Harga Kripto Hari Ini Sabtu 7 Mei 2022: BNB dan XRP Pimpin Penguatan

Oleh Gagas Yoga Pratomo pada 07 Mei 2022, 06:54 WIB
Diperbarui 07 Mei 2022, 06:54 WIB
Ilustrasi aset kripto, mata uang kripto, Bitcoin, Ethereum, Ripple
Perbesar
Ilustrasi aset kripto, mata uang kripto, Bitcoin, Ethereum, Ripple

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin dan kripto jajaran teratas terpantau mulai kembali mengalami pergerakan harga yang beragam, Sabtu pagi (7/5/2022). Namun, mayoritas kripto jajaran teratas masih terkoreksi cukup dalam.

Berdasarkan data dari Coinmarketcap, Sabtu pagi, kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin (BTC) melemah 1,22 persen dalam 24 jam dan 6,78 persen dalam sepekan.

Saat ini, harga bitcoin berada di level USD 35.980,74 per koin atau setara Rp 521,6 juta (asumsi kurs Rp 14.498 per dolar AS). 

Ethereum (ETH) juga masih melemah hari ini. Selama 24 jam terakhir, ETH anjlok 1,85 persen dan 4,36 persen dalam sepekan. Dengan begitu, saat ini ETH berada di level USD 2.693,13 per koin. 

Kripto selanjutnya, Binance coin (BNB) yang pagi ini berhasil sedikit menguat di tengah kripto lain yang melemah. Dalam 24 jam terakhir BNB menguat 0,59 persen, tetapi masih melemah 3,33  persen sepekan. Hal itu membuat BNB dibanderol dengan harga USD 379,97 per koin. 

Kemudian Cardano (ADA) masih di zona merah hari ini. Dalam satu hari terakhir ADA melemah 0,76 persen dan 2,74 persen sepekan. Dengan begitu, ADA berada pada level USD 0,7845 per koin.

Adapun Solana (SOL) masih melemah pagi ini. Sepanjang satu hari terakhir SOL melemah 2,74 persen dan 12,77 persen sepekan. Saat ini, harga SOL berada di level USD 81,94 per koin.

XRP mengikuti jejak BNB yang turut menguat tipis hari ini. Dalam satu hari terakhir, XRP menguat 0,72 persen. Namun masih melemah 1,80 persen dalam sepekan. Dengan begitu, XRP kini dibanderol seharga USD 0,5997 per koin. 

Terra (LUNA) juga masih melemah hari ini. Terra anjlok 5,38 persen dalam 24 jam terakhir dan 7,68 persen dalam sepekan. Saat ini Terra dihargai USD 78,60 per koin.

Stablecoin seperti Tether (USDT) dan USD coin (USDC), pada hari ini sama-sama melemah sebesar 0,01 persen. Hal tersebut membuat harga keduanya USDT berada di level USD 1,00. Sedangkan USDC harus turun ke level USD 0,9998.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Goldman Sachs Tawarkan Pinjaman Pertama yang Didukung Bitcoin

Ilustrasi bitcoin (Foto: Visual Stories/Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi bitcoin (Foto: Unsplash/Visual Stories)

Sebelumnya, bank investasi global Goldman Sachs telah menawarkan pinjaman tunai pertama yang didukung oleh Bitcoin (BTC). Sistem mudahnya, pinjaman tunai dijamin dengan Bitcoin milik peminjam.

Dilansir dari CoinDesk, Rabu, 4 Mei 2022, hal itu dijelaskan oleh seorang juru bicara Goldman Sachs yang mengatakan kesepakatan itu menarik bagi Goldman Sachs karena struktur dan manajemen risiko 24 jamnya.

Bank investasi ini semakin bersahabat dengan cryptocurrency. Pada Maret 2022, Goldman Sachs menampilkan cryptocurrency, metaverse, dan digitalisasi di berandanya.

Perusahaan ini juga melihat metaverse sebagai peluang bisnis dengan keuntungan sebesar USD 8 triliun atau sekitar Rp 115,6 kuadriliun.

Bank investasi global ini juga membawa kembali meja perdagangan bitcoin pada Maret tahun lalu. Pada Mei 2022, secara resmi membentuk tim perdagangan cryptocurrency dan meluncurkan perdagangan derivatif Bitcoin.

Kemudian pada Juni, Goldman Sachs memperluas meja perdagangan mata uang kriptonya untuk memasukkan ethereum (ETH) berjangka dan opsi. Selanjutnya pada Maret tahun ini, bank melakukan transaksi kripto OTC pertamanya.

Goldman Sachs juga mengatakan pada Januari 2022 harga Bitcoin bisa mencapai USD 100 ribu. Pinjaman yang didukung kripto Bitcoin menjadi lebih populer saat ini.

Perusahaan perangkat lunak yang terdaftar di Nasdaq, Amerika Serikat, Microstrategy, baru-baru ini memperoleh pinjaman USD 205 juta dari Silvergate Bank yang didukung oleh kepemilikan Bitcoin perusahaan.

Microstrategy menggunakan pinjaman tersebut untuk membeli Bitcoin tambahan untuk perbendaharaan perusahaannya.


Bank Rusia Menolak Gagasan Pakai Kripto untuk Hindari Sanksi

Ilustrasi Bitcoin. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat
Perbesar
Ilustrasi bitcoin 

Sebelumnya, bank sentral Rusia menganggap tidak mungkin menggunakan cryptocurrency untuk menghindari pembatasan keuangan yang diberlakukan atas konflik militer di Ukraina.

Hal itu menurut pernyataan oleh Deputi Gubernur Pertama bank sentral Rusia, Ksenia Yudaeva, yang dikeluarkan sebagai jawaban atas proposal oleh anggota Duma Negara, majelis rendah parlemen Rusia.

Seorang anggota parlemen dari partai Rusia yang berkuasa, Anton Gorelkin  telah menyarankan perusahaan Rusia dan pengusaha perorangan harus diizinkan untuk melakukan pembayaran dalam mata uang digital, termasuk untuk penyelesaian dengan mitra asing.

Dia berpikir pembentukan infrastruktur kripto nasional Rusia sebagai tanggapan terhadap sanksi yang diperkenalkan oleh Barat tidak dapat dihindari.

Pejabat bank sentral yakin, bagaimanapun, transfer uang dalam jumlah besar dalam cryptocurrency oleh bisnis Rusia tidak akan layak. Dikutip oleh kantor berita RIA Novosti, Yudaeva menunjukkan otoritas pengatur di UE, AS, Inggris, Jepang, dan Singapura telah mulai menerapkan langkah-langkah pencegahan.

"Platform aset digital seperti pertukaran kripto juga mengadopsi pembatasan sebesar penolakan akses ke dana untuk pengguna Rusia,” ujar Gorenklin, dikutip dari Bitcoin.com, Senin, 25 April 2022.

Bahkan di yurisdiksi di mana pembayaran kripto tidak dilarang saat ini, pihak berwenang menetapkan standar yang lebih tinggi untuk penyedia layanan kripto terkait kepatuhan terhadap aturan identifikasi pelanggan.

Bank Sentral Rusia telah menjadi penentang kuat legalisasi cryptocurrency. Pada Januari, otoritas keuangan mengusulkan larangan total pada operasi terkait kripto di negara tersebut. Ia menyatakan mata uang digital terdesentralisasi seperti Bitcoin tidak dapat digunakan dalam pembayaran barang dan jasa.

Dengan sikap garis kerasnya tentang masalah ini, CBR telah menemukan dirinya terisolasi di antara lembaga-lembaga pemerintah di Moskow. Pada Februari, pemerintah federal menyetujui rencana peraturan berdasarkan konsep Kementerian Keuangan yang mengutamakan peraturan di bawah pengawasan ketat, daripada larangan.


Goldman: Bitcoin Jadi Lebih Berkorelasi dengan Produk Pasar Keuangan Tradisional

Ilustrasi Bitcoin. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat
Perbesar
Ilustrasi bitcoin

Sebelumnya, Goldman Sachs menyebutkan koreksi terjadi di pasar kripto menunjukkan adopsi arus utama dapat menjadi "pedang bermata dua”.

Hal itu disampaikan dalam sebuah laporan yang dirilis Kamis, 27 Januari 2022. Sejak November 2021, Goldman Sachs mencatat total kapitalisasi pasar kripto turun sekitar 40 persen. Koreksi kripto yang terjadi dinilai unik karena didorong faktor ekonomi makro hingga perkembangan yang berada di luar pasar digital.

Analis Goldman Sachs yang dipimpin Zach Pandi dalam catatannya menulis, adopsi arus utama dapat meningkatkan valuasi tetapi pada saat yang sama juga akan meningkatkan korelasi dengan variabel pasar keuangan lainnya yang kurangi manfaat diversifikasi dari memegang aset digital.

"Penurunan bitcoin sangat berkorelasi dengan penarikan saham teknologi dengan profitabilitas rendah dan penawaran umum perdana baru-baru ini yang bereaksi negatif terhadap langkah Federal Reserve menuju kenaikan suku bunga,” demikian dari laporan tersebut.

Goldman menyebutkan, bitcoin berada di pusat rotasi baru-baru ini di seluruh kelas aset. Bitcoin berkorelasi positif dengan risiko inflasi dan sektor saham teknologi, dan berkorelasi negatif dengan suku bunga riil dan dolar Amerika Serikat.

Penurunan tajam dalam harga token mengakibatkan likuidasi dan penurunan pinjaman pada platform keuangan terdesentralisasi (DeFi) yang memakai koin sebagai jaminan, seperti dalam sistem keuangan tradisional.

“Pengembangan lebih lanjut dari teknologi blockchain seperti aplikasi metaverse dapat memberikan “pendorong sekuler” untuk aset digital tertentu dari waktu ke waktu, tetapi mereka tidak akan kebal terhadap kekuatan ekonomi makro seperti pengetatan moneter oleh bank sentral,” tulis laporan tersebut.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya