Kisah Avi Solomon, Pria Tunanetra yang Sukses Finis London Marathon

Oleh Liputan6.com pada 02 Nov 2019, 18:00 WIB
Avi Solomon Youtube / Screengrab

Liputan6.com, Jakarta - Ajang lari maraton yang terkenal di dunia, London Marathon 2019 diikuti sekitar 40 ribu pelari, termasuk di dalamnya seorang pria penyandang disabilitas asal Israel, Avi Salamon.

Solomon (36 tahun), harus kehilangan penglihatan sejak usia enam tahun. Meski begitu, keterbatasan tak menghentikan hasratnya untuk mengikuti lomba yang mendunia, London Marathon.

Ini merupakan maraton pertama bagi Solomon. Hebatnya ia dapat menyelesaikan lomba berjarak 42,195 kilometer tersebut dalam waktu tempuh 3 jam 7 menit.

Ia menempuh jarak di jalan kota London yang panjang dan berangin tersebut dengan ditemani dua pendamping: Lior Berhano untuk setengah jarak dan dilanjutkan Ariel Goldsmith hingga mencapai garis finish.

Ayah enam orang anak yang berasal dari Ramat Beit Semesh, Israel ini mendapatkan sorakan semangat dari penonton dengan teriakan "Go Solomon" dan juga "Israel! Israel!" sepanjang rute, demikian seperti dikutip dari The Jerusalem Post, Sabtu (2/11/2019).

"Saya sangat bahagia dapat menyelesaikan London Marathon. Ini pengalaman yang tak terlupakan yang dapat terwujud dengan bantuan banyak pihak. Juga dapat terwujud dengan kerja keras dan niat baik semua yang terlibat, terutama tim kami serta keluarga," katanya.

Sebelum mengikuti lomba, Solomon melakukan latihan untuk menyiapkan diri dengan mengikuti half-marathon (separuh maraton dengan jarak 21 km) di Tel Aviv. Ia finis dalam kurun waktu 1 jam 26 menit. Waktu ini dianggap telah memenuhi kualifikasi lomba London Marathon.

Tak berhenti disana, Solomon juga punya harapan untuk mengikuti pesta olahraga Paralympic 2020 di Tokyo dan akan berbagi pengalaman terbarunya selama di sana.

2 of 2

Mengalami Cedera, Tak Hentikan Hasratnya Menuju Kancah Internasional

Avi Salomon Youtube / Screengrab
(Kiri) Avi Solomon (Youtube / Screengrab

Solomon kehilangan penglihatannya setelah tertular infeksi di desa kecil tempat kelahirannya.

Setelah pindah ke Israel, Solomon menjalani operasi pemulihan penglihatan. Penglihatannya sempat membaik. Namun tak berlangsung lama, ia harus kehilangan penglihatannya secara total.

Sejak SMA Solomon telah mengenal olahraga atletik sebagai pelari jarak pendek. Ia pantang menyerah meskipun banyak kesulitan-kesulitan yang harus di hadapinya.

Mengalami cedera saat mengikuti kejuaraan dunia di Korea Selatan, tak menghalanginya untuk terus maju dan menjadikannya motivasi untuk terjun dalam kancah internasional.

Prinsip hidup Solomon yang sangat inspiratif untuk memotivasi kita semua.

"Lebih baik fokus terhadap apa yang telah kita miliki dari pada memikirkan apa yang tidak kita miliki. Saat kita fokus pada yang tidak dimiliki maka kita akan kehilangan apa yang kita miliki."

 

Reporter : Yuliasna

Lanjutkan Membaca ↓