Flores, Pulau Bunga yang Menakjubkan

Oleh Liputan6 pada 07 Des 2013, 08:26 WIB
Diperbarui 07 Des 2013, 08:26 WIB
131203bflores.jpg
Perbesar
Citizen6, Semarang: Sebagai negara yang dijuluki Zamrud Khatulistiwa, Indonesia punya banyak sekali pulau yang indah. Salah satunya adalah Pulau Flores yang terletak di Nusa Tenggara Timur (NTT). Seperti apakah keindahan pulau yang dalam bahasa Portugis berarti bunga ini?

Perjalanan yang Menakjubkan

Untuk bisa sampai ke Flores, kita bisa naik pesawat menuju ke enam bandara yang ada di Flores, yaitu Bandara Komodo di Labuan Bajo, Frans Sales Lega di Ruteng, Soa di Bajawa, H Hasan Aroeboesman di Ende, Frans Seda di Maumere dan Gewayantana di Larantuka. Nah, untuk melintas daratan Flores dari barat ke timur (Labuan Bajo – Ruteng – Bajawa – Ende – Maumere), kita bisa memilih mendarat di Bandara Komodo di Labuan Bajo.

Saran yang paling baik, pilihlah tempat duduk dekat jendela pesawat. Karena begitu mendekati pulau seluas 14,300 km2 ini, pemandangan dari atas udara terlihat sangat menakjubkan. Pulau-pulau kecill dikelilingi oleh lautan biru. Hamparan pepohonan pun tampak seperti permadani hijau. 

Sawah Spider Field

Ada satu kawasan di Pulau Flores yang begitu populer di kalangan wisatawan, yaitu Sawah Spider Field. Sawah yang berada di Cancar, Kabupaten Manggarai (sekitar 3 jam perjalanan dari Labuan Bajo) ini memiliki bentuk yang sangat unik, yaitu mirip jaring laba-laba. Sawah ini bukan sengaja dibentuk agar terlihat lucu, tetapi ini adalah sistem pembagian sawah yang dilakukan oleh ketua adat setempat.

Tradisi pembagian sawah ini telah dilakukan turun-temurun oleh masyarakat Manggarai. Sawah yang terbagi-bagi ini disebut Lingko. Pembagian tanah dilakukan dengan menentukan titik pusat dari tanah adat tersebut, kemudian ditanam kayu khusus di sana. Besar kecilnya tanah ditentukan oleh kedudukan seseorang dalam kampung dan jumlah keluarga. Semakin tinggi kedudukannya semakin besar tanah yang diperoleh.



Jika dilihat dari jarak dekat, penampilannya memang seperti hamparan sawah biasa. Tetapi jika kita berjalan ke arah dataran yang lebih tinggi, maka akan terlihat hamparan sawah hijau kekuningan dengan bentuk mirip jaring laba-laba. Keunikan sawah jaring "Spiderman" ini mampu mempesona siapapun yang berkunjung kesana.
 
Desa Bena, Desa dari Masa Lalu

Puas bermain-main di sawah, kita lanjutkan perjalanan ke kota Banjawa yang terletak 8 jam dari Manggarai. Nah, sekitar 18 km dari kota Bajawa, terdapat sebuah desa bernama Desa Bena. Ini adalah salah satu desa tradisional Flores yang masih meninggalkan jejak – jejak budaya Megalithikum. Sentuhan tradisional langsung terlihat begitu memasuki kawasan ini. Atap rumah yang terbuat dari rumbia-ijuk dan dinding kayu, serta peninggalan-peninggalan zaman batu membuat kita seolah memasuki zaman "Flinstone".



Susunan rumahnya melingkar membentuk huruf U, dan setiap rumah memiliki hiasan yang berbeda-beda di atapnya. Atap rumah dengan boneka kecil berarti milik keluarga garis keturunan laki-laki, dan atap rumah dengan miniatur rumah kecil adalah untuk keluarga garis keturunan perempuan. Mata pencaharian utama warga desa ini adalah berladang. Karena lokasinya yang dikelilingi gunung, suasana desa ini sangat sejuk dan tenang.
 
Wajah Bunglon Danau Kelimutu

Setelah berkeliling desa Bena, rencana selanjutnya adalah menuju desa Moni yang jaraknya 5 jam dari Bajawa. Dari desa ini kita bisa naik ke puncak gunung Kalimutu untuk melihat sunrise. Di gunung setinggi 1.639 meter ini kita juga bisa melihat Danau Tiga Warns, ysitu 3 buah danau kawah dengan tiga warna berbeda. Danau Kelimutu berada di puncak gunung Kelimutu, bisa dicapai dengan trekking selama 1 jam. Perjalanan menuju puncak gunung cukup nyaman karena jalan setapak yang tersedia sudah sangat rapi.

Di bulan April (2013) lalu, warna dnau Kelimutu ini adalah hijau, coklat dan coklat kehitaman. Menurut para pemandu, setiap danau memiliki warna dan arti masing-masing dan terus berubah seiring waktu. Masyarakat sekitar percaya bahwa danau ini merupakan tempat bersemayamnya roh-roh dan memiliki kekuatan alam yang dahsyat. Secara ilmiah, perubahan warna danau Kelimutu disebabkan oleh kandungan mineral, lumut dan batu-batuan di dalam kawah dan juga pengaruh cahaya matahari.

Menurut para pemandu momen terbaik untuk berkunjung adalah bulan Juli dan Agustus karena warna danau terlihat lebih cerah. Di sekitar danau ini juga sering diadakan event di bulan Agustus dengan menampilkan pertunjukan seni budaya serta pameran yang berlatar keindahan danau Kelimutu. Selain danaunya yang menakjubkan, pemandangan gunung Kelimutu juga sangat indah, terutama di pagi hari. Matahari yang baru terbit menyajikan warna keemasan dipadu dengan kabut yang mulai menipis. Luar biasa! (Rachel Deadra/mar)

Rachel Deadra, mahasiswi Universitas Diponegoro jurusan Komunikasi 2013 yang juga pewarta warga.

Disclaimer

Citizen6 adalah media publik untuk warga. Artikel di Citizen6 merupakan opini pribadi dan tidak boleh menyinggung SARA. Isi artikel menjadi tanggung jawab si penulisnya.

Anda juga bisa mengirimkan artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas atau opini Anda tentang politik, kesehatan, keuangan, wisata, social media dan lainnya ke Citizen6@liputan6.com.

Mulai 3 Desember sampai 13 desember 2013 Citizen6 mengadakan program menulis bertopik dengan "Terima Kasihku untuk 2013". Ada kado akhir tahun dari Liputan6.com dan Dyslexis Cloth bagi 6 artikel terpilih. Syarat dan ketentuan bisa disimak di sini.

Anda juga bisa mengirimkan artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas atau opini Anda tentang politik, kesehatan, keuangan, wisata, social media dan lainnya ke Citizen6@liputan6.com