Analis Ini Peringatkan Harga Bitcoin Bisa Turun Hingga Rp 192,8 Juta

Oleh Gagas Yoga Pratomo pada 25 Jun 2022, 08:01 WIB
Diperbarui 25 Jun 2022, 08:01 WIB
Ilustrasi harga bitcoin dan ethereum (Foto: Unsplash/Thought Catalog)
Perbesar
Ilustrasi harga bitcoin dan ethereum (Foto: Unsplash/Thought Catalog)

Liputan6.com, Jakarta Pendiri dan kepala investasi Absolute Strategy Research, Ian Harnett memperingatkan cryptocurrency terbesar di dunia, harga Bitcoin kemungkinan akan turun hingga USD 13.000 atau sekitar Rp 192,8 juta, turun hampir 40 persen dari level saat ini.

“Ini benar-benar permainan likuiditas. Apa yang kami temukan bukanlah mata uang, atau komoditas, dan tentu saja bukan penyimpan nilai,” kata Harnett dikutip dari CNBC, Jumat (24/6/2022). 

Harnett menjelaskan pandangan bearishnya pada Bitcoin berdasarkan data reli kripto di masa lalu yang menunjukkan bitcoin cenderung turun sekitar 80 persen dari tertinggi sepanjang masa.

Pada 2018, misalnya, Bitcoin anjlok mendekati USD 3.000 setelah mencapai puncaknya hampir USD 20.000 pada akhir 2017.

“Penurunan seperti itu pada 2022 akan membawa Anda kembali ke sekitar USD 3.000. Area dukungan utama untuk token. Bitcoin naik ke rekor tertinggi hampir USD 69.000 pada puncak hiruk-pikuk kripto 2021,” jelas Harnett.

“Di dunia di mana likuiditas berlimpah, bitcoin di dunia ini bekerja dengan baik. Ketika likuiditas itu diambil, itulah yang dilakukan bank sentral saat ini maka Anda melihat pasar tersebut berada di bawah tekanan ekstrem,” lanjut Harnett.

Industri kripto saat ini berada di ujung tanduk karena investor masih bergulat dengan dampak suku bunga yang lebih tinggi pada aset yang berkembang di era kebijakan moneter yang sangat longgar.

Pekan lalu, Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan pinjaman sebesar 75 basis poin, kenaikan tunggal terbesar sejak 1994. Keputusan dari Fed ditindaklanjuti dengan langkah serupa dari Bank of England dan Swiss National Bank.

Itu berdampak pada aset digital. Nilai gabungan dari semua cryptocurrency anjlok lebih dari USD 350 miliar dalam dua minggu terakhir. Bitcoin diperdagangkan pada harga USD 20.010. Kripto nomor satu itu telah kehilangan lebih dari setengah nilainya dari tahun ke tahun.

Pasar kripto sudah goyah sebelum kenaikan suku bunga Fed minggu lalu, dengan para pedagang diguncang oleh runtuhnya USD 60 miliar dari stablecoin terra USD yang populer dan saudaranya token luna.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.


Pasar Kripto Berhasil Menguat, Ini Penyebabnya

Bitcoin - Image by Benjamin Nelan from Pixabay
Perbesar
Bitcoin - Image by Benjamin Nelan from Pixabay

Di penghujung pekan keempat Juni 2022, investor aset kripto tampaknya bisa bernafas lega melihat kondisi pasar sedikit pulih menuju zona hijau menjelang akhir pekan.

Secara keseluruhan sejumlah aset kripto, terutama yang berkapitalisasi besar atau big cap telah tampil gemilang menuju zona hijau dalam perdagangan 24 jam terakhir. Misalnya saja, dari pantauan Coinmarketcap, Jumat sore (24/6/2022), nilai Bitcoin kembali tumbuh dengan harga USD 21.106 atau sekitar Rp 313,4 juta, tumbuh 4,12 persen.

Altcoin lainnya pun tak kalah meroket. Nilai Ethereum (ETH) ikut naik 6,67 persen ke USD 1.149. Solana (SOL) dan XRP bahkan melonjak lebih dari 10 persen. Binance Coin (BNB), Cardano (ADA) dan Dogecoin (DOGE) tumbuh lebih dari 5 persen sehari.

Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, mengatakan perdagangan kripto bergerak positif menjelang akhir pekan disebabkan oleh investor yang mulai percaya diri untuk ramaikan pasar dengan aksi beli. Ternyata sentimen positif ini juga dirasakan oleh kinerja pasar modal yang menampilkan performa gemilang.

"Secara umum, investor kembali masuk ke market kripto, bersamaan dengan kinerja pasar modal yang juga mengalami kinerja positif. Investor yakin bisa mendapatkan keuntungan dalam jangka panjang, ketika market kripto akan kembali bullish, sehingga mereka memutuskan untuk masuk meski masih ragu-ragu," kata Afid.

 

 

 


Hambatan Kripto

Ilustrasi aset kripto, mata uang kripto, Bitcoin, Ethereum, Ripple
Perbesar
Ilustrasi aset kripto, mata uang kripto, Bitcoin, Ethereum, Ripple. Kredit: WorldSpectrum via Pixabay

Selain dari sikap invetor ritel yang bersemangat untuk masuk ke pasar, ternyata dari sisi teknikal, aksi buy the dip yang dilakukan oleh whales juga berpengaruh untuk kenaikan harga. Indikator Mayer Multiple menunjukkan skornya berada 50 persen di bawah level Moving Average (MA) BTC selama 200 hari. 

Meski begitu, potensi market kripto untuk bullish dalam waktu dekat masih ada hambatan. Salah satu utama nya adalah kekhawatiran atas resesi ekonomi kian nyata, setelah ketua The Fed, Jerome Powell kembali menegaskan, otoritas moneter AS tersebut bakal terus melawan inflasi dengan kenaikan suku bunga acuan.

Secara teori, kenaikan suku bunga bakal mengurangi minat investor untuk menyimpan hartanya di aset berisiko seperti kripto, dan saham. Investor maupun ritel cenderung akan memilih institusi keuangan tradisional atau perbankan untuk menyimpan asetnya.

Menanti Titik Terendah Bitcoin

Titik bottom atau dasar dari penurunan harga Bitcoin saat ini menjadi hal yang paling nantikan. Titik ini akan menjadi akhir dari penderitaan berlarut-larut dari bear market dan membawa angin segar ke industri kripto.

"Berkaca pada kejadian Bitcoin crash pada 2013 dan 2017, di mana nilai BTC anjlok hingga 80 persen dari titik tertingginya atau ATH di kedua tahun tersebut. Sementara itu, saat ini, Bitcoin berada di kisaran USD 21.000, atau baru jatuh sekitar 75 persen dari titik tertingginya USD 68.000 di November lalu. Sehingga, banyak analis berkeyakinan titik bottom BTC nanti akan juga turun 80 persen sama pada 2013 dan 2017," jelas Afid.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya