saat seperti itu, pengidap akan sangat mudah diserang pemicu-pemicu panik dari sekitar.

 Sally F. seorang autis menuliskan, meltdown dapat disebabkan kelelahan, kurangnya makanan, dehidrasi, dan terlalu banyak kontak dengan orang. Kunci untuk untuk mengurangi meltdown adalah tidur cukup delapan jam, makanan bernutrisi dengan protein, air, ketenangan dan kedamaian.

Lanjutkan Membaca ↓