Harga Kripto Hari Ini 2 Oktober 2022: Bitcoin dan Ethereum Betah di Zona Merah

Oleh Elga Nurmutia pada 02 Okt 2022, 10:50 WIB
Diperbarui 02 Okt 2022, 10:50 WIB
Bitcoin - Image by Benjamin Nelan from Pixabay
Perbesar
Bitcoin - Image by Benjamin Nelan from Pixabay

Liputan6.com, Jakarta - Harga kripto jajaran teratas termasuk bitcoin masih melanjutkan koreksi pada perdagangan Minggu (2/10/2022). Harga bitcoin dan ethereum pun masih lesu.

Berdasarkan data dari Coinmarketcap, Minggu pagi, 2 Oktober 2022, kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, bitcoin (BTC) lanjutkan koreksi pada perdagangan akhir pekan ini. Selama 24 jam terakhir, harga bitcoin melemah 0,45 persen.

Dalam sepekan terakhir, harga bitcoin naik 1,67 persen. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi USD 19.314,16 atau sekitar Rp 294,24 juta (asumsi kurs Rp 15.234 per dolar AS).

Demikian juga harga ethereum (ETH) juga melanjutkan koreksi. Dalam 24 jam terakhir, harga ethereum tergelincir 1,37 persen. Selama sepekan terakhir, harga ethereum susut 1,05 persen. Harga ethereum berada di posisi USD 1.310,62 atau sekitar Rp 19,95 juta.

Harga binance coin (BNB) turun 0,38 persen dalam 24 jam terakhir. Akan tetapi, harga BNB menguat 2,37 persen selama sepekan terakhir. Harga BNB berada di posisi USD 282,64.

Sementara itu, harga XRP melemah tipis 0,10 persen dalam 24 jam terakhir. Sedangkan selama sepekan terakhir, harga XRP turun 1,75 persen. Saat ini, harga XRP berada di posisi USD 0,4759.

Harga cardano (ADA) berada di posisi USD 0,4317. Selama 24 jam terakhir, harga cardano turun terbatas 0,55 persen. Namun, selama sepekan terakhir, harga cardano anjlok 5,27 persen.

Harga solana (SOL) susut 0,57 persen dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga solana tergelincir 2,22 persen.

Demikian juga harga dogecoin yang berbalik arah menguat. Harga dogecoin turun 1,57 persen dalam 24 jam terakhir. Harga dogecoin tersungkur 3,74 persen dalam sepekan terakhir. Kini, harga dogecoin berada di posisi USD 0,06077.\

Stablecoin seperti tether (USDT) berada di zona merah dalam 24 jam dan sepekan terakhir. Harga tether berada di posisi USD 1,00.

Harga USD Coin (USDC) melemah tipis 0,01 persen dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga USDC susut 0,02 persen. Saat ini, harga USDC di USD 1.

Selain itu, harga binance USD (BUSD) menguat 0,05 persen dalam 24 jam terakhir. Dalam sepekan terakhir, harga BUSD melemah tipis 0,02 persen. Kini, harga BUSD berada di posisi USD 1,00.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


CEO JPMorgan Sebut Kripto Seperti Bitcoin Adalah Skema Ponzi Terdesentralisasi

Ilustrasi bitcoin (Foto: Vadim Artyukhin/Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi bitcoin (Foto: Vadim Artyukhin/Unsplash)

Sebelumnya, CEO JPMorgan, Chase Jamie Dimon mengatakan dalam sidang kongres AS token kripto, seperti bitcoin, adalah skema Ponzi terdesentralisasi. Dia mengatakan kepada anggota parlemen sangat skeptis pada token kripto. 

"Saya sangat skeptis pada token kripto yang Anda sebut mata uang, seperti bitcoin. Mereka adalah skema Ponzi yang terdesentralisasi,” ujar Dimon dikutip dari Bitcoin.com, Jumat (23/9/2022). 

Bos JPMorgan melanjutkan dengan referensi miliaran dolar hilang setiap tahun melalui kripto, menghubungkan cryptocurrency dengan kejahatan seperti pembayaran ransomware, pencucian uang, perdagangan seks, dan pencurian. Dia menekankan kripto itu "berbahaya".

Eksekutif JPMorgan juga berbicara tentang stablecoin, yang menurutnya tidak akan bermasalah dengan regulasi yang tepat. 

“Tidak ada yang salah dengan stablecoin , yang seperti dana pasar uang, diatur dengan benar,” kata Dimon. 

Mengenai blockchain, dia menegaskan JPMorgan adalah pengguna besar blockchain. Seorang skeptis bitcoin lama, Dimon telah memperingatkan investor pada beberapa kesempatan untuk berhati-hati dalam berinvestasi dalam cryptocurrency. 

