Melihat Perjalanan Harga Bitcoin Bak Roller Coaster

Oleh Gagas Yoga Pratomo pada 26 Jan 2022, 17:48 WIB
Diperbarui 26 Jan 2022, 17:48 WIB
Ilustrasi bitcoin (Foto: Kanchanara/Unsplash)
Perbesar
Ilustrasi bitcoin (Foto: Kanchanara/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin sebagai cryptocurrency dengan kapitalisasi pasar terbesar telah melewati berbagai kenaikan dan penurunan harga di awal tahun ini. Begitupun dengan cryptocurrency lainnya seperti Ether, Binance, Solana, dan Cardano yang juga masih mengalami ombak kenaikan dan penurunan harga. 

Seperti diketahui, Bitcoin dan kripto lainnya merupakan sebuah aset digital yang sangat fluktuatif sehingga bisa naik tinggi dalam jangka waktu cepat dan turun sangat rendah juga secara singkat. 

Maka dari itu, sebagai aset investasi, Bitcoin merupakan investasi dengan high risk dan high return sebab sangat tingginya tingkat fluktuasi dari Bitcoin. 

Bitcoin sempat menembus harga tertingginya sepanjang masa pada November 2021. Saat itu Bitcoin menyentuh harga USD 69.000 atau sekitar Rp 988,9 juta (asumsi kurs Rp 14.333 per dolar AS). 

Bitcoin turun ke harga terendah

Mengawali 2022, harga Bitcoin terus turun hingga mencapai titik harga terendah sejak peningkatan harga tertinggi pada November lalu. Berdasarkan historical data dari Investing.com, per 1 Januari 2022, harga bitcoin berada di level Rp 684 juta. 

Harga tersebut lama-lama semakin menurun yang disebabkan oleh banyak hal mulai dari rencana The Fed yang ingin menaikkan suku bunga 4 kali hingga beberapa kebijakan yang diambil beberapa negara mengenai cryptocurrency. 

Selain itu kerusuhan yang terjadi di Kazakhstan juga berdampak pada kegiatan penambangan kripto di sana yang menjadi salah satu basis penambangan kripto terbesar di dunia setelah banyak penambang yang diusir dari China. 

Adapun belum lama ini, Singapura dan beberapa negara lainnya juga memperketat aturan di negara mereka soal periklanan cryptocurrency. Dilansir dari Yahoo FInance, bahkan Singapura sampai menutup semua ATM kripto yang ada di sana. 

Hingga akhirnya, berdasarkan data dari Investing.com, pada 22 Januari 2022, harga Bitcoin menyentuh harga terendahnya yaitu Rp 509,2 juta. Harga itu hampir 50 persen turun dari harga tertinggi yang pernah dicapai pada November lalu. 

Setelah harga mencapai titik terendah, presiden El Salvador, Nayib Bukele, jor-joran memborong sejumlah Bitcoin untuk dimasukan ke neraca negaranya. 

Dilansir dari CNBC, pada Jumat lalu, presiden itu membuat cuitan melalui akun Twitternya bahwa dia membeli tambahan USD 15 juta atau sekitar Rp 214,9 miliar dari Bitcoin. Harga itu sangat murah, karena pasar kripto sedang anjlok saat itu. Bitcoin turun sekitar 50 persen dari rekor tertinggi November.

 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Harga Bitcoin Kembali Menguat

Ilustrasi Bitcoin. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat
Perbesar
Ilustrasi Bitcoin. Liputan6.com/Mochamad Wahyu Hidayat

Setelah terkoreksi cukup besar hingga menyentuh harga terendah sepanjang masa setelah harga tertinggi pada November 2021, sedikit demi sedikit bitcoin kembali menguat. Bitcoin menunjukkan kenaikan bertahap dalam sepekan terakhir sejak menyentuh titik terendah.

Hingga saat ini, harga bitcoin cenderung lebih stabil. Tekanan jual di pasar kripto global mereda pada Senin 24 Januari 2022, setelah terjadi penurunan besar-besaran pada hampir seluruh token digital minggu lalu. Harga Bitcoin dan beberapa kripto lainnya terlihat lebih stabil.

Data Investing.com menunjukkan setelah mencapai titik terendah, harga bitcoin per 23 Januari 2022 naik ke harga Rp 522,8 juta. Harga tersebut terus naik hingga menyentuh Rp 532,7 pada 25 Januari, meskipun ada sentimen negatif baru dari Rusia yang melarang penambangan Bitcoin di negara tersebut. 

Isu taper tantrum juga turut mempengaruhi kepercayaan investor yang membuat harga Bitcoin menjadi lebih stabil. Meskipun begitu, berdasarkan indeks fear and greed dalam sepekan, tingkat kekhawatiran investor mengalami penurunan 12 poin, dari 24 ke level 12 yang berarti kekhawatiran investor makin besar untuk masuk ke market atau extreme fear.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya