Pria Penyandang Disabilitas Ini Dapat Julukan Atlet One-Armed

Oleh Liputan6.com pada 07 Nov 2019, 19:47 WIB
Loh Chee Khoon

Liputan6.com, Jakarta - Kehidupan penuh tantangan telah dijalani seorang pria penyandang disabilitas ini. Dilahirkan hanya dengan satu tangan, bukan lah penghalang untuk ia melakukan aktivitas layaknya orang dengan kelengkapan fisik.

Ia bahkan melakukan berbagai aktivitas yang tidak semua orang dapat melakukannya seperti maraton, berenang, mendaki, bahkan olahraga angkat beban.

Loh Chee Khoon berusia 30 tahun menolak untuk menggunakan tangan palsu. Ia mengungkapkan bahwa memiliki satu tangan bukan halangan baginya.

"Saya memutuskan untuk tidak memakai tangan palsu pada usia 18 tahun. Justru menggunakannya menambah beban saya," katanya.

Ketika pertama kali melepasnya, ia merasa takut dan minder melihat orang dan hanya menunduk saat berjalan. Seiring berjalannya waktu, akhirnya ia dapat beradaptasi.

Anak bungsu dari empat saudara ini biasa dipanggil dengan nama CK. Ia mulai aktif melakukan aktivitas luar pada saat berusia 22 tahun.

CK pertama kali ambil bagian dari maraton. Namun ia diremehkan karena tidak akan menyelesaikannya. Tapi stigma ini dijadikannya sebagai batu loncatan dan berhasil menyelesaikan lari yang berjarak 100 km dalam maraton di Hulu Langat pada Maret 2018.

CK juga melalukan olahraga angkat beban. Aktivitas kebuguran ini membuat berat badannya turun menjadi 57 kg dari 80 kg karena pola makan yang buruk.

Ia juga sangat mengagumi Nick Vujicic, seorang warga Australia tanpa kelengkapan fisik yang juga motivator popular di seluruh dunia.

Saat ini, CK tidak hanya seorang perancang program komputer yang sukses. Ia juga mewakili Malaysia di salah satu balapan rintangan terberat di dunia yaitu Spartan Race untuk seri kejuaraan Asia Pasifik (APAC).

2 of 2

Tak Mengenal Kata Menyerah Dalam Hidupnya

Loh Chee Khoon
Sumber foto Facebook/One-armed Runner: CK Loh

Pada Desember, CK juga dikenal sebagai One Armed Runne atau pelari satu tangan, berpartisipasi dalam mendaki Gunung Kinabalu di Sabah.

Hal ini dilakukannya untuk menantang kemampuan dirinya. Sayangnya, ia tidak dapat mencapai puncak dan terhenti di Laban Rata karena penyakit Acute Mountain Sickness atau AMS.

"Saya kecewa tidak sampai di puncak gunung, tetapi saya tidak akan berputus asa dan akan kembali m,enaklukan puncak Kinabalu," katanya.

CK yang merupakan lulusan multimedia di Universitas Multimedia Malaysia (MMU) ini memberikan kata-kata motivasi untuk kaum milenial.

"Apa yang dipelajari tentu kita akan menemukan kegagalan, tapi yang lebih penting adalah jangan menyerah dan terus berusaha sampai kita berhasil".

 

Reporter : Yuliasna

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait