Pembinaan Penyandang Disabilitas Agar Mampu Hidup Mandiri

Oleh Liputan6.com pada 22 Okt 2019, 17:39 WIB
Membina para difabel agar mandiri

Liputan6.com, Jakarta- Panti Bina Daksa Budi Bhakti yang berada di Cengkareng, Jakarta Barat merupakan tempat untuk melakukaan pembinaan bagi orang-orang disabilitas.

Para penyandang disabilitas ini berasal dari wilayah DKI Jakarta. Tidak hanya penyandang disabilitas, melainkan orang dengan masalah kejiwaan (ODMK) ada di tempat ini.

Kepala Seksi Informasi Dinas Sosial DKI Jakarta Miftah Huda mengatakan, panti yang harusnya membina para disabilitas, terpaksa harus menampung ODMK.

"Karena panti khusus menangani ODMK yang terdapat di empat lokasi sudah kelebihan kapasitas. Dengan begitu, ODMK harus berada di panti bina daksa agar bisa direhabilitasi dan diberi keterampilan," ujar Miftah.

Kepala Panti Prayitno mengatakan, penghuni panti saat ini sudah berjumlah 121 orang dengan berbagai macam latar belakang dan kekurangan fisik.

"Dari jumlah itu sekitar 60 orang merupakan penyandang masalah kejiawaan. Kebanyakan penghuni di panti ini merupakan hasil jangkauan (razia) dari Satpol PP dan Dinas Sosial Pemprov DKI," papar Prayitno.

Menurutnya, penghuni panti yang seharusnya wajib ber-KTP DKI, kini tidak lagi. Terutama, kata dia, para ODMK atau disabilitas yang berasal dari kegiatan penjangkauan.

 

2 of 3

Diberikan Pelatihan

Membina para difabel agar mandiri
Membina para difabel agar mandiri (Merdeka.com)

Prayitno mengatakan, panti ini telah memberikan beberapa kegiatan khusus seperti membatik, menjahit, membuat keset, dan membuat alat kebersihan rumah sampai telur bebek asin.

Para disabilitas ini mampu menghasilkan karya yang tak jauh beda dengan orang biasa. Hasilnya pun bagus dan rapi. Keset, sapu, alat pel, dan pakaian hasil jahitan sama seperti dengan yang dijual di toko.

"Sebelum dibina, petugas panti melakukan penilaian terhadap penghuni baru, pelatihan keterampilan apa yang cocok untuk mereka dan disesuaikan dengan kondisi dan minat mereka," kata Prayitno.

Apalagi, lanjut diaa, mereka tidak mengenyam pendidikan, sehingga sangat sulit bila diberikan keterampilan yang membutuhkan berpikir berat.

"Kalau mereka dilatih elektronik, service handphone tidak memungkinkan, mereka kalau dipaksakan akan gagal," papar Prayitno.

Hasil karya dari penghuni kemudian dipasarkan melalui pameran-pameran atau dititip ke koperasi dan warung sekitar panti. Hasilnya dibelikan kembali bahan-bahan agar para penghuni tetap beraktivitas setiap hari.

Menurut Prayitno anggaran terbesar operasional panti paling banyak untuk kebutuhan makan dan membayar 50 pegawai harian lepas (PHL).

Untuk makan, penghuni mendapat jatah Rp 25 ribu per orang per hari. Penghuni panti ini maksimal menetap selama 3 tahun.

"Jika pihak keluarga belum ada yang menjemput atau tidak menerima keadaan mereka terpaksa ditampung terlebih dulu. Bagi yang tidak memiliki keluarga, mereka akan mandiri saat keluar dari panti," papar dia.

Prayitno mengetahui kriteria-kriteria orang yang pantas lulus dari panti berdasarkan hasil pengamatannya setiap hari. Dia akan mengumumkan dengan pendekatan dan curhat ketika ada penghuni yang dirasanya pantas mandiri.

Prayitno mengatakan, penyandang disabilitas yang masuk ke panti semakin berkurang. Sudah jarang di jalan ditemui penyandang disabilitas.

"Saat ini banyak alumni yang mandiri dan memiliki pekerjaan. Bahkan ada di antara mereka sukses menjadi pengusaha," pungkas Prayitno.

 

(Annisa Suryanie)

 

Reporter : Desi Aditia Ningrum

Sumber   : Merdeka

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