Dia selalu memperingatkan mereka tidak memiliki nilai intrinsik. Dia sebelumnya mengatakan bitcoin tidak berharga dan mempertanyakan persediaan BTC yang terbatas. 

Kepala JPMorgan, bagaimanapun, telah berulang kali mengatakan jika inovasi seperti blockchain dan defi adalah nyata. Pada Mei, bank investasi global mengatakan mereka mengharapkan peningkatan penggunaan blockchain di bidang keuangan.

Di sisi lain, JPMorgan menawarkan beberapa investasi terkait kripto, memiliki JPM Coin sendiri, dan memiliki lounge di metaverse. Analis JPMorgan juga lebih optimis tentang bitcoin dan cryptocurrency daripada CEO bank. 

Pada Mei, analis JPMorgan Nikolaos Panigirtzoglou menerbitkan sebuah laporan yang menyatakan bank telah menggantikan real estat dengan aset digital sebagai kelas aset alternatif pilihan bersama dengan dana lindung nilai.


Investor Hong Kong Kehilangan Rp 744,61 Miliar dari Penipuan Kripto

Ilustrasi Bitcoin. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat
Perbesar
Ilustrasi Bitcoin. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Sebelumnya, penipuan mata uang kripto dilaporkan telah menjadi salah satu pelanggaran dunia maya paling umum di Hong Kong selama semester I 2022, dan 25 persen melibatkan aset digital.

Jumlah skema penipuan semacam itu dapat dijelaskan dengan meningkatnya minat pada cryptocurrency yang ditampilkan oleh banyak penduduk Hong Kong. Sebuah penelitian baru-baru ini mengklasifikasikan wilayah bagian itu sebagai wilayah yang paling siap dengan kripto di seluruh dunia.

Menurut liputan South China Morning Post, telah terjadi 10.613 serangan siber di Hong Kong antara awal Januari dan akhir Juni tahun ini. 798 adalah skema penipuan terkait peningkatan cryptocurrency 105 persen mengingat periode yang sama pada  2021.

Pelaku kejahatan menghabiskan 387,9 juta dolar Hong Kong (sekitar USD 50 juta atau Rp 744,61 miliar dengan asumsi kurs rupiah 14.892 per dolar AS) dari perusahaan dan individu aset digital yang berbasis di Hong Kong  lonjakan signifikan dibandingkan dengan USD 21 juta atau Rp 312 miliar yang dicuri pada semester I 2021.

Salah satu korbannya adalah wanita berusia 30 tahun bernama Fan, yang mengelola toko penukaran mata uang di wilayah tersebut.

Beberapa bulan yang lalu, dia menerima pesan di WhatsApp dari orang tak dikenal yang menampilkan dirinya sebagai kepala platform aset digital. Penjahat itu membujuknya untuk menginvestasikan sekitar USD 280.000 di Tether (USDT).

"Empat transaksi pertama untuk menukar [cryptocurrency] Tether berjalan lancar. Korban menerima 2,7 juta dolar Hong Kong, termasuk pembayaran kepadanya untuk layanan pertukaran yang dia berikan kepada scammer. Pada saat itu, scammer mendapatkan kepercayaan korban,” kata petugas penegak hukum, dikutip dari Cryptopotato, Minggu (7/8/2022).

Namun, tak lama setelah itu, pelaku kesalahan menyarankan Fan untuk melakukan transfer akumulasi keuntungan ke dompet cryptocurrency yang meragukan. Tak perlu dikatakan, dia kehilangan akses ke asetnya sementara scammer menghentikan komunikasi dengannya.

 


Penipuan Terkait Aset Digital Masuk Tiga Besar

Bitcoin
Perbesar
Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Polisi Hong Kong selanjutnya menetapkan penipuan terkait aset digital adalah salah satu dari tiga penipuan teratas di Hong Kong untuk paruh pertama 2022. Dua lainnya adalah penipuan tawaran pekerjaan dan penipuan aktivitas belanja online.

Peningkatan pesat penipuan cryptocurrency di Hong Kong dapat dipicu oleh melonjaknya selera untuk aset digital, yang baru-baru ini ditunjukkan oleh penduduk. 

Sebuah survei yang dilakukan bulan lalu mengungkapkan bahwa wilayah administrasi khusus China adalah negara yang paling siap kripto secara global.

Tempat pertama adalah hasil dari kombinasi banyak faktor, termasuk sikap ramah pemerintah terhadap industri, jumlah ATM cryptocurrency, dan minat pada sektor per kapita.

Ekonomi terkemuka dunia, Amerika Serikat berada di peringkat kedua, sedangkan pusat keuangan Eropa, Swiss menyusul di posisi ketiga.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya