Marak Investasi Bodong, Ini Cara Agar Tak Terjerumus

Oleh Gagas Yoga Pratomo pada 28 Jun 2022, 06:57 WIB
Diperbarui 28 Jun 2022, 06:57 WIB
Ilustrasi Investasi Bodong (Arfandi/Liputan6.com)
Perbesar
Ilustrasi Investasi Bodong (Arfandi/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Belakangan ini, banyak kasus investasi bodong yang merugikan masyarakat dalam jumlah besar. Banyaknya penawaran investasi bodong tersebut bisa berdampak kepada masyarakat yang menjadi takut untuk mulai berinvestasi. 

Padahal masih banyak di luar sana penyedia layanan investasi sungguhan yang secara legal menawarkan produk atau aset investasi nyata.

Terkait dengan hal ini, Head of Funding Alami Group, platform investasi P2P Landing berbasis syariah, Muhammad Triarso membagikan penjelasan soal ciri-ciri investasi bodong dan cara agar tak terjerumus. 

Menurut Triarso ciri-ciri investasi bodong itu umumnya proses bisnis tidak jelas, menjanjikan keuntungan tidak wajar dalam waktu singkat, dan tidak berizin dari regulator seperti OJK.

“Investasi bodong juga biasanya menggunakan public figure untuk menarik massa dengan cepat, serta menjanjikan sudah pasti untung. Padahal dalam investasi seperti layaknya instrumen lain ada risiko, ketika dinyatakan oleh penawar tidak ada risiko, maka perlu hati-hati,” kata Triarso dalam webinar bertajuk ‘Trik Pilih Investasi Anti Bodong Anti Bohong’, ditulis Selasa, (28/6/2022).

“Paling penting investasi itu tidak ada yang untung cepat. Kalau sudah ada yang menawarkan investasi dengan keuntungan cepat, harus waspada apakah itu benar atau tidak. Logikanya jika benar, pasti sudah banyak orang kaya di Indonesia dari investasi itu, Pasangan jadi orang kaya itu perlu waktu dan proses. Jadi, kita perlu belajar jenis dan instrumen investasi dan cross check ke regulator,” lanjut Triarso. 

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Belajar Investasi Sejak Dini

Ilustrasi investasi (Foto: Unsplash/Austin Distel)
Perbesar
Ilustrasi investasi (Foto: Unsplash/Austin Distel)

Adapun, Triarso menjelaskan bagaimana cara agar investor tidak terjebak dalam investasi bodong. Dia menuturkan, investor perlu tahu tujuan investasi, durasi investasi, bisa mengatur alokasi, mempelajari aset investasi, dan melakukan diversifikasi portofolio. 

“Jika sudah paham dengan hal-hal tersebut, investor bisa terhindar dari investasi bodong. Aset investasi juga banyak, basic ada emas dan deposito, kalau sudah intermediate ada reksadana dan sukuk. Kemudian investor advance bisa berinvestasi di saham dan P2P lending,” ujar Triarso. 

Maka dari itu, Triarso mengingatkan dalam webinar untuk mulai belajar investasi sejak dini agar lebih banyak mengerti berbagai aset investasi dan terhindar dari investasi bodong. 

“Ini penting sekali buat kita belajar investasi sejak dini dan juga teliti, jangan sampai tidak mengerti. Usia 23 kalau bisa sudah tahu soal investasi karena literasi saat ini sudah banyak. Dengan belajar investasi kita juga bisa mencegah terjadi generasi sandwich di masa depan,” pungkas dia.


Ini Beda Investasi Syariah dan Konvensional

Ilustrasi investasi, investasi saham (Photo by Tech Daily on Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi investasi, investasi saham (Photo by Tech Daily on Unsplash)

Sebelumnya, saat ini ada banyak aset investasi yang dapat dipilih oleh para investor mulai dari yang konvensional hingga syariah. Investasi syariah sendiri semakin populer karena dalam sistemnya menggunakan nilai-nilai syariah Islam yang dinilai lebih transparan dan adil. 

Menurut Head of Funding Alami Group, platform investasi P2P Lending berbasis syariah, Muhammad Triarso menuturkan, investasi syariah memiliki beberapa kelebihan yang menjadi pembeda dengan investasi konvensional. 

Menurut Triarso, dengan adanya kelebihan ini, membuat membuat investasi syariah memiliki proteksi lebih untuk melindungi investor terjerumus pada investasi bodong yang tengah marak saat ini.

“Prinsip dalam investasi syariah tentunya harus sesuai prinsip syairah, adil dalam berbagi hasil harus sama-sama ridha dan tidak ada spekulasi. Dengan investasi berbasis syariah pertahanan dari investasi bodong lebih kuat,” ujar Triarso dalam webinar bertajuk ‘Trik Pilih Investasi Anti Bodong Anti Bohong’, Senin (27/6/2022). 

“Pada dasarnya investasi syariah itu harus ada impact social dan transparan, karena transparan ini, investasi syariah anti bodong,” lanjut dia. 

Meskipun begitu, Triarso mengingatkan setiap instrumen investasi memiliki tingkat risiko masing-masing. Jadi para calon investor jangan mudah tergiur dengan tawaran investasi yang mengatakan tidak ada risiko dan pasti untung, karena itu kemungkinan investasi bodong.

"Ciri-ciri investasi bodong itu proses bisnis tidak jelas, menjanjikan keuntungan tidak wajar dalam waktu singkat, tidak berizin dari regulator atau OJK, dan pakai public figure untuk menarik massa dengan cepat, serta menjanjikan sudah pasti untung. Padahal dalam investasi seperti layaknya instrumen lain ada risiko, ketika dinyatakan oleh penawar tidak ada risiko, maka perlu hati-hati,” ujar Triarso.


Alokasi Dana

(Foto: Ilustrasi investasi saham. Dok Unsplash/Austin Distel)
Perbesar
(Foto: Ilustrasi investasi saham. Dok Unsplash/Austin Distel)

Maka dari itu, menurut Triarso agar tidak terjebak dengan keserakahan dan tergiur dalam investasi bodong, para investor perlu paham soal alokasi dana. 

“Jangan masukan aset kita dalam satu keranjang, investor perlu paham diversifikasi. Investor juga harus paham ada tiga waktu investasi yaitu saat ini, masa depan, dan afterlife jika dalam investasi syariah,” kata Triarso.

“Banyak orang bangkrut karena menaruh semua aset dalam satu keranjang. Kita harus paham usia produktif kita itu pendek. Jadi harus hati-hati dengan uang yang kita simpang,” lanjut dia. 

Adapun, Triarso dalam webinar mengingatkan untuk mulai belajar investasi sejak dini agar lebih banyak mengerti berbagai aset investasi dan terhindar dari investasi bodong. 

“Ini penting sekali buat kita belajar investasi sejak dini dan juga teliti, jangan sampai tidak mengerti. Usia 23 kalau bisa sudah tahu soal investasi karena literasi saat ini sudah banyak. Dengan belajar investasi kita juga bisa mencegah terjadi generasi sandwich di masa depan,” pungkas dia.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya